LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
PERMOHONAN ANYELIR


__ADS_3

Luna mendekat dan mengusap punggung Anyelir dengan lembut. "Bu, biar aku antar Kevin ke kamarnya. Ibu juga istirahatlah di kamar."


Anyelir mengusap pipinya yang basah, lalu segera bangkit berdiri dan menggendong Kevin menuju kamar anak laki-laki itu. "Biar aku yang gendong dia."


Luna mengangguk, membiarkan Anyelir melakukan apa yang wanita itu inginkan, lalu ia mengekor langkah Anyelir menuju kamar Kevin. Sesampainya di kamar, Luna dengan sigap mengganti pakaian Kevin dan membiarkan anak laki-laki itu bermain setelahnya. Sementara Anyelir duduk di sofa yang ada di kamar itu sembari bersandar dan memejamkan matanya.


Luna menatap Anyelir dengan perasaan sedih. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Anyelir menjalani kehidupan yang begitu mengerikan. Memiliki suami yang dingin dan mertua yang kejam. Ia pikir selama ini dirinyalah yang paling menderita, tetapi ternyata ia salah, karena semua manusia hidup dengan bahagia dan deritanya masing-masing. Siapa yang menyangka jika Anyelir yang hidup dengan gelimpangan harta ternyata tidak bahagia.


"Apa pendapatmu tentang ibu mertuaku, Lun? Aku rasa sekarang tidak ada yang harus kututup-tutupi lagi, kamu sudah tahu bagaimana kehidupanku. Aku divonis tidak bisa memiliki anak, tetapi mertuaku tidak tahu akan hal itu sehingga dia terus mengatur jadwal dengan dokter kandungan setiap bulannya untuk memeriksa apakah aku hamil atau tidak. Terkadang dia pun meminta dokter untuk melakukan berbagai macam tes untuk memeriksa apakah ada masalah dengan rahimku atau tidak." Anyelir tersenyum sinis, sementara air mata tetap terus mengalir dari kedua matanya.


Luna diam saja, ia tidak menjawab pertanyaan Anyelir, ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik untuk keluh kesah dan perasaan tertekan yang Anyelir simpan seorang diri selama ini.


"Suamiku berusaha semampunya agar ibu mertuaku tidak mengetahui keadaanku, karena dia mencintaiku, itu katanya. Tapi, aku merasakan jika cintanya tidak sebesar dulu. Aku rasa suamiku hanya berusaha untuk menjaga hatiku agar tidak terluka. Saat kami memutuskan untuk mengadopsi Kevin pun aku tahu saat itu suamiku tidak terlalu setuju, dia ingin memiliki anak yang merupakan darah dagingnya sendiri."


Luna mengalihkan pandangannya ke Kevin yang sekarang sedang asyik bermain. Luna memang sering mendengar rumor di kantor bahwa Anyelir tidak memiliki anak, dan Kevin hanyalah anak adopsi, tetapi ia tidak terlalu percaya pada rumor tersebut.


"Lun, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan oleh ibu mertuaku barusan. Dia akan menikahkan suamiku dengan wanita lain jika bulan ini lagi-lagi hasil tesku negatif. Jujur saja, aku tidak bisa membayangkan jika suamiku harus memiliki ikatan dengan wanita lain," ujar Anyelir.


Luna mengangguk. "Ya, aku dengar, Bu. Kejam sekali mertua Anda, bagaimana bisa dia memiliki pemikiran demikian."


Anyelir kembali menangis. "Aku tidak memiliki teman baik yang bisa aku mintai tolong, tapi aku rasa kamu adalah teman terbaikku sekarang, meskipun kita baru mengenal selama beberapa bulan terakhir, entah mengapa aku merasa kita sudah sangat dekat dan aku nyaman menceritakan segalanya padamu. Bagiku kamu lebih dari sekadar karyawan di kantorku. Bisakah aku meminta bantuanmu?" Anyelir bertanya, wajahnya terlihat begitu serius, membuat Luna merasa semakin kasihan pada Anyelir, apalagi wanita itu menganggap bahwa dirinya adalah teman terbaik, bukan hanya sekadar karyawan.


"Katakan apa yang bisa kubantu, Bu? Aku pasti akan melakukan apa pun yang Anda minta. Aku janji." Luna berkata dengan tulus.


Anyelir mengusap pipinya yang basah, lalu ia meraih tangan Luna dan menggenggamnya dengan erat. "Maukah kamu mengandung anak untukku dan Mas Juna?"


Deg!


Luna melepas pegangan tangan Anyelir dari tangannya. "Maaf, Bu, bagaimana maksud Anda?"


"Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, hanya saja aku bingung harus bagaimana aku memulainya." Anyelir menghela napas, lalu mendekatkan duduknya dengan Luna. "Aku ingin kamu mengandung anak mas Juna, dan setelah anak itu lahir, berikan anak itu padaku. Setidaknya Mas Juna harus memiliki anak yang memang darah dagingnya sendiri."

__ADS_1


Luna bangkit berdiri. "Tidak, Bu, tidak. Aku tidak bisa."


Anyelir turun dari sofa dan berlutut sembari memeluk kedua kaki Luna sambil menangis. "Aku mohon, Luna, aku mohon."


Luna menyentuh kedua tangan Anyelir, berusaha melepaskan pegangan Anyelir di kedua kakinya. "Bu, jangan begini. Aku mohon jangan begini, Bu."


"Hanya kamu yang bisa menolongku, Lun, aku percaya padamu. Tolong bantu aku," lirih Anyelir.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, dan Arjuna berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat bingung begitu melihat apa yang terjadi di hadapannya.


"Pak," gumam Luna.


Akan tetapi, Anyelir tidak peduli akan kehadiran Arjuna. Ia masih saja memeluk kedua kaki Luna sambil menangis dan memohon. Melihat hal itu Arjuna segera menghampiri Anyelir dan membantu wanita itu untuk berdiri. Namun, Anyelir menolak, wanita itu masih saja memohon pada Luna.


"Aku mohon, Lun, bantu aku. Hanya kamu yang bisa membantuku, hanya kamu yang aku percaya, tolong aku, tolong."


"Ada apa ini?" tanya Arjuna.


Luna membalas tatapan tajam Arjuna, kemudian berkata. "Ibu Anda baru saja pergi dari sini, dan ibu Anda telah mengucapkan kata-kata yang melukai hati Bu Anye, Pak."


Arjuna terdiam, ia tahu apa maksud kedatangan ibunya, dan ia juga tahu apa yang telah ibunya katakan hingga membuat istrinya menjadi tidak terkendali.


"Ayo, Sayang, istirahat di kamar. Apa kamu tidak malu kalau sampai Kevin melihat mamanya menangis seperti ini?" Arjuna berusaha membujuk Anyelir. "Aku akan turuti apa yang kamu mau, asalkan kamu tidak seperti ini lagi."


Mendengar perkataan Arjuna, Anyelir segera melepas pelukannya di kedua kaki Luna, ia lalu memandang sang suami dengan tatapan memelas yang membuat hati Arjuna menjadi sedih. Arjuna tahu sedalam apa luka yang dirasakan Anyelir selama menikah dengannya.


"Benar kamu akan menuruti apa pun yang kuminta, Mas?" tanya Anyelir.


Arjuna mengangguk. "Tentu, aku akan mengantarkanmu shopping nanti malam, kamu bisa beli semua apa yang kamu mau, pokoknya belanjalah sepuasnya, Anye, kamu bahkan boleh mengajak temanmu ini," ujar Arjuna sembari mengusap pipi Anyelir yang basah, hal yang sudah lama tidak ia lakukan karena kesibukan di kantor yang sangat padat.

__ADS_1


Anyelir meraih tangan Arjuna yang masih berada di pipinya, kemudian ia berkata. "Aku ingin kamu membujuk Luna agar dia mau mengandung anakmu. Aku sudah memohon padanya sejak tadi, tapi dia menolak."


Wajah Arjuna menengang. "Apa maksudmu?"


"Ibu baru saja datang, Mas, dan dia bilang akan memintamu menikah dengan wanita lain jika aku tidak juga hamil pada bulan ini. Jujur saja aku tidak ingin kamu menikah dengan wanita lain. Tapi aku tidak keberatan jika Luna hamil anakmu, dan setelah anak itu lahir maka anak itu akan menjadi anak kita berdua."


Arjuna tertawa terbahak-bahak begitu mendengar penjelasan dari Anyelir. Ia kemudian bangkit berdiri dan berniat untuk meninggalkan ruangan, tetapi Anyelir dengan sigap memeluk kedua kaki Arjuna, seperti yang sejak tadi ia lakukan pada Luna.


"Mas, tolong. Tolong turuti keinginanku sekali ini saja. Aku mohon."


Arjuna diam saja, ia melirik ke tempat Luna berdiri, dan ia tiba-tiba saja merasa kasihan pada Luna yang pasti tertekan karena sikap aneh istrinya.


"Kamu terlalu banyak menonton sinetron, Anye. Mana ada hal seperti itu di kehidupannya nyata," ujar Arjuna.


Anyelir bangkit berdiri dan ia menatap Arjuna dan Luna dengan tatapan kecewa. "Jadi, kamu lebih memilih untuk menikah lagi?"


"Bukannya begitu, hanya saja jika aku melakukannya dengan temanmu ini, apa kamu tidak merasa cemburu dan sakit hati? Jujur saja aku merasa tidak kamu cintai lagi, Anye."


"Aku tahu, Mas, siapa wanita yang ibumu siapkan untukmu. Sudah sering kali ibu membawanya ke rumah ini hanya untuk membuatku sakit hati. Dia adalah Sabrina, mantan kekasihmu saat kamu masih kuliah di luar negeri. Aku akan lebih sakit hati dan cemburu jika kamu sampai menikah dengannya, apalagi kalau sampai dia mengandung anakmu. Hal itu akan lebih membuatku terluka dibandingkan saat kamu melakukan hubungan badan dengan Luna!"


Luna menundukkan wajah, entah mengapa ia merasa harga dirinya terluka saat ini. Rasa tidak nyaman di wajah Luna tidak luput dari perhatian Arjuna.


"Kita bicara nanti, Anye, aku lelah." Arjuna kemudian keluar dari kamar.


Anyelir tidak kehabisan cara, ia sudah lelah terlalu lama memendam rasa sakit dan sedih, kali ini ia tidak tahan lagi. Anyelir berlari keluar kamar menuju dapur, ia bahkan melewati Arjuna begitu saja. Sesampainya di dapur Anyelir segera meraih pisau buah yang ada di atas meja, dan detik berikutnya suara teriakan asisten rumah tangga yang sedang berada di dapur mampu menarik Luna dan Arjuna berlari ke dapur sesegera mungkin.


"Astaga, Bu!" Luna berteriak.


"Anyelir. Oh, Tuhanku, Anye!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2