
Setelah tengah hari Zion dan Luna bersiap untuk meninggalkan Rumah Merah dengan cara mengendap-endap. Zion keluar terlebih dahulu melewati pintu depan, tidak terlalu sulit bagi Zion karena ia merupakan salah satu penjaga yang memang dibebaskan untuk bepergian ke mana pun, tidak seperti para pekerja wanita yang selalu diawasi dan dibatasi ruang geraknya.
Sesampainya di luar kawasan Rumah Merah, Zion berlari ke bagian belakang bangunan tersebut dan mulai bersiul saat ia tiba di balik pagar beton yang membatasi antara bangunan utama dan juga jalan setapak.
Luna yang telah menunggu di bagian belakang gudang Rumah Merah segera melempar ransel yang telah ia siapkan. Ransel itu berisi pakaian miliknya dan juga milik Zion. Setelah ransel berada di balik pagar, Luna pun segera memanjat tangga yang telah disiapkan Zion beberapa saat lalu sebelum Zion pergi melalui pintu depan.
"Hai," ujar Luna, saat ia tiba di atas pagar dan melihat Zion yang berdiri di baliknya dengan wajah khawatir.
"Melompatlah," ujar Zion, sembari mengulurkan kedua tangannya ke depan, bersiap untuk menangkap Luna jika Luna melompat.
Luna mengangguk, kemudian ia melompat sesuai perintah Zion. Beberapa saat kemudian, Luna telah berada di dalam gendongan Zion yang memang sengaja menangkap tubuh wanita itu agar tidak menghantam tanah keras di bawahnya.
"Trims," ujar Luna, lalu mengecup pipi Zion.
Zion menurunkan Luna dari gendongannya dan berkata, "Jangan terus lakukan itu. Nanti aku bisa jatuh cinta padamu."
Luna tertawa. "Mana mungkin. Kita berteman sudah cukup lama, dan aku menikmati status hubungan kita sebagai teman. Teman tapi mesra tidak masalah buatku. Asal tidak lebih."
Zion diam saja. Ia tidak terlalu menanggapi perkataan Luna, karena pikirannya sedang kacau saat ini. Ia sibuk memikirkan Luna yang akan menikah. Walaupun pernikahan itu hanya pernikahan sementara, tetap saja Zion merasa kesal dan sedikit cemburu karena Luna akan menjadi milik pria lain sebentar lagi.
***
Matahari mulai tenggelam, menyisakan gurat kemerahan di langit senja yang terlihat begitu indah. Zion dan Luna tiba di Villa mewah milik Arjuna Evan tepat sebelum maghrib. Villa itu keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu, dengan pekarangan yang dipenuhi tanaman bunga berwarna-warni yang begitu indah dipandang mata. Letak Villa itu begitu terpencil, tidak terlihat rumah lain di sekitar Villa, hingga suasana terasa begitu sunyi dan sedikit menyeramkan bagi Luna yang terbiasa tinggal di tempat ramai.
Anyelir yang melihat kedatangan Luna dari teras Villanya segera berlari menghampiri Luna dan memeluk wanita itu. "Aku pikir kamu tidak akan datang," ujarnya, terdengar lega.
"Aku pasti datang, Bu. Demi Anda." Luna menjawab.
Anyelir tersenyum, lalu mengalihkan tatapannya ke Zion yang berdiri dengan wajah cemberut di samping Luna. "Dia ...?"
"Kekasihku. Namanya Zion."
Anyelir mengulurkan tangan, berniat untuk menyalami Zion, tetapi Zion tidak menghiraukan uluran tangan Anyelir. Alih-alih menyambut uluran tangan wanita itu, Zion malah menarik Luna dan mengajak Luna melanjutkan langkah.
__ADS_1
"Beritahu saja di mana kamar kami," ujar Zion, sembari terus berjalan.
Anyelir menggaruk tengkuknya, ia tidak bisa mendapat penolakan, sehingga ia sedikit tersinggung. Namun, hanya sedikit, tidak lebih, toh ia memahami bagaimana perasaannya Zion sebagai kekasih Luna.
Zion dan Luna akhirnya tiba di bagian dalam Villa yang sangat luas. Tidak banyak perabotan seperti yang ada di rumah Anyelir, hingga ruang tamu Villa terasa lebih lapang dan nyaman dilihat. Belum lagi langit-langitnya yang begitu tinggi menambah kesan sejuk pada bangunan itu.
Arjuna yang sedang duduk di sofa segera bangkit berdiri dan menghampiri Luna begitu ia melihat Luna memasuki ruang tamu.
"Kamu datang," ujarnya
Luna mengangguk.
"Sebenarnya aku tidak ingin dia datang. Dasar suami istri pembawa sial!" Zion berucap sembari menatap Arjuna dengan tatapan tidak suka yang begitu menusuk.
Sebenarnya Luna tidak meminta Zion untuk bersikap dingin pada Arjuna dan Anyelir, tapi tidak masalah juga bagi Luna jika Zion memilih untuk bersikap demikian, toh hal itu akan semakin menyempurnakan sandiwaranya.
Luna mengelus dada Zion. "Sudahlah, jangan bicara begitu," ujar Luna.
"Ah, ayo, Luna, Zion, aku antar ke kamar kalian, Luna bisa istirahat sebentar sebelum tukang make up datang." Anyelir memecah keheningan yang terasa tidak nyaman.
Luna mengangguk, dan buru-buru menarik lengan Zion agar pria itu mengikuti langkahnya.
Setelah beberapa saat menyusuri lorong yang berpencahayaan remang, akhirnya Anyelir tiba di sebuah pintu yang berada di tengah-tengah lorong. Terdapat sedikitnya lima pintu lagi di lorong itu.
"Semua yang ada di Koridor ini adalah kamar tamu," ujar Anyelir, lalu membuka pintu yang ada di hadapannya dan mempersilakan Luna dan Zion untuk masuk.
"Oke, Anda boleh keluar. Aku butuh bicara empat mata dengan Luna. Jika Anda ingin tahu alias kepo, Anda bisa tinggalkan mata Anda di sini." Zion lagi-lagi berujar dengan sinis ke Anyelir.
Mendengar ucapan Zion, Anyelir bergidik. Ia lalu buru-buru keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan cepat.
Luna menggelengkan kepala. "Bersikaplah biasa, Bu Anye takut padamu."
"Bagus kan, itu tandanya aku memang terlihat menakutkan. Pacar yang sempurna adalah pacar yang menakutkan, Lun." Zion menanggapi keluhan Luna. "Jadi yang di depan tadi adalah calon suamimu?" tanya Zion, sembari berjalan ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya dengan kasar
__ADS_1
"Iya, dia suami Bu Anye."
"Tampan juga. Bagaimana kalau kamu jatuh cinta padanya, Lun?"
Luna tertawa. "Tidak mungkin."
"Kalau iya, bagaimana?" Zion bangkit untuk duduk di tepi ranjang, disusul oleh Luna yang kemudian duduk di sebelahnya.
"Kalau aku bilang tidak, ya, tidak. Jangan cemas, Zi."
"Siapa yang cemas? Aku tidak cemas sama sekali." Zion menjawab dengan sinis. Ia lalu berdiri dan menarik lengan Luna menuju pintu. "Keluarlah, aku sedang tidak ingin melihatmu."
"Kamu mengusirku? Aku juga butuh istirahat, Zi. Jangan begini dong." Luna protes saat Zion membuka pintu dan mendorongnya keluar dari kamar."
Zion menghela napas dengan berat sebelum ia berkata, "Kamu bisa berbaring di mana saja. Asal jangan di ruangan yang sama denganku, apalagi di sampingku dan seranjang denganku. Aku tidak mau."
Bruk!
Pintu menutup dengan kasar tepat di hadapan Luna, membuat Luna terkejut setengah mati.
"Dia benar-benar marah padamu, ya?"
Suara seorang pria mengejutkan Luna. Luna menoleh ke asal suara dan mendapati Arjuna tengah memandang ke arahnya sembari berkacak pinggang.
"Ya, tentu saja dia marah. Dia cemburu berat." Luna menjawab sekenanya.
"Anyelir tidak secemburu itu," ujar Arjuna.
"Ya, karena aku tidak menyukai Anda, itulah sebabnya Bu Anye tidak cemburu. Berbeda dengan mantan Anda, Bu Anye cemburu pada mantan kekasih Anda karena Anda pernah menyukai mantan Anda itu." Luna menjelaskan apa yang menurutnya masuk akal.
Arjuna tersenyum sinis. "Sok tahu. Ayo cepat bersiaplah, sebentar lagi penghulu akan datang. Aku sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama lagi." Arjuna tertawa, lalu berbalik pergi meninggalkan Luna yang kedua pipinya seketika merona merah.
Bersambung.
__ADS_1