LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
PERJANJIAN RUMAH TANGGA


__ADS_3

Perasaan Luna tidak nyaman. Luna yang langsung menuju dapur begitu tiba di rumah untuk meminum segelas air tiba-tiba saja menjatuhkan gelas yang ia pegang, dan ketika ia berusaha untuk membersihkan serpihan kaca yang berantakan di lantai, jemarinya tertusuk oleh serpihan kaca tersebut dan berdarah.


"Aah," rintih Luna.


"Luna, ada apa?" tanya Arjuna, yang langsung berlari menuju dapur saat mendengar suara gelas yang jatuh ke lantai.


Luna bangkit berdiri dan menunjukan jemarinya yang terluka pada Arjuna. "Perasaanku tidak enak."


Arjuna tersenyum, lalu meraih jemari Luna yang masih mengeluarkan darah dan memasukan jemari tersebut ke mulutnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Luna, sambil berusaha menarik jemarinya dari dalam mulut Arjuna.


"Aku sedang mengobatimu," ujar Arjuna.


Luna merona. Cara Arjuna mengobati luka di jemarinya sangat menyenangkan dan membuat dadanya berdebar.


"Tidak perlu, tapi terima kasih," ujar Luna. Ia kemudian duduk di hadapan meja makan dan menyentuh dadanya yang masih berdebar.


Wajah Luna yang terlihat cemas membuat Arjuna bertanya-tanya apa gerangan yang dirasakan oleh wanitanya itu saat ini.


"Ada apa, Luna? Apa perutmu sakit?" tanya Arjuna yang terlihat khawatir.


Luna menggeleng. "Tidak, perutku baik-baik saja. Aku hanya merasa tidak nyaman. Entah kenapa, tapi aku merasa gelisah sekali, Juna, seolah ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi."


Arjuna menyentuh puncak kepala Luna dan berkata. "Itu hanya perasaanmu saja. Kita sedang bahagia sekarang. Ibu dan ayahku sudah mengetahui hubungan kita, dan mereka menerima kehadiranmu dengan baik. Semua berjalan lancar, Luna. Bimo bahkan tidak akan berani mengganggumu lagi setelah dia tahu bahwa kamu adalah istri sahku. Tidak ada hal buruk yang sedang terjadi, dan tidak akan pernah ada hal buruk asalkan kita selalu bersama."


Luna tersenyum. Mendengar perkataan Arjuna qmembuatnya merasa bahagia, tetapi tetap saja tidak membuat hatinya lantas menjadi tenang. Luna tahu, bahwa ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi saat ini. Ia hanya perlu mencari tahu, apa kira-kira sesuatu itu.


"Aku ingin bicara pada kalian berdua, jika kalian berdua tidak keberatan dan jika kalian berdua ada waktu untuk mendengarkanku!" ujar Anyelir yang tiba-tiba muncul di dapur dan menatap Arjuna juga Luna dengan tatapan mencela.


Arjuna dan Luna menoleh ke arah Anyelir.


"Ada apa? Bicaralah, Nye," ujar Arjuna.


"Aku tidak akan bicara di sini." Anyelir kembali berkata dengan ketus, lalu segera memunggungi Arjuna dan Luna.

__ADS_1


Arjuna menghela napas. Ia terlihat lelah, karena harus terus-terusan menghadapi Anyelir yang keras kepala dan banyak maunya. "Ayo, kita harus susul dia sebelum dia mulai mengamuk dan melukai dirinya sendiri karena kesal." Arjuna mengulurkan tangan pada Luna, meminta Luna untuk ikut dengannya menemui Anyelir.


Luna mengangguk dan segera berdiri sembari menyentuh telapak tangan Arjuna. Ia tahu betul bagaimana perangai Anyelir yang luar biasa manja. Sifat manja Anyelir itu membuat dirinya merasa penting dan apa yang diinginkannya harus segera dituruti.


Arjuna dan Luna menyusul langkah Anyelir yang ternyata menuju ke ruang kerja Anyelir. Setibanya di dalam ruang kerja Anyelir yang lumayan luas, Luna dan Arjuna duduk di sofa yang ada di tengah ruangan, sementara Anyelir sibuk mengeluarkan selembar kertas dari dalam laci meja kerjanya.


"Apa itu, Nye? Apa kamu lagi-lagi membuat perjanjian tanpa memberitahu kami?" tanya Arjuna.


Anyelir diam saja, ia menutup laci mejanya, meraih sebuah pena dari atas meja kerja, lalu menghampiri Arjuna dan Luna.


"Bubuhkan tanda tangan kalian," titah Anyelir tanpa basa-basi sembari meletakkan kertas yang ia bawa di atas meja.


Arjuna meraih kertas itu dari atas meja dan mulai membaca isinya. Luna yang penasaran dengan isi dari kertas itu pun menempelkan pipi pada pundak Arjuna dan ikut membaca tulisan tangan Anyelir. Sejak hubungannya dengan Arjuna direstui oleh Maria dan Dermawan, Luna memang tidak segan-segan untuk menempel pada Arjuna, meskipun ada Anyelir di dekatnya.


"Wah, ini apa?" celetuk Luna, sesaat setelah ia membaca tulisan cetak tebal pada bagian atas kertas.


"Apa matamu buta?! Kalau sudah baca seharusnya jangan tanya lagi!" komentar Anyelir dengan sinis.


"Maaf," ujar Luna.


Anyelir diam saja, ia enggan berdebat dengan Arjuna yang sedang bucin setengah mati pada Luna. Sementara itu Luna mulai membaca tulisan di atas kertas dengan suara yang cukup lantang.


PERATURAN RUMAH TANGGA ARJUNA EVAN.


°Senin, selasa, rabu, waktu Arjuna untuk Luna.


°Kamis, jumat, sabtu, minggu, waktu Arjuna untuk Anyelir.


°Semua milik Arjuna, adalah milik Anyelir, dan Luna tidak berhak mendapat apa pun tanpa izin dari Anyelir.


°Apa pun yang ingin Luna lakukan harus atas izin dari Anyelir.


°Hanya Anyelir yang berhak mengambil keputusan atas segala hal yang terjadi di dalam rumah tangga yang dipimpin Arjuna.


"Wah, kamu yang membuat ini, Anye?" tanya Luna, setelah ia selesai membaca. "Kenapa waktumu lebih banyak sehari dibandingkan waktuku dengan Arjuna?"

__ADS_1


Anyelir merampas kertas perjanjian itu dari tangan Luna dan meletakkan di atas meja.


"Tentu saja aku yang membuat, memangnya mau siapa lagi. Sekarang tanda tangani saja dan jangan cerewet." Anyelir berujar dengan malas. "Kalau kamu tidak mau, maka jangan harap aku akan diam saja melihat kamu merebut Arjuna dariku!"


Ancaman terselubung yang Anyelir ucapkan mampu membuat Luna ketakutan. Ia tidak ingin menjauh dari Arjuna apa pun alasannya. Dan ia pun tidak ingin jika Anyelir memisahkannya dari Arjuna. Maka, menandatangani surat perjanjian yang Anyelir buat adalah langkah awal untuk mengambil hati Anyelir kembali, agar Anyelir menerima kenyataan bahwa ia dan Arjuna tidak lagi dapat dipisahkan.


Luna meraih pena dan bersiap untuk menandatangani kertas perjanjian, tetapi Arjuna menahan tangan Luna.


"Jangan gegabah. Aku rasa perjanjian ini berat sebelah," ujar Arjuna.


Anyelir mendorong bahu Arjuna. "Berat sebelah bagaimana? Katakan saja kalau kamu tidak ingin menandatangani perjanjian ini. Kenapa kamu keterlaluan sekali, Arjuna!"


Anyelir marah, lalu wanita itu menyerang Arjuna dengan tinjunya tanpa henti. Tidak sakit memang, tetapi tetap saja Luna tidak tega melihat Arjuna mendapat perlakuan demikian dari Anyelir.


Luna susah payah berusaha melerai, menjauhkan Anyelir dari Arjuna, tetapi percuma saja karena Anyelir sudah lepas kendali.


Di saat itu ponsel Luna berdering, menandakan ada panggilan masuk ke ponsel miliknya.


"Diamlah dulu kalian berdua. Aku harus menerima telepon!" seru Luna, yang terlihat mulai kesal.


Anyelir menghentikan gerakan tangannya saat mendengar teriakan Luna. "Wah, kamu berani berteriak padaku!"


Luna tidak menghiraukan Protes yang terlontar dari bibir Anyelir. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku dress dan segera menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


"Cek pesan masuk di whatsapp-mu."


Suara seorang wanita langsung mengatakan hal demikian, bahkan sebelum Luna mengucapkan halo. Luna menatap layar ponselnya dengan bingung setelah panggilan singkat itu berakhir, dan ....


Drrtt!


Notifikasi muncul di layar ponsel Luna, dan tubuh Luna seketika menegang saat ia melihat apa yang baru saja masuk ke dalam pesan whatsapp-nya.


"Astaga Zion!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2