LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
WANITA YANG SEMENTARA SINGGAH


__ADS_3

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Anyelir saat ini selain kenyataan bahwa Zion ada di sisinya di saat suaminya sendiri berpaling dan lebih memilih Luna. Tubuhnya masih berkeringat dan luar biasa merasa puas setelah ber_cinta dengan Zion. Zion sangat pengertian, selain dapat membuatnya puas, Zion juga memperlakukannya dengan begitu lembut. Tidak seperti Arjuna yang akan langsung pergi begitu saja setelah mendapat kepuasan saat mereka ber_cinta.


Anyelir membelai dada Zion yang telan_jang dan mendaratkan beberapa kali kecupan di sana, kemudian ia berkata, "Arjuna lebih memilih Luna," ujar Anyelir.


Zion mengerutkan dahi. "Maksudmu?" Izin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Anyelir karena tiba-tiba saja Anyelir membahas tentang Luna di tengah kebersamaan mereka.


Anyelir menghela napas, lalu duduk tegak di samping Zion yang masih berbaring. "Kami tadi bertengkar karena sesuatu hal. Bukannya membelaku, Arjuna malah memintaku untuk menyingkir dari hadapannya dan menghabiskan waktu berdua dengan si pelacur!"


Zion terkejut mendengar apa yang Anyelir katakan. "Pelacur," ujarnya.


"Iya, pelacur. Aku tahu kalau kamu pasti mengetahui apa pekerjaan Luna sebelum dia datang ke rumahku dan menjadi istri kedua suamiku. Tidak mungkin kamu tidak tahu karena kamu berteman dengannya."


Zion diam saja untuk sejenak, lalu ia bertanya pada Anyelir, "Siapa yang mengatakannya padamu?"


"Luna sendiri. Dia mengaku bahwa dia adalah seorang pelacur." Anyelir kemudian menegakkan duduknya lalu kembali berkata, "Andai saja aku tahu jika dia adalah seorang pelacur, aku tidak akan memintanya untuk mengandung anak suamiku. Sangat tidak masuk akal jika keluarga baik-baik seperti kami harus membesarkan anak yang lahir dari rahim seorang pelacur."


Zion mendadak bangkit berdiri dan segera mengenakan pakaiannya. Baginya apa yang telah Anyelir ucapkan sudah sangat keterlaluan. Ia tidak suka jika ada orang yang membicarakan Luna seperti itu, apalagi sampai mengatai Luna dengan kata-kata buruk setelah pengorbanan yang Luna lakukan.


Melihat apa yang Zion lakukan, Anyelir pun menjadi bingung. Ia bangkit berdiri lalu menyentuh wajah Zion, "Ada apa?" tanya Anyelir.


Zion menyingkirkan tangan Anyelir dari wajahnya dan berkata, "Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak suka mendengar penilaianmu tentang Luna. Apa pun masa lalu Luna, kamu tidak berhak menilainya demikian, Nye. Kamu tidak tahu betapa sulitnya hidup yang Luna jalani. Dan apa masalahnya jika kamu merawat bayi yang lahir dari rahim Luna? Luna tetap seorang ibu terlepas dari masa lalunya, dan aku rasa seorang ibu tidak pantas untuk mendapatkan sebuah penghinaan."


Anyelir menelan Saliva, ia tidak menyangka jika Zion marah padanya hanya karena perkataan buruknya tentang Luna.


"Apa yang aku katakan tidak salah, 'kan? Luna memang seorang pelacur, Zi, dan dia itu--"


"Sudahlah, Nye, aku sungguh tidak ingin membahasnya denganmu saat ini. Aku hanya ingin bilang, jika bayi Luna tidak cukup baik bagimu, biar aku dan Luna yang merawat bayi itu. Kami tidak butuh apa pun darimu maupun dari suamimu." Setelah mengatakan itu, Zion langsung keluar dari dalam kamar hotel dan meninggalkan Anyelir seorang diri dalam keadaan sakit hati dan kecewa.


***

__ADS_1


Luna menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Arjuna. Usaha Arjuna untuk menenangkan Luna sia-sia saja, karena Luna bersikeras untuk pergi dari rumah dan memaksa agar Arjuna ikut serta dengannya. Namun, Arjuna tidak ingin jika Luna pergi ke mana punpun karena ia tidak mungkin pergi ke mana pun.


"Kamu tidak mencintaiku, itulah sebabnya kamu tidak ingin ikut denganku. Oke, kalau itu memang maumu, biar aku saja yang pergi," ujar Luna, setelah untuk kesekian kalinya Arjuna mengatakan kalau mereka tidak harus pergi dari sana.


Arjuna meremas telapak tangan Luna dan berkata, "Jangan, Luna. Aku mohon jangan keras kepala. Pikirkanlah dengan kepala dingin. Aku tidak mungkin pergi dari sini. Banyak tanggung jawab yang aku pikul, bukannya aku tidak ingin pergi denganmu, sama sekali bukan. Aku hanya tidak bisa pergi, karena aku bertanggung jawab pada perusahaan dan lainnya."


Luna tidak puas dengan jawaban Arjuna, karena alasan Arjuna hanya tentang perusahaan. Tidak sekali pun Arjuna mengatakan bahwa Arjuna mencintainya.


"Jadi hanya tentang perusahaan?" tanya Luna.


Arjuna menghela napas. "Bukan hanya itu, tapi aku juga harus menjaga perasaan kedua orang tuaku."


"Lalu?"


"Anyelir dan orang tua Anyelir."


Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghampiri Luna yang sekarang sedang sibuk menarik kopernya dari sudut ruangan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arjuna.


"Bersiap pergi. Aku akan kembali dan menyerahkan bayimu setelah bayi ini lahir."


"Tapi, Lun--"


Luna mengangkat tangan di udara, meminta Arjuna untuk berhenti bicara. "Keinginanku sederhana, tapi kamu pun tidak bisa menuruti keinginanku, maka jangan bicara lagi. Aku tidak butuh sebuah kata-kata, Arjuna."


Setelah mengatakan itu, Luna lantas segera keluar dari dalam kamar sembari mendorong koper yang penuh terisi pakaian. Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan Anyelir dan juga Arjuna, karena Anyelir telah menghina bayinya, dan karena Arjuna tidak ingin ikut dengannya.


***

__ADS_1


Sebuah keberuntungan akan menghampiri orang yang tepat, dan keberuntungan itu saat ini sedang menghampiri Bimo. Baru saja ia menghentikan mobilnya tepat di seberang jalan kediaman Arjuna, di saat bersamaan ia melihat Luna keluar dari pagar rumah besar itu sambil menyeret koper.


Bimo yang sudah sangat mendambakan Luna tidak mau membuang kesempatan, apalagi saat ia menyadari bahwa Luna sedang menangis saat itu.


Dengan sigap Bimo turun dari dalam mobil dan menyeberangi jalan untuk menghampiri Luna yang terlihat pucat dan kelelahan.


"Lun," ujar Bimo, begitu ia tiba di hadapan Luna.


Luna terkejut begitu melihat kehadiran Bimo di hadapannya. Jujur saja sebenarnya ia mengharapkan Zion datang dengan tiba-tiba dan secara ajaib membawanya pergi dari rumah Anyelir, bukannya Bimo. Namun, meskipun terkejut, Luna tidak berusaha untuk melarikan diri. tubuhnya sudah begitu lemah dan perutnya nyeri, mana bisa ia melawan Bimo saat ini.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu akan pergi?" tanya Bimo, sambil memindai penampilan Luna, dan tatapannya kemudian terpaku pada perut buncit Luna yang malah semakin membuatnya tergiur.


Luna mengangguk. "Ya. Aku permisi." Luna mengambil jalan di samping Bimo, kemudian melanjutkan langkah.


Bimo menghalangi jalan Luna. "Mau ke mana kamu? Kamu tidak punya tempat tujuan, Luna, ikutlah denganku."


"Tidak."


"Jangan egois. Pikirkan bayimu," ujar Bimo. "Tidak mungkin kamu kembali ke Rumah Merah dalam keadaan sedang mengandung, 'kan?"


"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagi pula, aku sama sekali tidak ingin ikut dengan orang jahat sepertimu!" desis Luna.


"Aku memang kejam, Luna, aku tahu itu. Tapi, aku masih punya harga diri, mana mungkin aku menyakiti seorang wanita hamil. Ikutlah denganku sementara sampai kamu bisa memutuskan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya."


Luna diam sejenak, sesekali ia menatap ke pagar rumah Anyelir yang masih terbuka lebar. Ia berharap Arjuna keluar dari sana dan membujuknya, menahan kepergiannya. Namun, karena Arjuna sepertinya tidak akan melakukan hal itu, maka Luna pun mengangguk setuju. "Baiklah," ujar Lun, pada Bimo.


Bimo tersenyum puas, antara percaya dan tidak saat Luna mengatakan setuju untuk ikut dengannya. Namun, ia berusaha menyembunyikan kegirangannya itu dan seger meraih koper Luna dari tangan Luna dan menuntun Luna untuk menuju mobilnya yang berada di seberang jalan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2