LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
DIA TIDAK PUNYA HATI


__ADS_3

Luna sadarkan diri di dalam ruangan yang luas dan megah. Tubuhnya terbaring di atas sofa berbahan beledu yang hangat dan lembut. Ia segera bangkit untuk duduk saat menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu yang sedang memperhatikannya.


"Ouch," keluh Luna, saat kepalanya merasakan nyeri ketika ia bangkit dengan terburu-buru.


Anyelir yang tiba di kantor Gilang beberapa saat lalu segera menghampiri Luna dan duduk di samping wanita itu. "Pelan-pelan saja, Lun, kamu itu baru saja sadar."


"Bu Anye, sejak kapan Anda di sini?" tanya Luna yang kebingungan karena melihat Anyelir di sebelahnya.


"Sejak suamiku menelepon dan mengatakan padaku bahwa kamu pingsan," jawab Anyelir.


Luna memijat kepalanya yang masih terasa pusing. "Ah, iya, terakhir kali aku berniat hendak kembali ke kantor setelah mengantar berkas yang Anda minta, tapi setelahnya aku tidak ingat apa pun lagi. Maaf, aku pasti merepotkan suami Anda, Bu. Suami Anda harus mengangkatku ke ruangannya. Maafkan aku sekali lagi." Luna membungkuk berulang kali karena merasa tidak enak hati.


"Mengangkatmu apanya? Kamu tergeletak seorang diri di sofa yang ada di lobi hingga aku datang. Saat aku datang barulah aku memanggil sekuriti agar memindahkanmu ke ruangan ini." Anyelir berujar dengan wajah cemberut. Seolah ia kesal akan tindakan Arjuna yang meninggalkan Luna begitu saja di lobi dalam keadaan pingsan.


Sementara itu Luna memelototkan matanya, ia merasa tidak terima karena diperlakukan seperti itu setelah pekerjaan sulit yang ia lakukan untuk Arjuna. "Suami Anda tidak punya hati, Bu!" seru Luna. "Maaf harus mengatakan ini, tapi bagaimana kalau ada yang macam-macam denganku di bawah sana. Misalnya ada pria yang berusaha mencuri kesempatan dalam kesempitan."


"Ya, dia memang tidak tidak punya hati. Berat untuk mengakuinya di hadapan siapa pun, tapi begitulah Arjuna. Aku heran, kenapa dulu aku mau menikah dengannya."


Melihat raut kesedihan di wajah Anyelir, Luna seketika merasa bersalah. "Bu, maaf, aku tidak bermaksud untuk mengatai suami Anda, aku hanya--"


"Ck sudahlah, jangan merasa tidak enak. Apa yang kamu katakan itu benar. Tunggu di sini, biar aku ambilkan kotak P3K." Anyelir kemudian bangkit berdiri dan mulai berjalan menuju lemari yang terdapat di sudut ruangan, dan mulai mencari kotak yang biasa digunakan untuk menyimpan obat-obatan.


Setelah mendapatkan kotak yang berisi obat-obatan, Anyelir kembali menghampiri Luna dan meletakkan kotak itu di meja yang ada di hadapan Luna.


"Obati lukamu sebelum infeksi," perintah Anyelir. "Dari mana juga kamu mendapatkan luka-luka itu, Lun?"

__ADS_1


Luna meringis saat mengusap luka di kakinya dengan kapas dan cairan pembersih luka, lalu ia menjawab. "Aku terserempet motor saat menyeberang. Tapi aku tidak apa-apa, Bu, aku masih bisa menjemput Junior." Luna mengakhiri penjelasan singkatnya, lalu segera bangkit berdiri setelah ia memasang perban pada kakinya. "Ayo, Bu, nanti kita terlambat menjemput Junior."


Anyelir bangkit berdiri dan segera mengekor langkah Luna untuk keluar dari ruangan Arjuna, kemudian keduanya menunu elevator yang terdapat di ujung lorong. Namun, langkah kedua wanita itu terhenti saat mereka berpapasan dengan Arjuna di koridor.


"Anye, kalian sudah mau pergi? Hati-hati di jalan kalau begitu," ujar Arjuna, lalu tanpa mengatakan apa pun lagi pada sang istri, Arjuna kembali melangkah dengan terburu-buru menuju ruangannya.


Anyelir hanya menghela napas, sementara Luna terlihat kesal. "Sialan," gumam Luna.


"Apa?" tanya Anyelir yang samar-samar mendengar suara Luna.


Luna segera menggeleng dengan cepat. "Ah, tidak apa-apa, Bu."


Anyelir yang mood-nya terlanjur rusak karena sikap dingin Arjuna pun berkata, "Aku akan mengantarkanmu untuk menjemput Kevin, aku tidak akan kembali ke kantor."


"Tapi, Bu--"


Luna diam saja. Melihat Luna sedikit keberatan, Anyelir segera berkata, "Tenang saja, akan aku hitung lembur."


Luna tersenyum. "Padahal aku tidak minta loh, Bu."


***


Kevin adalah anak laki-laki Anyelir dan Arjuna yang berusia lima tahun dan bersekolah di salah satu taman kanak-kanak terbaik di kota itu.


Pertemuan Luna dengan Anyelir pun lantaran suatu hari Luna menolong Kevin yang hendak tertabrak mobil saat menyeberang jalan tanpa pengawasan sepulang sekolah tiga bulan yang lalu. Sejak saat itu hubungan antara Anyelir dan Luna semakin akrab hingga sekarang.

__ADS_1


Kevin berlarian memasuki rumah begitu Anyelir memarkirkan mobilnya di garasi, sementara Luna ikut berlarian di belakang Kevin sembari membawa tas sekolah dan juga kotak bekal Kevin.


"Kevin, jangan berlarian begitu, Sayang. Nanti kalau kamu jatuh bagaimana?" teriak Luna, berusaha untuk menghentikan tingkah Kevin yang memang terlalu lincah dan tidak bisa diam.


"Oma!" Kevin berteriak dan berlari semakin kencang saat ia melihat seorang wanita tua berpenampilan elegan tengah berdiri di sudut ruangan sembari menatap foto pernikahan yang menggelantung di dinding.


Wanita tua itu bernama Maria, orang tua Arjuna yang selalu bersikap dingin pada Anyelir dan tanpa terkecuali pada Kevin juga.


"Kevin, di mana sopan santunmu. Seharusnya saat bertemu dengan oma, kamu itu mencium tangan oma, bukannya malah berteriak seperti itu. Apa mama kamu tidak mengajarimu sopan santun, atau memang sudah bawaan darah tidak jelas yang mengalir di tubuhmu itu--"


"Ma, cukup. Tolong jangan bahas hal itu di hadapan Kevin. Dia masih kecil dan belum mengerti apa-apa." Anyelir memotong ucapan Maria yang ditujukan pada Kevin.


"Karena dia belum mengerti apa pun itulah seharusnya kamu membuat dia mengerti bahwa dia itu bukan cucuku. Jangan bertingkah terlalu manja padaku, aku tidak suka, Anye!"


Mendengar suara Maria yang membentak Anyelir sontak membuat Kevin menangis. Anak itu berlari menghampiri Anyelir dan segera memeluk Anyelir.


"Sudah, Sayang, jangan menangis." Anyelir berlutut dan berusaha untuk menenangkan putranya yang menangis ketakutan.


Melihat hal itu, Maria kembali mengomel. "Lihat kan, baru beberapa waktu yang lalu dia begitu ceria, sekarang dia malah sudah menangis. Masih kecil saja sifatnya sudah manipulatif sekali, bagaimana kalau sudah besar."


"Dia bukannya manipulatif, Bu, tapi dia takut pada suara Anda yang berteriak-teriak padanya," Luna menjawab omelan Maria, ia sudah tidak tahan lagi pada sikap dingin dan sok yang Maria perankan sejak tadi. Apalagi Maria sangat mengintimidasi. Luna tidak suka pada orang-orang yang memiliki sifat demikian.


Mendengar suara Luna yang berusaha untuk membela Kevin, Maria terlihat semakin marah. Wanita itu meraih tas tangannya di atas meja, lalu menghampiri Luna dan mendaratkan tamparan di wajah Luna. "Aku tidak suka ada orang luar yang ikut campur urusanku, paham?!" bentak Maria. Ia lalu mengalihkan pandangan ke Anyelir yang sekarang wajahnya terlihat merah karena menahan amarah. "Ingat Anyelir, besok adalah jadwal kunjunganmu ke dokter kandungan. Aku harap akan ada kabar baik. Jika tidak, aku akan menikahkan putraku dengan wanita lain yang bisa memberikan kami penerus."


Setelah mengatakan itu, Maria segera beranjak dari hadapan Anyelir dan Luna. Meninggalkan Anyelir yang hatinya kembali hancur untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2