LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
WANITA 200 JUTA


__ADS_3

ZION



Zion menjauhkan bibirnya dari bibir Luna, sebenarnya ia bisa melakukan lebih dari sekadar ciuman jika ia mau, tetapi ia tidak ingin merusak hubungan pertemanannya dengan Luna. Apalagi ia tahu jika Luna menerima ciuman darinya bukan karena Luna menyukainya, Luna hanya sedang kehilangan pijakan di dalam hidup. Wanita itu sedang goyah hingga akal sehatnya tidak berfungsi dengan baik.


Luna membuka mata yang sejak tadi ia tutup agar dapat lebih menikmati setiap sentuhan Zion, jarak mereka masih begitu dekat, hidung keduanya bahkan masih saling menempel, membuat Luna ingin meraup wajah tampan Zion agar pria itu kembali menciumnya. Ia tidak menyangka jika bibir Zion terasa begitu nikmat dan memabukkan.


"Kenapa berhenti?" tanya Luna. Tangannya masih berada di pinggang Zion dan memeluk pria itu dengan erat.


Zion tersenyum, mengecup singkat bibir Luna sebelum ia bangkit berdiri dan menjauh dari wanita itu. "Pikiranmu sedang kacau, 'Kan? Jika tidak, mana mungkin kamu menciumku."


Luna mengerjap bingung. "Tidak. Pikiranku sedang tidak kacau, aku baik-baik saja sekarang."


Zion mengambil handuk dari keranjang yang ada di samping lemari pakaian, lalu melemparkan handuk itu ke Luna. "Cuci mukamu agar akal sehatmu kembali. Aku akan menciummu lain kali jika kamu sedang dalam keadaan normal, dan aku akan melakukan yang lebih jika kamu mulai mencintaiku."


Luna menghela napas, lalu bangkit dari ranjang dan berjalan dengan gontai ke kamar mandi. "Baiklah, maafkan aku. Aku mandi dulu kalau begitu."


LUNA 👇



Sepeninggalan Luna, Zion mengumpat. Ia kesal pada dirinya sendiri yang bersikap sok peduli pada perasaan dan kehormatan Luna. Padahal ia bisa mengambil kesempatan untuk mencicipi tubuh wanita itu barang semalam saja, toh Luna juga terlihat sangat jelas menginginkannya. Luna jelas sekali tidak ingin menghentikan ciuman mereka, Luna juga terlihat sangat jelas tidak keberatan jikalau mereka bercinta saat itu juga.


Akan tetapi, hati nurani Zion menolak. Luna memang wanita panggilan, Luna pelacur, tapi Luna adalah temannya, teman yang istimewa. Ia tidak ingin hubungannya dengan Luna menjadi canggung hanya karena masalah perasaan yang tidak jelas.


Setelah puas mengumpat, Zion akhirnya memilih keluar dari kamar dan kembali ke bar untuk mengambil beberapa potong roti dan minuman dingin. Ia tahu jika Luna pastilah belum makan malam.


***


Seorang pria berwajah tampan dan berpenampilan rapi berdiri di depan meja yang penuh dengan berbagai macam minuman keras. Pria itu adalah Arjuna, Wisnu dan Rayan. Seorang bos dari perusahan besar dan dua asisten pribadinya.


Wisnu terlihat tidak terlalu suka berada di bar, berbeda dengan Rayan yang sejak tadi menebar senyum pada setiap wanita yang mencoba untuk menggodanya. Sedangkan Arjuna, wajah juteknya membuat para wanita enggan untuk mendekatinya, padahal ialah bintang saat ini. Tidak ada yang tidak memperhatikannya. Namun, Arjuna terlihat tidak peduli, ia mengedarkan pandangan ke sana dan kemari, mencari seorang wanita yang beberapa minggu lalu ia lihat berjalan dengan wajah yang penuh luka.

__ADS_1


"Pak, sudah dua minggu lewat dari waktu itu. Aku yakin wanita itu baik-baik saja. Kalau pun tidak, mungkin dia sudah meninggal dan sudah tenang di alam sana. Untuk apa Anda mencarinya lagi, Pak?" tanya Wisnu.


Arjuna mendelik kesal ke arah Wisnu yang merengek bagai anak kecil. "Kamu menyumpahinya mati?" tanya Arjuna.


ARJUNA 👇



"Bukan, Pak, bukan begitu. Aku hanya ingin agar Anda berpikir realistis. Untuk apa kita mencari seseorang yang kita tidak tahu keberadaannya, namanya, asal-usulnya, dan dia itu siapa di sini, entah apakah dia masih hidup atau dia sudah mati, dia pelacur atau pengunjung, kita kan tidak tahu."


Rayan berdecak. "Seharusnya kita tidak bawa dia tadi, Pak. Dia itu cerewet sekali."


"Kalau kita tidak bawa dia, bisa-bisa dia mengadu pada istriku."


Wisnu menatap Arjuna dan Rayan dengan mata melotot, lalu ia mengibaskan tangan di depan wajah. "Tidak, Pak, aku tidak mungkin mengadu pada istri Anda. Bisa-bisa Bu Anye akan menerkamku saat itu juga karena aku tidak menahan Anda."


Rayan tertawa, sementara Arjuna tersenyum mendengar ucapan Wisnu. Wisnu memang merupakan asisten yang dipekerjakan oleh Anyelir untuk membantu tugas Arjuna di kantor. Padahal Arjuna saat itu telah memiliki Rayan sebagai asistennya. Baru belakangan Arjuna tahu bahwa Anyelir ingin mengawasi setiap gerak-geriknya, itulah kenapa Anyelir mengirim Wisnu untuk menjadi asisten Arjuna.


Miss, Rana, merapikan dress ketat yang ia kenakan, saking ketatnya, kedua pay_udara Miss. Rana yang telah disuntik agar ukurannya lebih besar dari yang semestinya sampai menyembul ke bagian atas dress yang berleher rendah, sehingga menimbulkan kesan seksi yang menggoda.


Miss. Rana lalu melangkah menghampiri Arjuna, ia berdeham saat tiba di hadapan pria itu. "Selamat malam, Tuan-tuan tampan, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Miss, sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit


Arjuna hanya melirik Miss sekilas, lalu kembali mengedarkan pandangan ke segala arah.


Miss. Rana terlihat sedikit kesal akan sikap Arjuna yang tidak peduli padanya. Ia berdeham sekali lagi kemudian berkata, "Jika Anda sedang mencari seseorang, katakan saja padaku. Aku Rana, aku pemilik Rumah Merah. Aku bisa menemukan apa pun dan siapa pun yang Anda cari dengan mudah, Tuan."


Mendengar apa yang Miss. Rana katakan, Arjuna langsung menatap wanita itu dengan tatapan penuh harap. Ia tidak menyangka jika ia sekarang sedang berbicara dengan pemilik tempat pelacuran dan judi terbesar di kota itu. "Aku mencari wanita yang beberapa minggu lalu keluar dari kamar itu dengan mengenakan jubah mandi."


Miss. Rana melambaikan tangan ke salah satu penjaga yang berdiri ditengah ruangan untuk mengawasi lantai dansa. Penjaga itu segera menghampiri Miss dan membungkuk hormat pada Miss. Rana.


"Ya, Miss, apa yang harus kulakukan?" tanya pria bertubuh besar itu.


"Minggu lalu, atau minggu lalunya lagi kamu bertugas di sini bukan, Boy?" tanya Miss. Rana.

__ADS_1


"Ya, Miss. Aku selalu berjaga di ruangan ini." Pria bernama Boy itu menjawab dengan tegas.


Miss. Rana tersenyum. "Bagus. Katakan padaku, dalam minggu ini apakah ada pekerjaan kita yang keluar dari kamar sana dengan menggunakan jubah mandi?"


Boy terlihat berpikir sejenak sembari menggaruk kepalanya yang botak. "Sepuluh hari lalu hanya si pembangkang itu yang keluar dari sana. Saat itu juga dia mengenakan jubah mandi setelah melayani Tuan Bimo."


Si Pembangkang adalah sebutan yang sering para pengawal sematkan untuk Luna.


"Wajahnya penuh dengan luka. Aku melihatnya sendiri, dia berjalan sembari berusaha menutupi wajahnya yang berdarah." Arjuna menimpali.


Boy tertawa. "Ya, beberapa pelanggan memang suka menyiksa para pelacur sambil bercinta. Aku rasa ada sensasi tersendiri yang membuat mereka ketagihan, Tuan."


Wajah Arjuna mengeras. Ia tidak sependapat dengan apa yang Boy ucapkan. Melakukan kekerasan pada wanita adalah suatu tindak kejahatan yang tidak bisa dimaafkan, apalagi sampai menyebabkan luka yang begitu banyak di wajah si wanita.


"Aku ingin bertemu dengannya. Berapa yang harus kubayar?" Arjuna mengeluarkan cek kosong dari dalam tas yang sejak tadi dibawa oleh Rayan.


Miss. Rana tersenyum puas. Luna memang sangat luar biasa, hampir semua pria kaya takluk pada wajah wanita itu.


"Dia yang termahal di sini. Dua ratus juta semalam, bagaimana?" tanya Miss. Rana.


Arjuna melirik cek yang sejak tadi ia letakkan di atas meja. "Isilah sendiri sesuka Anda."


Miss. Rana meraih cek kosong itu dan menyelipkan cek tersebut di antara kedua pay_udaranya. "Boy, persiapkan Luna. Katakan padanya untuk menemuiku sekarang."


Boy mengangguk, kemudian ia segera berlalu dari hadapan Miss. Rana.


Akan tetapi, Arjuna terlihat kebingungan. Ia seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi ia lupa di mana nama itu pernah terdengar oleh telinganya.


"Luna, Luna, Luna ... namanya Luna?" tanya Arjuna.


"Ya, Tuan, namanya Luna. Wanita dua ratus juta di tempat ini."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2