
Anyelir mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi begitu Maria pergi dari rumahnya. Anyelir tidak peduli walaupun hari sudah malam. Ia tetap mengendarai mobilnya membelah gelapnya malam menuju villa di mana Arjuna dan juga Luna berada.
Di dalam perjalanan, Anyelir pun terus mencoba untuk menghubungi ponsel Luna dan Arjuna, meskipun setelah puluhan kali keduanya tidak kunjung menerima panggilan yang Anyelir lakukan.
setelah menempuh perjalanan hampir dua jam lamanya, akhirnya Luna tiba di villa. Ia menekan bel berkali-kali, dan sesekali menendang pintu agar terbuka, karena telepon rumah yang terpasang di villa pun tidak dapat dihubungi.
Setelah beberapa saat akhirnya pintu terbuka. Seorang pelayanan yang masih mengenakan celemek terlihat terkejut akan kedatangan Anyelir.
"Nyonya."
"Kenapa telepon tidak bisa aku hubungi, hah?" tanya Anyelir sembari masuk ke dalam rumah dan terus melangkah hingga ke meja telepon untuk memeriksa apa ada kerusakan pada telepon tersebut.
Dahi Anyelir mengernyit begitu melihat bahwa kabel pada telepon tidak terpasang. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Anyelir pada pelayan yang sejak tadi berdiri di hadapannya.
"Tuan, Nyonya, Tuan Juna yang mencabut kabel itu," jawab si pelayan yang terlihat ketakutan.
"Arjuna, tapi kenapa?" Anyelir terlihat bingung. "Sekarang di mana Arjuna?"
"Tuan di kamar dengan istrinya."
Anyelir tidak tahu harus menanggapi seperti apa pernyataan pelayan yang ada di hadapannya. Mendengar si pelayan mengatakan jika Arjuna bersama dengan Luna di dalam kamar nyatanya mampu membuat dada Anyelir merasa sedikit perih.
Akan tetapi, Anyelir buru-buru menyingkirkan perasaan perih itu dari dalam dadanya, toh pernikahan antara Arjuna juga Luna tidak akan pernah terjadi jika bukan karena desakan darinya. Ialah tokoh utama yang membuat suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Hingga rasanya akan sangat keterlaluan sekali jika dirinya merasa cemburu.
Anyelir mengatur napas, kemudian segera melangkah menuju kamarnya sendiri untuk menunggu kegiatan Arjuna dan Luna selesai. Ia tiba-tiba saja merindukan sosok Arjuna, dan ia ingin Arjuna ada di sampingnya malam ini.
***
Di dalam kamar yang selama satu minggu lebih ini telah menjadi kamar tidur Luna. Arjuna dan Luna berbaring bersisian di atas ranjang. Tubuh keduanya berbalut selimut tebal yang terasa lembut di kulit mereka yang tidak mengenakan sehelai benang pun.
Sejak tadi tangan Arjuna tidak henti-hentinya membelai wajah Luna, sesekali turun ke pipi, kemudian ke leher dan bergerak lebih ke bawah hingga Luna gemetar karena merasakan balaian lembut itu di beberapa titik sensitifnya.
Beberapa saat yang lalu, setelah mereka menghabiskan waktu di halaman samping villa, Arjuna menuntun Luna ke kamar, dan untuk pertama kalinya Luna dan Arjuna menjalani malam pengantin mereka yang begitu mengga_irahkan. Bahkan setelah mereka selesai, Arjuna enggan melepaskan tubuh Luna dari pelukannya. Arjuna sendiri merasa bingung, karena saat melakukannya dengan Luna ia merasa lebih berga_irah dibandingkan saat ia melakukannya dengan Anyelir.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Arjuna, sekarang tangan pria itu membelai helai demi helai rambut panjang Luna.
__ADS_1
"Entahlah."
"Apa kamu tidak merasa senang melakukannya denganku? Kamu tidak menikmatinya?" Arjuna kembali bertanya.
Kedua pipi Luna merona. "Haruskan Anda menanyakan semua itu secara gamblang padaku? Padahal Anda tahu aku menikmatinya atau tidak."
Arjuna tertawa. "Aku tahu kalau kamu menikmatinya. Kamu mendesah terus sejak tadi. Aku hanya ingin mendengar langsung dari bibirmu." Arjuna mendaratkan kecupan di bibir Luna. "Mari lakukan lagi," bisik Arjuna.
Luna menatap langsung ke dalam mata Arjuna yang membara. "Bukankah kita baru saja melakukannya."
"Entahlah, Luna, tapi aku merasa ... bagaimana mengatakannya, ya? Pokoknya aku ingin terus melakukannya denganmu saat ini. Kehadiranmu kuakui sangat memengaruhiku. Aku merasa seperti menjadi pengantin baru sungguhan. Seolah pernikahan ini adalah pernikahan pertamaku dan malam ini adalah malam pertama yang pertama kali kulakukan."
Luna tertawa. "Aku tidak tahu kalau Anda ternyata pandai merayu. Ah, tapi tidak terlalu mengherankan mengingat Anda adalah seorang playboy."
Arjuna mengerutkan dahi. "Aku bukan playboy, Luna."
"Ck, akui sajalah, Pak Juna. Anda memang playboy." Luna tidak mau mengalah.
Arjuna mengubah posisi tubuhnya. Sekarang tubuhnya yang berotot berada di atas tubuh Luna. Menekan Luna hingga wanita itu terengah-engah. "Katakan sekali lagi, maka aku akan menciummu."
Cup!
Arjuna kembali mendaratkan bibirnya di bibir Luna, dan Luna sama seperti sebelumnya, tidak berusaha untuk menolak. Ia malah membuka bibirnya, membiarkan lidah Arjuna bermain di dalam mulutnya, membiarkan Arjuna menikmati setiap lekuk bibirnya, dan detik berikutnya keduanya kembali melakukan apa yang seharusnya sepasang suami-istri istri lakukan.
"Aku bisa melakukannya sampai pagi kurasa," bisik Arjuna, di sela-sela de_sah napasnya yang membuat Luna semakin berga_irah.
***
Pagi menjelang, cahaya matahari yang hangat masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat. Kamar Luna dan Arjuna memang memiliki jendela besar yang tertutup oleh tirai transparan.
Luna menggeliat, masih di dalam pelukan Arjuna yang masih terlelap. Menyadari Arjuna masih berada di sampingnya hingga pagi, membuat Luna merasa sangat bahagia. Ia pun merasa menjadi pribadi yang baru setelah menyerahkan dirinya seutuhnya pada Arjuna semalam. Melakukannya dengan Arjuna dan beberapa pria yang dilayaninya sungguh berbeda. Karena Arjuna istimewa, karena Arjuna suaminya, dan karena ia menyukai Arjuna.
Luna segera bangkit untuk duduk. Menyadari bahwa ia memiliki rasa yang berbeda pada Arjuna membuat Luna merinding. Bagaimana kalau ia benar-benar jatuh cinta?
"Sudah bangun, Sayang?"
__ADS_1
Suara Arjuna yang sedikit serak mengejutkan Luna. Apalagi Luna mendengar Arjuna menyebutnya dengan sebutan Sayang.
"Mari kita sarapan," ujar Arjuna lagi, sembari bangkit untuk duduk kemudian mengecup pipi Luna.
Luna mengangguk. Ketika ia hendak turun dari tempat tidur, Arjuna menahannya. Pria itu malah menggendong Luna menuju kamar mandi.
"Aku lupa, sebelum sarapan lebih baik kita mandi, dan mandi bersama sepertinya ide yang menarik."
Luna diam saja hingga mereka tiba di dalam kamar mandi.
"Pak, apakah Anda selalu bucin seperti ini. Kita bahkan baru kenal beberapa minggu, tapi Anda sudah bersikap begitu romantis padaku. Ini agak aneh menurutku. Apa Anda jatuh cinta padaku?" Luna bertanya.
Arjuna tersenyum, kemudian menurunkan Luna, sementara dirinya mengisi bathtub dengan air hangat. "Aku hanya berusaha bersikap baik padamu, karena aku ingin kamu merasa nyaman di sampingku hingga kamu melahirkan dan kontrak pernikahan kita selesai."
"Hanya itu?" tanya Luna lagi.
Arjuna mengangguk. "Ya, hanya itu. Aku tahu kamu tertekan karena paksaan dari istriku, dan aku tidak ingin kamu merasa tertekan karena kehadiranku juga. Dan aku juga sudah pernah bilang kan kalau aku ingin kita sama-sama menikmati hubungan ini."
Luna merasa sedikit kecewa saat mendengar alasan yang Arjuna katakan. Ia pikir Arjuna jatuh cinta padanya.
"Ah, bodoh sekali aku," gumam Luna.
"Apa?" tanya Arjuna.
Luna menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku rasa aku tidak ingin mandi. Berendamlah sendiri jika Anda mau." Luna kemudian keluar dari dalam kamar mandi dan segera mengambil pakaian secara asal dari dalam lemari.
Melihat Luna pergi meninggalkannya, Arjuna meraih jubah mandi dan mengejar Luna yang ternyata sudah tidak ada di dalam kamar.
"Lun, Luna, ada apa denganmu? Aku bahkan sudah menyiapkan air hangat untuk kita berdua. Apa perlu kutambah aroma terapi di dalamnya." Arjuna meneriaki Luna yang sedang berdiri di pintu masuk menuju dapur.
"Ayolah, Sayang, jangan marah."
"Sayang!" Anyelir yang sejak tadi duduk di hadapan meja makan segera menghampiri Arjuna dan Luna yang berdiri di depan pintu. "Mas memanggilnya dengan sebutan Sayang? Kalian juga akan mandi bersama?"
Bersambung.
__ADS_1