LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
KEMARAHAN ANYELIR


__ADS_3

Luna tidak bisa berkata-kata. Ia terkejut hingga tubuhnya limbung. Untunglah Arjuna menahan tubuh Luna tepat waktu agar wanita itu tidak terjatuh.


"Bagaimana dia bisa sampai kemari," gumam Luna, yang menatap Miss. Rana dengan tatapan tidak percaya, seolah ia sedang melihat hantu.


"Tenanglah, Sayang, aku akan urus dia." Arjuna berisik di telinga Luna sembari mengusap puncak kepala Luna agar Luna lebih tenang. "Manda, bawa Luna ke kamarnya dan buatkan dia susu," titah Arjuna pada Manda.


Walaupun terlihat bingung, Manda tetap menuruti perintah dari Arjuna dengan cepat tanpa banyak bertanya. "Baik, Tuan," ujarnya, lalu menyentuh lengan Luna. "Ayo, Nyonya, istirahatlah."


"Tidak, tidak. Tunggu dulu, Luna, jangan langsung pergi begitu. Kenapa kamu tidak tahu sopan sama sekali. Aku ini ibumu, Sayang, aku yang memberimu makan selama ini. Bagaimana bisa kamu tidak menyambut kedatanganku? Kejam sekali kamu ini." Miss. Rana berteriak sembari melangkah maju menghampiri Luna dan Arjuna. Wajahnya yang licik tidak terlihat ketakutan sama sekali walaupun Arjuna menatapnya dengan tajam.


Belum lagi Miss. Rana tiba di hadapan Luna, Arjuna lebih dulu menghampiri Miss. Rana dan menahan langkah wanita itu agar tidak mendekat ke Luna. "Rana, bersyukurlah karena kamu terlahir sebagai wanita, karena jika kamu adalah pria mungkin aku akan menghajarmu habis-habisan sekarang ini," desis Arjuna. "Sekarang kuperintahkan agar kamu keluar dari rumahku. Jika tidak, aku yang akan menyeretmu dengan paksa."


Miss, Rana tertawa terbahak-bahak sembari menyentuh bahu Arjuna. "Ah, Tuan Muda. Aku sungguh tidak takut dengan ancamanmu, karena kedatanganku ke sini memang untuk menjemput Luna. Kamu hanya membayar 200 juta saat itu di rumahku, yang artinya kamu hanya boleh menggunakannya semalam saja, bukannya membungkusnya dan membawanya untuk tinggal denganmu apalagi sampai dia hamil begitu."


Suara Miss. Rana yang begitu nyaring menarik perhatian Anyelir yang baru saja berganti pakaian. Ia segera melangkah menuju ruang keluarga untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi di sana. "Mas, ada apa ini?" tanya Anyelir.


Arjuna, Luna, dan Miss. Rana sontak mengalihkan pandangan ke Anyelir. Anyelir terlihat bingung dan menatap Miss. Rana dengan penasaran.


"Siapa dia, Mas?" tanya Anyelir lagi.


"Dia pelayanan baru di sini. Dia pelayan untuk Luna, tapi aku rasa dia tidak cocok untuk Luna. Itulah sebabnya aku memintanya untuk pergi dan--"


"Aku Rana, biasa disapa dengan sebutan Miss." Miss. Rana memotong ucapan Arjuna. "Kedatanganku ke sini sebenarnya bukan untuk menjadi pelayan melainkan--"


"Dia ingin menjemputku." Luna memotong ucapan Miss. Rana.


Anyelir mengernyitkan dahi, sementara Arjuna menghampiri Luna dan menggeleng pelan. Ia tidak ingin Luna mengakui siapa sebenarnya dirinya, karena jika sampai Anyelir tahu apa pekerjaan Luna selama ini, Anyelir pasti akan mengamuk.


"Tidak apa-apa, Juna, aku rasa aku memang harus berkata jujur. Aku tidak ingin hidup dengan penuh kecemasan setiap harinya." Luna meyakinkan Arjuna, lalu meraih telapak tangan pria itu dan mengecupnya.


"Ayolah, jelaskan padaku," pinta Anyelir, yang merasa tidak suka melihat keintiman antara Luna dan suaminya, apalagi keduanya memperlihatkan kemesraan itu di hadapannya.

__ADS_1


Luna melangkah menuju sofa, dan duduk dengan nyaman di atasnya, "Duduklah Miss, saksikan bagaimana aku membuat sebuah pengakuan. Kamu yang paling tahu bahwa aku sangat tidak suka jika terus-terusan kamu tindas."


Arjuna menghela napas, lalu menghampiri Luna dan duduk di sebelah wanita itu, tidak lupa ia meraih telapak tangan Luna dan meremasnya. "Aku bersamamu," ujarnya.


Luna tersenyum dan mengangguk pelan. Kepercayaan Arjuna saja sudah cukup baginya. Ia tidak peduli jika Anyelir marah dan mengusirnya, bukankah hal itu akan lebih baik, karena jika Anyelir mengusirnya, ia akan meminta agar Arjuna ikut dengannya dan mereka akan merawat anak mereka bersama-sama tanpa ada Anyelir.


Setelah Anyelir dan Miss. Rana duduk di sofa, Luna segera memulai pembicaraan.


"Aku adalah seorang pelacur," ucap Luna dengan mantap.


Terdengar suara napas tertahan yang berasal dari Manda. Pelayan itu tentu terkejut, sama halnya dengan Anyelir saat ini.


"Maafkan aku karena tidak mengatakan padamu sejak awal, Nye." Luna kembali berujar.


Anyelir terdiam untuk sesaat. Ia tidak bisa mengatakan apa pun. Lidahnya terasa begitu kaku dan dadanya berdebar dengan kencang. Ia marah, kecewa, dan sedih karena Luna telah berbohong padanya.


"Mas sudah tahu?" tanya Anyelir setelah beberapa saat.


"Juna tahu, itulah sebabnya dia marah padaku dan memindahkanku ke apartemen. Dia tidak ingin tinggal satu rumah dengan seorang pelacur. Dia kecewa saat dia tahu, dia bahkan tidak mengunjungiku selama dua bulan lamanya, dia pun tidak mengakui bahwa anak yang kukandung adalah anaknya." Luna berujar.


"Lalu, kenapa tidak bilang padaku, Mas?' tanya Anyelir.


"Karena aku tidak ingin kamu melakukan apa yang aku lakukan. Aku marah pada Luna saat itu dan mengusirnya. Aku bahkan menghinanya. Aku tidak ingin kamu melakukan hal yang sama, Nye," ujar Arjuna.


Miss. Rana tersenyum licik melihat drama yang terjadi di hadapannya. "Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi, tapi sepertinya ada yang tidak beres dengan hubungan kalian bertiga, benar?"


"Tidak usah campuri urusan kami," ujar Luna. "Dengarkan saja apa yang ingin aku katakan."


"Ah, baiklah, Pelacur termahalku. Katakan saja, katakan." Miss. Rana menyilang tangan di depan dada sambil terkekeh.


"Aku menjadi pelacur karena terpaksa. Setelah ayahku meninggal dan ibuku mendadak mengalami kelumpuhan aku terpaksa harus berhenti kuliah agar dapat merawat ibuku dan bekerja sekaligus. Saat itu sulit bagiku untuk mencari pekerjaan, karena tidak ada pekerjaan yang membuatku bisa membawa ibuku juga. Hingga akhirnya seseorang mengajak bekerja di Rumah Merah. Saat itu aku ditawari pekerjaan sebagai pelayan dan aku diizinkan tinggal di sana bersama dengan ibuku." Luna berhenti sejenak untuk mengatur napas, mengingat perjalanan hidupnya yang kacau balau membuat emosinya mendadak naik.

__ADS_1


"Namun, suatu hari Miss menjualku ke seorang pria tanpa sepengetahuanku. Aku berhasil melarikan diri saat itu dan sukses mendapat siksaan dari Miss. Ibuku yang tinggal di gudang Rumah Merah pun ikut disiksa, padahal ibuku sedang dalam keadaan sakit. Karena siksaan itu keadaan ibuku semakin melemah dan harus dirawat di rumah sakit, karena tidak adanya biaya akhirnya aku setuju untuk menjadi pemuas nafsu seorang pria. Semua terjadi karena Miss. Rana." Luna menutup penjelasannya dengan suara yang gemetar.


Arjuna merangkul pundak Luna. Ia baru tahu jika sepahit itulah perjalanan hidup Luna. Tadinya ia pikir Luna melakukan pekerjaan sebagai pelacur karena memang Luna menyukai pekerjaan itu.


Anyelir mengatur napas. Ia tidak tahu harus berkata apa sekarang. "Jadi kedatangan wanita ini ke sini untuk menjemputmu?' tanya Anyelir pada Luna sambil menunjuk wajah Miss. Rana.


Luna mengangguk.


"Pergilah kalau begitu," ujar Anyelir.


Miss. Rana tersenyum puas.


"Nye, apa yang kamu katakan?" Arjuna sangat terkejut atas ucapan Anyelir.


"Aku bilang pergilah. Biarkan Luna pergi, Mas!" Anyelir bangkit berdiri. "Kemasi barangmu, Luna, dan pergilah dari rumahku."


"Tidak, Anye, Luna tidak boleh pergi. Luna sedang hamil dan--"


"Aku tidak peduli, Mas. Aku sungguh tidak peduli. Kalau aku tahu dia itu pelacur mana mungkin aku memintanya untuk menikah denganmu! Dia tidak pantas melahirkan anakmu, Mas, sangat tidak pantas." Anyelir berteriak.


Luna mengusap air matanya yang mendadak turun. Ia merasa sakit hati sekali karena semudah itu bagi Anyelir menyingkirkannya tanpa mempertimbangkan pengorbanan yang telah ia lakukan untuk Anyelir dan Arjuna. "Apa aku segitu tidak berartinya untukmu, Nye?" tanya Luna. "Hanya karena pekerjaanku di masa lalu, lantas kamu menganggap aku tidak pantas."


Anyelir mengangguk. "Ya, kamu memang sangat tidak pantas, Luna. Mana mau aku merawat anak seorang pelacur."


Deg!


Ucapan Anyelir sudah cukup bagi Luna. Ia tidak mau mendengar hinaan yang terlontar untuk anak yang tidak bersalah.


Luna bangkit berdiri, lalu menatap Anyelir dengan kecewa. "Baiklah. Aku akan pergi seperti keinginanmu, tapi aku hanya akan pegi dengan suamiku. Jika tidak, aku tidak akan ke mana-mana!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2