
Luna kembali ke kantor dengan tangan yang penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman pesanan rekan kerjanya. Ia membawa semua barang itu dengan susah payah, tetapi tidak ada keluhan sedikit pun yang keluar dari bibirnya. Ia bahkan mengesampingkan kesedihan yang menyelimuti dada karena kepergian sang ibu yang begitu mendadak. Toh kesibukan yang ia lakukan di kantor dapat membuat pikirannya teralihkan, hingga ia tidak terus-terusan merasa sedih dan terpuruk.
"Aku kembali," ujar Luna, sembari mendorong pintu menggunakan kakinya. Kemudian ia sibuk membagi makanan sesuai pesanan.
"Lun, jangan lupa nanti tolong antarkan pakaianku yang ada di loker ke tukang laundry, ya," ujar Windi, ketika Luna baru saja meletakkan pesanan wanita itu di atas meja.
Luna mengangguk. "Siap."
"Aku juga, Lun, tolong nanti saat jam istirahat ambilkan pakaianku di tukang laundry. "Siska menimpali."
Luna kembali mengangguk. Setelah beberapa saat melakukan ini dan itu, Luna akhirnya dapat beristirahat. Ia duduk di kursi kerjanya sembari merentangkan kedua tangan. "Ah, leganya," gumamnya.
Pekerjaan Luna memang bukan pekerjaan sulit yang membutuhkan banyak keahlian, cukup memiliki tubuh sehat dan kuat, juga gesit, itu semua sudah cukup. Apalagi rekan kerja Luna termasuk orang-orang yang memang suka memerintah dan menikmati saat perintah mereka dikerjakan dengan baik. Maka tidak heran, jika pekerjaan Luna begitu menumpuk terutama di jam-jam Coffetime dan makan siang.
Baru saja Luna meregangkan tubuhnya, tiba-tiba saja suara gaduh di ruangan Anyelir membuat Luna dan rekan kerjanya terkejut.
Luna yang memiliki hubungan lumayan baik dengan Anyelir, langsung berlari ke ruangan wanita itu untuk memeriksa apa yang terjadi, dan berapa terkejutnya Luna saat ia melihat Anyelir tersungkur di lantai.
"Bu, astaga, Bu, apa yang terjadi?" Luna menghampiri Anyelir dan berlutut di samping wanita itu, lalu membantu Anyelir untuk duduk.
Anyelir meringis. "Aku tersandung," ujar Anyelir, sambil menunjuk ujung permadani yang terpasang tepat di bawah sofa dan meja tamu. Ujung permadani itu terlipat hingga dapat membuat siapa pun tersandung jika tidak hati-hati.
Setelah membantu Anyelir untuk duduk di sofa, Luna segera berlari ke luar ruangan, mengambil lakban dan gunting dari laci meja kerjanya dan kembali ke ruang kerja Anyelir.
"Apa yang akan kamu lakukan, Lun?" tanya Anyelir, saat dilihatnya Luna menempel ujung permadani itu ke lantai dengan lakban.
"Taraaa, aku memperbaikinya." Luna tersenyum riang, merasa bangga akan apa yang telah dilakukannya. Namun, Anyelir malah menggelengkan kepala dengan wajah cemberut.
"Kamu merusak pemandangan saja," komentar Anyelir.
"Ck, daripada Anda yang terjatuh, lebih baik aku merusaknya sedikit."
"Ya, benar juga, sih." Anyelir memijat kakinya, lalu ia bertanya pada Luna, "Dari mana saja kamu, Lun? Coba kamu hitung, sudah berapa hari kamu tidak masuk kerja. Apa kamu ingin dipecat?"
Luna menggeleng. "Maafkan aku, Bu, ada sesuatu yang membuat aku tidak dapat ke kantor selama beberapa hari ini. Jika gajihku akan dipotong aku sama sekali tidak masalah, yang penting aku jangan sampai dipecat. lKantor adalah kehidupan normal satu-satunya yang kumiliki."
Anyelir mendesah dan bersandar pada sandraan sofa sembari memperhatikan Luna yang saat ini sedang memijat kakinya. Sejak pertama kali mempekerjakan Luna di kantornya, Anyelir sangat penasaran dengan latar belakang Luna, tetapi Luna tidak pernah menceritakan sedikit pun tentang kehidupannya, bahkan bisa dikatakan Luna menutupi segalanya. Jika bukan karena Anyelir merasa berutang budi pada Luna, mana mungkin Luna dapat bekerja di kantornya sekarang tanpa surat lamaran dan CV.
__ADS_1
Drrtt, drrtt, drrtt.
Ponsel Anyelir yang tergeletak di atas meja kerja berdering. Luna segera bangkit berdiri dan meraih ponsel itu lalu memberikannya pada Anyelir.
"Trims, Lun," ujar Anyelir, lalu menerima telepon yang ternyata dari sang suami.
"Halo, Anye, bisakah aku minta tolong padamu. Ada beberapa berkas yang tertinggal di rumah. Aku sudah mencarinya di mana-mana, bahkan di lemari juga, tapi aku tidak menemukan berkas itu di mana pun. Apa kamu melihatnya. Jika, ya, tolong ingat-ingat kembali." Suara Arjuna terdengar dari seberang panggilan; formal, tegas, berat, dan panjang lebar. Seolah Arjuna sedang bicara pada orang lain, bukan pada istrinya.
Anyelir menghela napas, kemudian ia berkata. "Berkas itu terbawa olehku. Aku pikir milikku, ternyata milikmu. Ambilah di kantorku--"
"Tidak bisakah kamu mengirim seseorang untuk mengantarkannya padaku. Aku sedang buru-buru, maafkan aku." Arjuna kembali berkata.
"Baiklah, aku akan mengirim anak buahku ke sana. Sekalian untuk menjembut Kevin, hari ini sekolah Kevin pulang lebih awal."
"Baiklah, Anye, trims kalau begitu dan sampai jumpa di rumah nanti malam." Arjuna memutus panggilan.
Anyelir meletakkan ponselnya di atas sofa, lalu menatap Luna dengan tatapan penuh arti.
Luna yang paham akan maksud tatapan itu hanya bisa pasrah, walaupun menjemput Kevin bukan bagian dari tugasnya, tetap saja ia lakukan, toh ia mendapatkan gajih atas semua yang ia lakukan di kantor, termasuk menjemput dan mengurusi anak atasannya, Kevin Junior Evan.
***
Awalnya Luna enggan untuk turun dari taksi dan berlarian di jalanan. Tentu saja ia enggan, selain debu yang begitu mengganggu pernapasannya--Luna memang alergi pada dwbu--sinar matahari juga begitu terik. Bisa-bisa ia pingsan karena kelelahan, terlebih lagi ia belum makan sejak pagi, dan semalam ia kurang tidur karena sibuk menangisi kenangan tentang ibunya yang terus muncul di dalam kepala.
Akan tetapi, ponselnya yang terus berdering membuatnya mau tidak mau harus turun dari taksi dan membiarkan tubuhnya kepanasan.
"Halo, kamu sudah di mana sekarang?" tanya Arjuna, yang sejak tadi terus menelepon Luna setelah mendapatkan nomor wanita itu dari sang istri.
Luna mengentakan kaki di aspal dengan kesal. "Sebentar lagi aku sampai, Pak. Jalanan sangat macet dan aku terpaksa harus--"
"Cepatlah, lima menit lagi rapat akan segera dimulai." Arjuna mematikan sambungan telepon.
Luna merasa sangat panik, ia memang tidak bisa didesak. Luna seketika akan menjadi panik jika ia berada di bawah tekanan. Maka tidak heran jika wanita itu segera menambah kecepatan larinya. Ia bahkan tidak peduli pada keselamatannya saat ia menyeberang tanpa memperhatikan kendaraan yang melintas dan ....
Ciiiit!
Suara decit ban dari sebuah kendaraan roda dua memekakan telinga. Disusul suara makian dari si pengendara yang ditujukan untuk Luna.
__ADS_1
"Di mana matamu, hah? Kamu sengaja menyeberang saat aku sedang melintas, supaya kamu bisa meminta ganti rugi padaku, benar?" teriak pria berkacamata yang sekarang tengah memelototi Luna.
Luna tidak peduli pada makian pria itu. Ia segera bangkit berdiri dengan susah payah dan meminta maaf, kemudian melanjutkan langkahnya yang terpincang-pincang.
Melihat Luna pergi begitu saja dengan kaki dan tangan yang terluka, membuat si pengendara motor merasa bersalah. "Hai, Nona, mari kuobati kaki dan tanganmu terlebih dahulu!"
Luna berbalik dan melambai. "Tidak usah, terima kasih dan maaf."
***
Arjuna Even mondar-mandir di lobi kantornya. Sesekali ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya sembari mengomel.
"Dua menit lagi. Astaga, di mana wanita itu?!" keluh Arjuna, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tunggulah sebentar lagi, Pak." Rayan, asisten Arjuna berusaha untuk menenangkan Arjuna yang terlihat begitu panik dan kesal.
"Tidak bisa. Kita sudah menunggu sejak tadi, seharusnya dia sudah tiba sekarang." Arjuna mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya dan kembali melakukan panggilan.
"Halo." Suara terengah-engah Luna menjawab pada dering pertama. "Aku sudah tiba di lobi, Pak, Anda di mana?"
Arjuna segera mengalihkan pandangan ke pintu masuk, dan ia mendapati Luna di sana, sedang berdiri bingung dengan tubuh berkeringat dan celana jins yang sobek pada bagian lutut, bahkan terlihat darah merembes dari balik celana wanita itu.
"Aku di sini," ujar Arjuna.
Luna mengedarkan pandangan. Tidak banyak orang di lobi, hingga ia langsung bisa menebak yang mana Arjuna, terlebih lagi ia melihat Arjuna yang menatapnya sembari memegang ponsel.
Luna memutuskan panggilan dan melangkah dengan terpincang-pincang menghampiri Arjuna. Rambut panjangnya yang tergerai terlihat berantakan dan menempel di sekitar leher dan wajah karena keringat.
"Ini berkasnya, Pak, terima kasih kembali dan aku permisi. Selamat tinggal!" ujar Luna dengan tajam begitu ia tiba di hadapan Arjuna. Luna tahu seharusnya ia tidak boleh bersikap begitu kasar dan dingin pada Arjuna, tetapi sikap tidak sabar Arjuna membuatnya kesal.
"Istirahatlah dulu, asistenku akan mengantarkanmu dan--"
Buk!
"Pak, dia pingsan," pekik Rayan.
Bersambung.
__ADS_1