
Luna baru saja akan beristirahat di atas ranjangnya ketika pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dengan begitu keras. Ia buru-buru bangkit dari pembaringan dan berlari menuju pintu.
"Luna, Miss memintamu untuk naik ke atas," ujar Boy yang berdiri di hadapan Luna dengan memasang wajah galak.
Luna menghela napas, ia lelah, tetapi berusaha untuk berontak akan sangat percuma. Ia sudah lelah melawan Miss. Rana dan juga anak buahnya. Toh setelah susah payah bertahan dan selalu melakukan pemberontakan akhirnya ia kalah juga.
Pada akhirnya ia menjadi pelacur dan di saat yang bersamaan ibunya yang selama ini menjadi alasan baginya untuk terus bertahan hidup pun meninggal dunia. Luna merasa tidak akan bisa lebih hancur dari yang sekarang.
Alih-alih menolak dan berdebat dengan Boy, ia justru mendekat ke pria itu dan menyentuh wajah Boy dengan belaian yang membuat tubuh pria itu bergetar karna terang_sang.
"Oke, katakan pada Miss, aku akan segera naik." Luna berisik di telinga Boy, ia bahkan sengaja mengeluarkan sedikit ******* yang membuat tangan Boy gatal ingin menyentuh bokong Luna dan meramasnya.
Akan tetapi, Luna menepis tangan Boy dari bokongnya. "Eits, jangan sentuh aku kalau kamu tidak memiliki uang dua ratus juta. Kalau kamu berani menyentuhku Miss pasti akan marah, Boy. Aku ini mahal." Luna mengedipkan mata, lalu ia kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan cepat. Ia tidak peduli akan kehadiran Boy yang masih berdiri di depan kamarnya dengan wajah semerah tomat.
Setelah pintu tertutup, Luna mengelus dada dan seketika ia bergidik. Ia ngeri membayangkan apa yang bisa dilakukan oleh Boy jika pria itu mulai terang_sang. Namun, ia juga sadar, bahwa tidak ada pekerja Rumah Merah yang berani menyentuhnya saat ini, karena dirinya begitu mahal. Ya, kecuali Zion. Ia menyukai Zion dan ia tidak keberatan sama sekali jika Zion menyentuhnya walaupun ia tidak mencintai Zion.
***
Arjuna memasuki kamar yang telah disediakan oleh Miss. Rana. Kamar VVIP dengan fasilitas bak hotel bintang lima. Kamar ini bahkan lebih mewah dan istimewa dibandingkan dengan kamar yang ditempati Bimo Arkana beberapa minggu lalu saat menghabiskan waktu dengan Luna.
Ya, Arjuna memang membayar lebih untuk kamar itu. Ia bahkan memesan banyak makanan dan minuman untuk dibawa ke dalam kamar, karena memang ia tidak berniat untuk tidur dengan wanita dua ratus juta yang telah disiapkan oleh Miss. Rana. Ia hanya ingin melihat keadaan wanita itu dan memastikan bahwa wanita itu bukanlah seorang sandera di Rumah Merah.
Arjuna tidak tahu alasan apa yang membuatnya melakukan semua hal ini; membayar dua ratus juta untuk wanita itu, menyediakan makanan, minuman, dan kamar VVIP, padahal ia tidak mengenal wanita itu sama sekali.
Akan tetapi, wanita itu memang bagai magnet. Perhatian dan pikiran Arjuna terus terfokus pada wanita itu sejak pertama kali Arjuna melihatnya. Ditambah lagi sekarang setelah tahu nama wanita itu ia menjadi penasaran apakah Luna yang ada di Rumah Merah, sama dengan Luna yang merupakan teman istrinya? Ia harus memastikan.
__ADS_1
***
Luna berganti pakaian seperti perintah Miss. Rana di ruang ganti yang terletak di bagian dalam bar. Kali ini gaun tanpa lengan dan sependek paha menempel pas di tubuhnya. Warna gaun yang berwarna merah maroon membuat kulit putih Luna terlihat semakin bersinar.
Setelah puas bercermin dan mengoles parfum berbentuk gel di sekitar leher dan pangkal paha, Luna akhirnya keluar dari dalam ruang ganti.
Akan tetapi, baru saja ia membuka pintu, Zion mendadak muncul dan mendorong tubuh Luna agar wanita itu kembali masuk ke dalam, setelah berada di dalam ruangan, Zion mengunci pintu agar tidak ada yang masuk ke dalam ruang ganti.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zion, kedua matanya memindai penampilan Luna dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Luna tidak menjawab, ia bahkan berusaha menghindari tatapan mata Zion.
"Luna, aku bertanya padamu!" seru Zion, saat Luna tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Zion mendorong tubuh Luna menjauh. "Kamu berubah, Lun. Kamu berubah. Kamu tidak seperti Luna yang kukenal dulu. Luna yang polos dan memiliki harga diri tinggi. Kamu bukan Luna yang sama."
Luna terlihat kecewa akan perkataan Zion. Ia tersenyum masam kemudian berkata, "Luna yang itu sudah mati. Apa kamu tidak mengerti jika semua kejadian yang kualami membunuhku secara perlahan dan pasti. Aku disiksa setiap hari karena mempertahankan harga diri dan kehormatan. Aku disiksa setiap hari demi menjaga nyawa ibuku. Tapi lihatlah apa yang kudapat dari itu semua, Zi, di hari yang sama aku dilecehkan, di saat itu juga ibuku meninggal dunia. Aku kalah telak. Aku hancur dalam waktu 24 jam. aku mati saat itu. Pikirmu apa lagi yang kuharapkan sekarang? Aku hanya menjalani takdir yang ada."
Zion terdiam. Ia tahu bagaimana perasaan Luna saat ini. Ia hanya tidak bisa terima jika Luna mulai menjajakan diri dengan senang hati. Ia tidak suka membayangkan tubuh Luna disentuh oleh pria lain, apalagi saat membayangkan Luna bercinta dengan pria-pria mesum itu.
"Maaf, Lun, aku hanya--" Zion tidak menghentikan ucapannya, karena Luna tiba-tiba saja menciumnya dan memeluknya.
Luna begitu agresif hingga membuat Zion terkejut. Apalagi saat Luna mendorong tubuh Zion hingga menabrak dinding di belakangnya, lalu Luna mulai menciumi leher, pipi, dan kemudian kembali ke bibir Zion.
Zion membalas ciuman Luna, ia bahkan merangkul tubuh wanita itu dengan erat. Luna baru berhenti saat ia sadar ada sesuatu yang bangkit dan terpancing di tubuh Zion karena tindakannya. Luna mundur dan merapikan gaun juga rambutnya yang berantakan.
__ADS_1
"Maaf, aku butuh melampiaskannya. Apalagi aku akan bertemu dengan orang baru yang tidak kukenal sama sekali. Aku cemas, Zi." Luna berujar.
Zion mengatur napas, ia kualahan karena Luna telah membangunkan naga tidur di dalam dirinya. "Tidak masalah. Jika kamu butuh pelampiasan lagi datang saja padaku. Aku akan dengan senang hati membantumu mengurangi kecemasanmu."
Luna mengangguk, ia lalu tersenyum pada Zion dan melangkah menuju pintu. "Aku pergi dulu."
"Ya, selamat bekerja." Zion menjawab dengan berat hati.
Luna meneteskan air mata ketika pintu tertutup di belakangnya, ia tidak menyangka jika pada akhirnya ia menjadi seperti sekarang.
"Lun, cepatlah!" Suara teriakan Boy menembus gendang telinga Luna. Ia segera menghampiri Boy dan mengekor langkah pria itu menuju kamar pria yang membayarnya.
Akan tetapi, langkah Luna terhenti seketika saat dilihatnya Anyelir berteriak-teriak di depan meja bar. Wanita itu memaki dua orang pria yang salah satunya pernah Luna lihat bersama dengan Arjuna di lobi kantor.
"Tunggu, Boy, katakan padaku siapa dua pria itu?"
Boy mengikuti arah telunjuk Luna. "Oh, mereka berdua asisten pria yang akan kamu layani malam ini."
Luna mengernyitkan dahi. "Asisten. Lalu siapa nama pria yang akan kutemui? Apakah namanya Arjuna?"
Boy berpikir sejenak, tidak lama kemudian pria itu mengangguk. "Ya, namanya Arjuna. Kamu mengenalnya?" Boy terlihat penasaran.
Luna meringis, beruntung sekali ia melihat Anyelir, jika tidak, profesinya sebagai pelacur pasti akan ketahuan.
Bersambung
__ADS_1