
Ternyata perhitungan Vani tidak meleset. Saat ini uang yang tersisa di dalam dompet tinggal beberapa puluh ribu lagi. Sedangkan tanggal gajian suaminya masih satu mingguan lebih dari sekarang. Vani mendadak kebingungan untuk mencari uang tambahan dari mana. Jika minta sama Faisal, tidak mungkin. Pasti nanti suaminya akan beralasan jika uang gajiannya sudah di serahkan pada sang ibu.
"Aku berangkat dulu, Mas." Vani mencium punggung tangan Faisal. Laki-laki itu terlihat menatapnya dengan bingung.
"Tumben berangkat pagi lagi, apa Bik Minah belum datang?" tanya Faisal pada Vania. Pasalnya kemarin Vani bilang jika Bik Minah hanya pulang tiga hari, sedangkan ini sudah haru keempat semenjak Vani mengatakannya.
"Iya, Mas. Bik Minah minta aku bantu-bantu di dapur dulu." Bohong Vani pada suaminya. Padahal tujuan Vani berangkat pagi karena ada sedikit urusan pada majikannya.
"Oh ... kirain Bik Minah masih di kampung." Faisal percaya saja. Vani tidak mungkin membohonginya.
"Apa mau bareng aja, Van?" tawar Faisal pada sang istri. "Mumpung sama-sama berangkat pagi."
"Nggak usah, Mas. Kantor kamu sama rumah majikan aku 'kan beda arah."
"Ya udah, hati-hati."
" Iya. Assalamualaikum ..."
"Wa'alaikum salam." Faisal menatap kepergian istrinya yang melangkah semakin menjauh. Sementara dirinya juga sudah siap, mengambil tas kerja yang tadi Vani siapkan di atas meja, lantas melangkah masuk ke dalam mobil.
.
.
.
Vani langsung melangkah masuk setelah turun dari angkutan umum yang ia tumpangi. Wanita itu bergegas menuju dapur dan menemui Bik Minah lebih dulu.
"Apa Pak Renan udah berangkat, Bik?"
Suara Vani membuyarkan konsentrasi perempuan paruh baya itu yang tengah sibuk dengan peralatan masaknya.
"Lha, Neng Vani udah datang?" tanya Bik Minah terheran-heran.
"Apa Pak Renan udah berangkat kerja, Bik?" Vani mengulang pertanyaannya lagi.
"Eh, belum, Neng. Mungkin sebentar lagi turun untuk sarapan," ungkap Bik Minah. Lalu tangannya kembali lagi pada peralatan masak yang tengah ia cuci.
"Oh gitu ya, Bik." Vani lega karena ia tidak sampai datang terlambat. Setidaknya masih memiliki waktu untuk berbicara sebentar pada majikannya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa, Neng? Apa kemarin ada masalah?"
"Nggak, Bik. Cuma ada keperluan dikit aja sama Pak Renan. Nanti tolong panggil saya kalau Pak Renan turun ya, Bik?"
Bik Minah mengangguk setuju. Vania pun melangkah menuju kamar pembantu yang di sediakan untuknya. Meletakkan tas yang ia pakai, lalu mengambil peralatan kebersihan untuk memulai pekerjaannya hari ini.
Sementara sepuluh menit setelah Vani pergi dari area dapur, Renan melangkah menuruni tangga menuju meja makan yang bersebelahan dengan ruangan dapur. Melihat menu yang tersedia di sana, Renan kembali teringat dengan masakan Vani selama Bik Minah ijin pulang kemarin.
"Bik .."
"Ya, Pak?" Bik Minah buru-buru mematikan kran Wastafel dan mengelap kedua tangannya yang basah.
"Apa Bik Minah bisa buatin nasi goreng?" tanya Renan tiba-tiba.
Bik Minah yang mendengar permintaan aneh majikannya hanya bisa menatapnya dengan wajah bingung.
"Bapak kepingin nasi goreng?" tanya perempuan itu.
"Ya. Seperti buatan Vani, apa bisa?"
"Vani?" ulang Bi Minah lagi. Seketika pikirannya jatuh pada sosok wanita yang selama tiga hari kemarin menggantikan tugasnya melayani laki-laki itu.
"Apa Bapak mau Neng Vani yang buatin lagi?" Pertanyaan Bik Minah membuat Renan mengalihkan pandangan kearahnya. "Vani, maksudnya?"
"Neng Vani juga udah datang, Pak. Baru aja."
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Renan berbinar senang saat mendengar Vani sudah datang pagi ini.
"Pak ...! Bapak baik-baik aja, kan?" Bik Minah terpaksa menambahkan sedikit volume suaranya mendapati laki-laki itu terdiam dan hanya mengulas senyum. "Saya atau Neng Vani yang buatin nasi gorengnya, Pak?" tanya Bik Minah kembali.
"Eh, iya Bik. Vani aja nggak apa-apa, kan?" Menggaruk tengkuknya sendiri.
"Baik, Pak. Saya panggil Neng Vani dulu."
Bik Minah melangkah menuju ruang belakang tempat di mana Vani biasanya memulai aktivitas. Dan benar, Wanita itu terlihat tengah menyiram tanaman di kebun milik majikannya.
"Neng Vani ...!"
Wanita itu langsung menoleh mendengar suara dari Bik Minah. Meletakkan selang ke tempatnya, Vani melangkah menghampiri Bik Minah yang berdiri di dekat pintu.
__ADS_1
"Apa Pak Renan udah selesai sarapannya, Bik?"
Vani mengira begitu. Jadi, pasti Bik Minah buru-buru memanggilnya.
"Belum, Neng. Tapi, Bibik mau minta tolong lagi sama Neng Vani," ucap perempuan paruh baya itu.
"Minta tolong apa, Bik?" tanya Vani dengan sangat penasaran.
"Anu, Neng. Katanya nasi goreng buatan Neng Vani enak, makanya sekarang Pak Renan minta di buatin lagi."
"Oh ...." Vani hanya mengangguk pelan membalas ucapan Bik Minah baru saja. Ia bersyukur saja ternyata masakannya pas di lidah sang majikan.
"Neng Vani mau 'kan buatin lagi? Soalnya Pak Renan udah nungguin di meja makan."
Vani tersentak. Buru-buru ia membersihkan tangannya, lantas melanggar cepat mengekor Bik Minah menuju ruang dapur. Sasampainya di sana, Vani langsung menyiapkan semua bahan yang sudah ia ambil dari dalam kulkas.
Bik Minah di buat terkesima dengan ketrampilan Vani menyiapkan masakan. Bagaimana mungkin selama ini ia tidak tahu jika wanita itu pandai memasak. Bahkan majikannya saja sampai ketagihan dengan masakan Vani.
"Nasi gorengnya udah siap, Pak!" Vani meletakkan sepiring nasi goreng lengkap di hadapan Renan. Laki-laki itu terlihat meneguk ludahnya susah payah bahkan hanya dengan mencium aromanya saja.
"Ini pasti enak." Renan bersuara. Tanpa pikir panjang Renan langsung menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulut.
"Ternyata kamu pinter masak juga ya?" Memuji wanita di sebelahnya. "Persis kaya Bik Minah. Masakan kamu enak, Van!"
Vani menunduk malu mendengar pujian dari laki-laki itu. Ya, Vani memang sudah terbiasa melakukannya. Bahkan dari dulu sebelum menikah pun Vani terbiasa memasak untuk dirinya dan sang ibu.
"Makasih, Pak."
Kunyah-kunyah lagi. Ternyata Renan baru sadar jika hari ini Vani berangkat pagi. Padahal biasanya jam sepuluh baru datang, kata Bik Minah. Sedangkan Bik Minah sendiri sudah kembali lagi ke rumah itu.
"Van ..."
Vani yang hendak meletakkan celemek mendadak menghentikan langkah. Wanita itu memutar tubuhnya lagi menghadap kearah Renan.
"Ada apa, Pak?"
"Tumben kamu udah datang? Eh, maksud saya biasanya jam sepuluh baru datang 'kan Bik?" Merasa pertanyaan tadi kurang tepat. Renan menatap kearah perempuan di sebelahnya lagi.
"Iya, Pak. Neng Vani hari ini emang berangkat pagi." Entah apa tujuan Vani, Bik Minah memilih tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan wanita itu.
__ADS_1
"Pak, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan."