LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
KRIM STRAWBERRY


__ADS_3

Luna tidak percaya pada apa yang ia dengar. Begitu juga dengan Arjuna yang sekarang terlihat sedang susah payah menahan agar air matanya tidak tumpah.


"Ck, menangis saja jika ingin menangis. Jangan gengsi hanya karena ototmu kekar dan wajahmu bercambang." Tirta melempar Arjuna dengan bantal yang beberapa saat lalu Arjuna lemparkan padanya.


Seketika itu juga Arjuna menangis, dan detik berikutnya ia menarik Luna ke dalam pelukannya. Sambil terisak Arjuna berkata, "Terima kasih, Lun, terima kasih."


Luna ikut menangis saat merasakan tetes air mata Arjuna yang hangat mendarat di pundaknya. "Jangan berterima kasih, Pak, aku bahagia karena aku dapat memberikan apa yang anda ingin."


Arjuna menenggelamkan wajahnya semakin dalam di pundak Luna. Ia sungguh bahagia, dan kebahagiaan yang tengah ia rasakan tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.


Tirta menepuk pundak Arjuna. "Aku rasa sudah cukup menangisnya, Jagoan."


Arjuna melepas pelukannya dari tubuh Luna, lalu ia mengusap kedua matanya yang berair. "Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku sungguh bahagia, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang."


Tirta mengangguk. "Selamat, Arjuna, aku pun turut bahagia. Setelah sekian lama akhirnya kamu akan memiliki seorang anak."


"Terima kasih, Tir, semua berkat Luna. Jika bukan karena dia, semua rasa haru ini tidak akan bisa kurasakan." Arjuna menatap Luna dengan penuh cinta, membuat Luna merasa sangat istimewa kali ini.


"Terima kasih, Luna," gumam Tirta, sembari tersenyum pada Luna. "Karena kamu telah membahagiakan temanku yang selalu bersedih hati ini."


Luna hanya mengangguk, ia bingung harus berkata apa sekarang, karena ia pun merasa sangat bahagia saat ini. Ia tidak menyangka jika akan merasa sebahagia ini saat mengetahui ada kehidupan baru di dalam rahimnya.


"Baiklah. Nanti malam ada jadwal praktek dokter kandungan di rumah sakitku yang letaknya tidak jauh dari sini. Dokter kandungannya bernama Dokter Robi. Jika kalian ingin periksa di sana, aku bisa mengatur janji temu dengannya. Tapi, jika kalian ingin memeriksakan kandungan dengan dokter kandungan Anyelir, aku rasa sebaiknya besok pagi saja kalian kembali ke kota, sekarang sudah terlalu sore," ujar Tirta.


Arjuna mengangguk. "Aku akan membawa Luna ke rumah sakitmu saja, Tir, menunggu hari esok terlalu lama buatku. Lagi pula, Luna sudah tidak makan seharian ini karena dia mual dan muntah, lebih cepat mendapat resep obat, akan lebih baik, 'bukan."


"Ya, itu benar. Kamu memang suami dan calon ayah yang baik." Tirta bangkit berdiri, lalu pamit undur diri, Arjuna pun ikut bangkit berdiri dan menjabat tangan Tirta.


"Hati-hati di jalan, Tir," ujar Arjuna, saat Tirta selesai berpamitan.


Tirta menaikan sebelah alisnya. "Tidak ingin mengantarku ke depan?" tanya pria berwajah oriental itu


Arjuna menggeleng. "Tidak, aku ingin di sini bersama istriku."


Tirta tertawa. "Dasar bucin!"


Arjuna kembali duduk di tepi ranjang setelah Tirta keluar dari kamar. Ia lalu meraih tangan Luna dan mengarahkan punggung tangan wanita itu ke bibirnya, mengecupi punggung tangan Luna berulang kali, sementara tatapannya terus terpaku pada Luna.


"Aku bahagia sekali. Bagaimana denganmu?" tanya Arjuna.


"Tentu aku bahagia." Luna menjawab dengan suara tercekat. Sejak tadi ia memang berusaha menahan tangis. Ia tidak ingin terlihat terus-terusan menangis di hadapan Arjuna, tetapi hari ini memang suasana hatinya sedang sangat buruk, air mata selalu ingin keluar dari kedua matanya, ditambah kabar bahagia yang ia dapat sore ini membuatnya semakin ingin menangis.


Arjuna mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Luna yang mulai basah karena air mata. "Katakan padaku, apa yang ingin kamu makan, Lun, tidak mungkin kamu membiarkan perutmu kosong seharian. Ada bayi di sana yang harus diberi makan."


Dada Luna menghangat mendengar kata bayi. Ia lalu memikirkan apa yang ingin di makannya sekarang. "Mungkin aku bisa makan cake, karena sejak pagi aku tidak begitu suka pada makanan yang berbau tajam."


"Cake?"


Luna mengangguk. "Ya, cake."


"Di sini sangat terpencil, tidak ada toko kue, kecuali kita buat sendiri."


"Kalau begitu biar aku yang buat, Pak--"


"Jangan, biar aku saja. Kamu tunggu saja di sini, atau kamu mau melihat aku membuat cake?"


Luna menahan senyum. "Anda bisa memasak?"


"Aku bisa melakukan apa saja, Lun, buktinya aku bisa membuatmu hamil, 'kan?"


Luna tertawa. "Yang itu berbeda, Pak."

__ADS_1


Arjuna mendekatkan duduknya ke Luna, lalu ia menatap wanita itu lekat-lekat. "Bagaimana kalau kamu berhenti memanggilku dengan sebutan, Pak?"


Luna terlihat bingung dan salah tingkah. "Lalu, aku harus memanggil Anda dengan sebutan apa?"


"Sayang, atau suamiku."


Kedua pipi Luna merona. "Aku tidak bisa."


Arjuna meletakkan jemari telunjuknya di bibir Luna. "Jangan bilang tidak bisa. Saat hanya ada kita berdua, panggil aku dengan sebutan sayang, tapi jika ada orang lain di antara kita panggil saja namaku, Juna."


Luna meneguk saliva, ia tidak tahu harus mengatakan apa sekarang.


"Bagaimana, hem?" Arjuna mendesak.


"Baiklah, Pak ... hem, maksudku sayang."


Arjuna tersenyum, lalu mengecup bibir Luna. "Ya, begitu terdengar lebih baik. Baiklah, ayo sekarang kita membuat cake untuk si bayi." Arjuna mengulurkan tangan ke Luna.


Luna menatap tangan kekar itu sejenak, sebelum ia menerima uluran tangan Arjuna dan mulai berjalan menuju dapur sambil bergandengan.


***


Miss. Rana mengamuk sejadi-jadinya saat menerima laporan dari anak buahnya bahwa Luna tidak ditemukan di mana pun setelah dilakukan pencarian di tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh wanita itu.


Miss. Rana membanting beberapa barang berharga yang ada di atas meja riasnya. "Bagaimana mungkin kalian tidak ada yang bisa menemukan Luna, hah? Dia tidak mungkin pergi jauh, memangnya bisa pergi ke mana dia!" teriak Miss. Rana pada beberapa orang pria bertubuh besar yang ada di hadapannya.


"Maaf, Miss, kami sudah mencari di setiap sudut kota, tapi kami tidak menemukan Luna di mana pun. Wanita itu seolah hilang ditelan bumi!" ujar Boy, salah seorang penjaga bertubuh paling besar dan berwajah paling kejam di antara semua anak buah Miss. Rana.


"Kalau begitu cari di pinggiran kota, di desa, atau di mana pun. Aku mau Luna, pokoknya aku mau Luna kembali!" Miss Rana kembali berteriak.


Tok, tok, tok.


Pintu terbuka dan seorang pekerja wanita memasuki ruangan sembari membungkuk hormat. "Miss, Pak Bimo telah tiba."


Miss. Rana memelototkan mata. Beberapa hari yang lalu ia memang melakukan transaksi dengan Bimo saat pria itu datang dan mengatakan bahwa dirinya merindukan Luna dan ingin membayar agar dapat tidur Luna kembali seperti beberapa minggu lalu.


Saat itu Miss. Rana masih menganggap enteng kepergian Luna, ia mengira akan dengan mudah menemukan Luna, itulah sebabnya ia menyetujui keinginan Bimo dan menerima uang muka dari pria itu. Ia tidak menyangka jika Luna benar-benar tidak dapat ditemukan, bahkan setelah dilakukan pencarian berhari-hari.


"Minta dia untuk menunggu. Aku akan menemuinya sebentar lagi," ujar Miss. Rana, pada pekerja wanita yang sedang berdiri dengan gugup di hadapannya.


***


Luna bertepuk tangan saat akhirnya Arjuna membawa satu nampak cake cokelat yang dihiasi krim kocok berwarna merah muda yang terlihat begitu menggiurkan.


"Wah, sepertinya enak," ujar Luna.


Mbok Darmi dan beberapa pelayanan yang sejak tadi menonton acara masak-memasak yang Arjuna lakukan ikut bertepuk tangan melihat cake hasil buatan tangan majikan mereka.


Beberapa saat yang lalu, Mbok Darmi dan juga beberapa pelayan terlihat kualahan saat melihat Arjuna sibuk di depan meja dapur. Mereka pikir Arjuna ingin makan sesuatu, tetapi karena mereka tidak ada jadilah tuan mereka yang tidak pernah terjun ke dapur itu memasak sendiri. Namun, ternyata mereka salah, Arjuna bukannya sedang memasak untuk dimakan sendiri, tetapi Arjuna sedang membuat cake untuk Luna. Sesuatu yang jarang Arjuna lakukan untuk Anyelir, bahkan bisa dikatakan tidak pernah sama sekali.


"Nah, karena cake ini spesial kubuat untukmu, izinkan aku menyuapimu," ujar Arjuna, sambil tersenyum manis.


"Ini aman untuk dimakan? Bagaimana kalau setelah memakannya, aku malah mati? Bisa saja Anda memasukan racun di dalamnya," ujar Luna, yang sebenarnya hanya dimaksudkan untuk bercanda.


Arjuna mendengkus kesal. "Bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku memasukan racun di dalamnya?" tanya Arjuna dengan wajah cemberut. "Jika tidak percaya, biar aku saja yang makan." Arjuna mengambil sepotong besar cake dan memasukan ke dalam mulutnya. "See, aku masih hidup."


Luna menahan tawa, ia bangkit dari kursi yang sejak tadi didudukinya, lalu mendekat ke Arjuna. "Baiklah, aku percaya. Aku akan memakan krimbya terlebih dahulu."


"Ya, makanlah, krimnya enak, aku jamin kamu pasti suka--"


Cup!

__ADS_1


Luna mengecup bibir Arjuna, sesuatu yang sangat mendadak bagi Arjuna yang mulutnya masih di penuhi dengan cake, membuat pria itu tidak dapat membalas kecupan dari Luna dengan baik.


"Wow. Apa yang barusan?" tanya Arjuna, saat Luna menjauh darinya.


"Aku memakan krim yang mengotori bibir Anda." Luna menjawab dengan malu-malu, apalagi saat ia mendengar beberapa pelayan cekikikan di belakangnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa ia melakukan tindakan yang begitu berani, ia hanya menuruti kata hatinya yang memang sejak tadi sangat ingin mencium Arjuna.


"Jangan memancingku, Lun." Suara Arjuna yang begitu parau terdengar sangat seksi di telinga Luna. "Mbok Darmi dan yang lainnya, kalian boleh pulang ke rumah kalian masing-masing sore ini. kembalilah besok pagi." Arjuna memberi perintah, yang dalam sekejap perintah itu segera dilaksanakan oleh para pelayan yang terlihat senang karena mendapat libur mendadak.


Arjuna tidak menunggu lama, setelah dapur kosong, ia segera mengangkat tubuh ramping Luna dan mendudukkan wanita itu di atas meja makan, lalu mulai mendaratkan kecupan di hampir setiap bagian wajah Luna hingga ke leher. Arjuna bahkan sengaja meninggalkan jejak merah di sana yang tidak akan mungkin hilang dalam hitungan hari.


"Leherku ... bagaimana kalau ada yang lihat." Luna mendorong Arjuna menjauh.


"Biar saja. Itu tanda kalau kamu adalah milikku." Arjuna kembali mengecupi leher Luna hingga wanita itu kegelian.


"Pak, apa yang Anda lakukan?"


"Apalagi memangnya. Aku ingin bercinta denganmu, kamulah yang memancingku, Luna. Oh, ya, bukankah sudah kukatakan tadi, saat hanya ada kita berdua jangan panggil aku dengan sebutan Pak, panggil aku sayang." Arjuna berbisik di telinga Luna, sementara tangannya sejak tadi menggerayangi tubuh Luna dan melepas pakaian Luna satu per satu hingga wanita itu hanya mengenakan dalaman saat ini.


Luna merinding, saat sentuhan Arjuna terasa di pahanya dan terus naik hingga ke bagian tubuhnya yang paling sensitif.


"Ehm," Luna melenguh dan mencengkram bahu Arjuna dengan kuat.


"Panggil aku sayang, Lun." Arjuna kembali mendesak, kali ini ia mulai membaringkan tubuh Luna di atas meja makan. "Katakanlah, cepat." Arjuna menatap kedua mata Luna dengan tatapan yang penuh nafsu.


Luna balas menatap kedua mata Arjuna, menyadari bahwa Arjuna saat ini sangat menginginkannya, membuat gairah Luna sendiri semakin terbakar. "Sayang. Cium aku, Sayang,"


Kalimat itu sudah cukup untuk membuat Arjuna menjadi gila dan membuat Luna menggila bersama. Keduanya saling mencu_mbu hingga peluh membasahi tubuh yang tidak tertutup sehelai benang pun. Arjuna bahkan berhasil mematahkan sebuah kursi saat ia duduk di atasnya sembari memangku Lina, untunglah ia segera bangkit berdiri saat mendengar suara berderit dari kaki kursi, hingga mereka terhindar dari kecelakaan yang tidak perlu.


Luna tertawa melihat kejadian itu, tapi tidak dengan Arjuna. "Di sini terlalu berbahaya, Sayang, mari kita lanjutkan di kamar," ujarnya, dan setelahnya Arjuna menggendong Luna ke kamar lalu benar-benar membuat Luna kualahan karena ga_irah, hingga akhirnya Luna dan Arjuna mencapai puncak masing-masing dan terkulai lemas di atas ranjang.


***


Anyelir menghubungi Arjuna berulang kali, sudah ada puluhan panggilan keluar yang bertuliskan nama Arjuna di ponsel Anyelir, tetapi tidak ada satu pun panggilan yang diterima oleh Arjuna.


Anyelir yang merasa kesal segera mengemudikan mobilnya menuju villa dengan kecepatan tinggi. Ia mulai membayangkan hal yang aneh-aneh, termasuk bayangan akan suaminya yang bergelut dengan Luna di atas ranjang.


Memang dirinyalah yang meminta Luna dan Arjuna menikah, tetapi ia tidak menyangka jika Luna dan Arjuna akan memiliki hubungan yang begitu akrab. Keakraban keduanya tentu saja membuat Anyelir merasa terganggu.


Membayangkan hal itu, membuat Anyelir menginjak pedal gasnya semakin ke dalam. Saat di tengah perjalanan, ia tidak sengaja bertemu dengan Zion. Pria itu terluka, wajah dan kaos putih yang Zion kenakan berlumuran darah.


Anyelir menghentikan laju kendaraannya dan segera keluar dari dalam mobil untuk menghampiri Zion.


"Zion!" ujar Anyelir. "Kamu Zion kekasihnya Luna, 'kan?


Zion menatap Anyelir dan tersenyum ke Anyelir. " Ya, ada apa?" tanya Zion.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Kenapa kamu terluka seperti ini?"


"Pentingkah?" Zion mengambil jalan di samping Anyelir dan melanjutkan langkah.


Anyelir mengekor langkah Zion dan menarik lengan Zion. "Ayo kita ke rumah sakit."


Zion menyentak tangan Anyelir dari tangannya. "Jangan berani-berani membawaku ke rumah sakit."


"Lalu?"


"Pergi sajalah! Tidak usah hiraukan aku." Zion mendorong tubuh Anyelir menjauh darinya, tetapi karena tubuhnya terlalu lemah, justru dirinyalah yang terhuyung dan jatuh di aspal.


Anyelir terkejut, ia segera menghampiri Zion dan berusaha membantu Zion untuk bangkit berdiri, tetapi ternyata Zion telah pingsan. Pria itu tidak bergerak sama sekali.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2