LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
TAWARAN ZION UNTUK ANYELIR


__ADS_3

Tiara dan Luna tidak menyangka jika Arjuna akan mengambil tindakan demikian, membatalkan rapat penting yang seharusnya Arjuna hadiri di kantor merupakan tindakan yang ceroboh sekali dan sudah pasti hal itu tidak pernah Arjuna lakukan sebelumnya.


Sekarang Luna dan Tiara tengah duduk di kursi bagian belakang mobil, saling berbisik satu sama lain tentang Arjuna yang terlihat aneh, karena sekarang pria itu sedang asyik bersenandung sambil menyetir, seolah tidak ada beban di pikirannya setelah membatalkan rapat seenaknya.


Tiara menyikut Luna yang duduk di sebelahnya. "Kak, sebelumnya Kak Juna tidak pernah berbuat seperti ini. Dia itu tipe pria yang serius sekali, kaku dan tegas. Kalau ada rapat, ya, harus rapat, tidak bisa tidak. Dan Kak Juna belum pernah sekalipun membolos dari kantor. Tapi, lihat apa yang dilakukannya sekarang. Kalau sampai ayah tahu, bisah bisa Kak Juna ...." Tiara tidak melanjutkan ucapannya, gadis itu malah mengarahkan ibu jarinya ke leher, memberi isyarat bahwa Arjuna bisa mati jika sampai sang ayah tahu tentang perilaku putranya.


Luna bergidik ngeri. "Apa Pak Dermawan sejahat itu?"


Tiara menggeleng. "Tidak, Kak, ayah sama sekali tidak jahat. Dia hanya tegas jika berurusan dengan pekerjaan. Bagaimana pun juga kehidupan layak yang kami dapat adalah berkat usaha ayah, dan ayah pasti tidak ingin jika ada yang merusak usaha yang telah dia bangun dengan susah payah."


Luna mengangguk. Ia paham sekali pada apa yang Tiara maksud. Mana ada orang yang mau bisnisnya berantakan setelah bersusah payah membangun kerajaan bisnis tersebut selama belasan hingga puluhan tahun.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh akhirnya mereka tiba di pasar. Arjuna memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang terlihat sepi, tepat di bawah pohon akasia yang begitu rindang.


Tiara yang begitu bersemangat segera membuka pintu mobil tanpa memeriksa apakah ada orang di dekat mobil mereka atau tidak, sementara Arjuna menerima telepon yang baru saja masuk ke ponselnya.


Buk!


Seorang pria yang tengah mengendarai sepeda tiba-tiba saja terjatuh karena tersenggol oleh pintu mobil yang Tiara buka dengan mendadak. Pria yang ternyata adalah preman pasar itu seketika menjadi marah. Ia bangkit berdiri dan melempar sepedanya menjauh dari mobil, lalu ia menghampiri Tiara dengan tatapan mengerikan.


"Maafkan aku, Kak, aku sama sekali tidak sengaja," ujar Tiara.


"Di mana matamu, Sialan!" Pria itu mendorong Tiara dengan begitu kuat. Beruntung Luna datang tepat waktu untuk menahan tubuh Tiara agar gadis itu tidak terjatuh.


"Jangan kasar dong!" seru Luna.


Preman itu tertawa sinis. Melihat Luna yang memelototinya membuat preman itu menjadi marah. Ia menarik lengan Luna dan menjambak rambut wanita itu dengan kuat, membuat Luna meringis kesakitan.


"Perempuan-perempuan dari kota memang tidak punya sopan santun. Kurang ajar sekali kamu, hah! Apa kamu tidak tahu siapa aku?!" ujar si preman.


Arjuna yang baru saja melakukan panggilan telepon menggunakan headset bluetooth tidak menyadari keributan yang terjadi di belakang mobilnya. Ia begitu serius mengobrol dengan Wisnu, sehingga tidak melihat jika Luna dan Tiara sedang diintimidasi oleh seorang preman.


"Oke, baiklah, Wisnu. Ubah saja jadwalnya, katakan pada mereka kalau aku memang benar-benar tidak bisa mengadakan rapat hari ini. Katakan saja seperti itu, terserah mereka mau dengar atau tidak." Arjuna memutus panggilan, melepas headset bluetooth di telinganya dan segera turun dari dalam mobil.


Di saat ia telah berada di luar mobil barulah ia mendengar suara Tiara yang menangis dan memohon.


"Tiara," gumam Arjuna, lalu segera melangkah menuju bagian belakang mobil di mana suara Tiara terdengar.


Amarah seketika menyelimuti dada Arjuna, saat ia melihat seorang pria tengah menarik rambut Luna dengan keras, hingga wajah Luna terlihat begitu kesakitan.


Buk! Buk! Buk!


Tinju Arjuna melayang ke wajah si preman berulang kali tanpa peringatan, hingga preman itu jatuh tersungkur di tanah yang keras dan berbatu. Melihat lawannya terjatuh, bukannya menyudahi serangan, Arjuna justru semakin menggila, ia menduduki tubuh preman itu dan kembali melayangkan tinjunya berulang kali ke wajah si preman yang mulai mengeluarkan darah kental dan berbau anyir.


"Kak, sudah, Kak, dia bisa mati," ujar Tiara, memohon pada Arjuna yang seperti orang kesetanan. Namun, Arjuna seolah tidak mendengar apa yang Tiara katakan. "Tiara yang salah, Kak. Tolong sudah, Kak." Tiara semakin menangis sekarang. Ia ngeri membayangkan jika kemarahan Arjuna akhirnya membunuh si preman. Kakak tersayangnya itu bisa saja masuk ke dalam penjara hanya karena membela dirinya.


Melihat usaha Tiara untuk menghentikan Arjuna tidak berhasil, Luna pun akhirnya menghampiri Arjuna, menahan tangan pria itu di udara,dan berkata, "Cukup, Pak, dia bisa mati."


"Tapi dia menyakitimu!" Arjuna berteriak, wajahnya merah dan rahangnya mengeras karena amarah.


"Aku tidak apa-apa, Pak, sungguh." Luna berkata dan langsung menatap ke dalam mata Aruna yang diliputi kekhawatiran. Luna bahkan sedikit tersenyum, ia ingin Arjuna tahu bahwa ia baik-baik saja.


Aruna melunak. Ia segera bangkit berdiri dan menarik Luna ke dalam pelukannya. "Katakan jika aku harus membu_nuhnya."


"Tidak perlu, Pak, aku baik-baik saja. Aku tidak ingin Anda berakhir sebagai tahanan rutan." Luna tersenyum, ia suka sekali saat Arjuna memeluknya seperti sekarang.

__ADS_1


"Syukurlah." Arjuna mengecup puncak kepala Luna, ia bahkan tidak memedulikan kehadiran Tiara yang sekarang tengah memandangnya dan Arjuna bergantian dengan bingung.


Luna melepaskan pelukan Arjuna dari tubuhnya, lalu ia meraih tangan Arjuna dan menyentuh punggung tangan pria itu yang terluka karena adu jotos yang baru saja pria itu lakukan.


"Kita kembali saja ke villa, aku akan mengobati luka Anda sebelum infeksi," ujar Luna.


Arjuna menggeleng. "Tidak usah, kita sudah sampai di sini. Kalian berbelanjalah. Luka ini bukan apa-apa." Arjuna melepas dasinya, lalu melilitkan dasi itu di punggung tangannya. Tidak lupa ia juga melepas jasnya dan melempar jas itu ke dalam mobil begitu saja. Memang akan terlihat aneh jika seseorang mengunjungi pasar dengan menggunakan jas dan dasi.


Luna tersenyum. "Baiklah, ayo kalau begitu." Luna kemudian menarik lengan Tiara yang masih terlihat bingung, dan ketiganya mulai berjalan memasuki pasar yang ramai.


Suasana di dalam pasar begitu berbeda dengan di luar pasar. Di dalam pasar begitu ramai dan penuh sesak oleh pengunjung.


Luna dan Tiara berdesakan di antara para pengunjung, menghampiri satu per satu stand yang menjual berbagai macam aksesoris dan benda-benda antik, sementara Arjuna mengekor langkah Luna dan Tiara dengan susah payah. Pria itu mulai berkeringat dan kelelahan, maklum saja karena sebelumnya Arjuna tidak pernah menginjakan kakinya di pasar tradisional.


"Lihat, Kak, boneka." Tiara menjerit begitu melihat stand yang menjual berbagai macam boneka. Gadis itu langsung berlari menuju stand, meninggalkan Arjuna dan Luna begitu saja. Tiara bahkan tidak ingat lagi dan tidak memikirkan keanehan hubungan antara Luna dan Arjuna.


Luna tertawa melihat tingkah Tiara. "Adik Anda lucu sekali, Pak," ujar Luna.


"Benarkah? Padahal Anyelir bilang kalau Tiara itu cerewet sekali."


"Ya, dia memang cerewet, tapi cerewetnya itu menggemaskan sekali," ujar Luna, yang langsung mengusap keringat Arjuna begitu dilihatnya wajah pria itu berkeringat. "Anda lelah?"


Arjuna menggeleng. "Tidak. Aku hanya gerah. Bagaimana bisa orang-orang ini menumpuk di pasar dan berdesak-desakan seperti ini."


Luna tertawa. "Anda tidak pernah ke pasar sebelumnya? Kalau begitu ini adalah pengalaman pertama Anda. Anda kakak yang baik sekali, karena menuruti keinginan adik Anda dengan sepenuh hati. Anda bahkan membatalkan membatalkan rapat di kantor hanya untuk Tiara."


"Aku melakukannya demi dirimu, Luna. Bukan Tiara."


Jawaban singkat yang terlontar dari bibir Arjuna itu seketika membuat dada Luna berdebar hebat.


"Ya, Cantik, aku melakukannya demi kamu." Arjuna mencubit hidung Luna, lalu ia menggenggam tangan Luna dan mulai menyeruak di antara kerumunan untuk menyusul Tiara.


Di saat sedang berdesakan itulah Luna tanpa sengaja melihat dua orang yang ia kenal. Kedua orang itu adalah anak buah Miss. Rana yang bertugas menjaga pintu masuk dan pintu keluar Rumah Merah.


"Astaga, mereka kan anak buah Miss. Rana." Luna bergumam. Ia mengedarkan pandangan, dan ternyata bukan hanya dua penjaga yang saat ini sedang ada di pasar, sedikitnya ada lima yang tertangkap oleh kedua mata Luna.


Kelima pria bertubuh besar dan penuh dengan tato itu celingukan, seperti sedang mencari seseorang.


"Apa mereka mencariku?" gumam Luna, ia lalu mengambil masker yang ada di dalam tasnya, memasang masker itu, kemudian Luna merapatkan tubuhnya pada tubuh Arjuna yang tinggi menjulang, agar kehadirannya tidak terlihat oleh kelima penjaga yang sedang jelalatan.


Melihat gelagat Luna, Arjuna pun bertanya. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba memakai masker?"


"Aku tiba-tiba sedikit mual." Luna menjawab singkat.


"Wajar kalau kamu mual. Di sini sesak sekali." Arjuna mengusap punggung Luna agar wanita itu merasa sedikit lebih rileks. Ia lalu meneriaki Tiara yang masih asyik memilih boneka. "Tiara! Sudah belum belanjanya? Cepatlah sedikit, Luna tidak enak badan."


Luna mencubit pinggang Arjuna. "Biarkan saja dia berbelanja, Pak, aku bisa menunggu."


"Tapi aku tidak bisa," ujar Arjuna. "Aku tidak bisa melihatmu kesakitan."


Luna tertawa. "Anda bucin sekali. Aku merasa terhormat."


Arjuna berdecak. "Kamu sedang mengandung anakku, ingat! Itulah sebabnya kamu adalah segalanya di hidupku sekarang."


"Ah, benar sekali. Aku ini bukan siapa-siapa jika tidak sedang mengandung anak Anda."

__ADS_1


Arjuna menjentikkan jarinya. "Bagus kalau kamu paham."


Untunglah Luna sedang memakai masker yang menutupi hidung hingga dagunya sekarang, jika tidak, Arjuna pasti akan melihat bagaimana cemberutnya Luna saat mendengar ucapan pria itu.


"Dasar tidak punya hati," gumam Luna.


***


Miss. Rana memperluas daerah pencarian. Jika sebelumnya wanita itu hanya mengirim anak buahnya untuk memeriksa gang-gang sempit di daerah perkotaan yang tidak jauh dari Rumah Merah, kali ini wanita itu mengutus beberapa anak buahnya ke pinggiran kota, hingga desa terdekat. Ia sama sekali tidak ingin kehilangan Luna yang selama ini menjadi aset terpenting dalam kerajaan bisnisnya. Tidak dapat dipungkiri jika Luna adalah pela_cur termahal yang ia miliki. Sehingga pendapatannya akan lebih banyak jika Luna bekerja dengan baik.


Bimo, seorang pengusaha muda yang sejak beberapa hari lalu menuntut pertanggungjawaban Miss. Rana karena tidak bisa menghadirkan Luna di dalam kamar VVIP yang telah ia sewa di Rumah Merah terlihat begitu marah sekarang. Pria itu bahkan mengusir wanita yang Miss. Rana bawa sebagai pengganti Luna.


"Aku sudah bayar lebih. Mana wanita itu? Di mana Luna? Kau mau Luna, bukan dia!" Bimo berteriak, sambil mendorong wanita berpakaian seksi yang berdiri di hadapannya.


Miss. Rana dan seorang pela_cur bernama Gracia terkejut begitu mendengar teriakan Bimo.


"Sabar, Pak, kami sedang mencari Luna. Dia izin libur beberapa hari lalu karena orang tuanya sakit. Mungkin orang tuanya belum sembuh, itulah sebabnya dia belum juga datang."


"Bohong! Apa kalian membohongiku!"


"Tidak. Aku tidak mungkin berbohong pada Anda. Anda adalah pelanggan nomor satu buatku, Pak." Miss Rana menjawab dengan yakin.


"Baiklah, aku tunggu dua hari lagi. Jika Luna tidak ada, lihat saja apa yang bisa kulakukan padamu. Dasar nenek tua!" Bimo keluar dari kamar setelah mengatakan hal itu.


Miss. Rana terlihat kesal, selain karena mendapat ancaman dari Bimo, tentu saja karena pria itu mengatai dirinya dengan sebutan nenek tua.


"Boy! Boy!" Miss. Rana berteriak, memanggil Boy yang sejak tadi berdiri dengan siaga di luar kamar.


"Ya, Miss."


"Cari tahu apakah mereka yang berpencar sudah menemukan Luna." Perintah Miss. Rana.


Boy mengangguk, lalu segera keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.


"Lihat saja, Luna, kalau sampai aku menemukanmu, aku akan memberimu pelajaran sampai kamu mencium kakiku untuk memohon ampun!" gumam Miss. Rana.


***


Zion bangkit dengan susah payah dari atas ranjang saat ia merasa tenggorokannya kering dan botol air mineral di samping tempat tidurnya kosong. Ia kemudian melangkah menuju pintu kamar dan kemudian langsung menuju ke dapur sambil membawa botol air yang kosong.


Sesampainya di dapur, Zion mendapati Anyelir sedang duduk seorang diri di depan meja makan. Wanita itu terlihat melamun, sementara tangannya sibuk mengaduk teh di dalam cangkir yang mulai dingin.


"Aku butuh air," ujar Zion, sambil meletakan botol air mineral di hadapan Anyelir.


Anyelir yang terkejut langsung bangkit berdiri dan meraih botol dari atas meja. "Di mana bajumu? Seharusnya kamu pakai baju sebelum keluar dari kamar." Anyelir berkomentar sebelum menghampiri dispenser dan mengisi botol air milik Zion.


"Aku kan tidak punya baju. Bajuku yang kukenakan telah digunting oleh Luna."


"Ah, benar juga." Anyelir kemudian Meletakan botol yang telah terisi air di atas meja, dan ia kembali duduk di kursi yang sejak tadi ia duduki.


Zion menghampiri Anyelir, mengambil botol air dari hadapan wanita itu. "Trims," ujar Zion.


Anyelir tidak menjawab. Ia terlalu gugup sampai-sampai lidahnya terasa begitu kelu. Bagaimana tidak gugup jika saat ini matanya terpaku pada lekukan-lekukan indah di perut dan dada Zion.


menyadari tatapan Anyelir yang terpaku pada tubuhnya, Zion lantas menunduk dan berbisik di telinga wanita itu. "Kamu tertarik padaku? Jika iya, kuizinkan kamu tidur denganku saat aku sudah pulih."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2