
"Van, kamu nggak apa-apa, kan?" Ini adalah kedua kalinya Renan mengantar Vani pulang. Awalnya Vani menolak, tapi Renan bilang jika anggap saja ini sebagai permintaan maaf darinya. Lagipula, ada yang ingin Renan sampaikan hingga Vani akhirnya setuju menerima tawaran dari laki-laki itu.
"Saya baik-baik aja, Pak," ucap Vani dengan wajah menunduk. Tiba-tiba darahnya berdesir lagi ketika mengingat bagaimana kejadian tadi saat Renan tiba-tiba menarik dan memeluknya. Vani bisa melihat wajah laki-laki itu yang hanya berjarak beberapa senti saja.
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya orang tua kamu. Maaf ya, kalau aku telat."
"Makasih, Pak." Vani meremas jemarinya yang terasa dingin. Dadanya kembali sesak mengingat perihal kematian ibunya.
Setelahnya mereka kembali diam dengan perasaannya masing-masing. Vani masih berusaha menetralkan perasaannya sendiri ketika sebuah mobil menyelip kendaraan milik Renan dengan kecepatan tinggi.
"Itu 'kan mobil Luna," bisik Vani lirih. Ia memastikan sekali lagi.
"Ada apa, Van?" tanya Renan saat melihat wajah bingung Vani.
"Pak, bisa ikutin mobil itu nggak?" tunjuk Vani pada mobil yang melaju di depannya.
"Memangnya itu mobil siapa, Van?"
"Udah, Pak, tolong ikutin aja," perintah Vani pada lelaki itu.
Renan lalu menambah kecepatannya agar bisa segera menyusul mobil yang melaju kencang di depannya. Sekitar tiga ratus meter ternyata mobil itu berbelok kearah cafe. Renan pun masih mengikutinya sampai mobil itu benar-benar berhenti di parkiran.
"Van ...?"
"Itu mobil milik adik ipar saya, Pak," ucap Vani seolah tahu dengan apa yang di pikirkan Renan. Vani ikut melangkah masuk setelah melihat segerombol siswa berpakaian putih abu-abu itu memasuki area cafe.
"Kamu hebat lho, Lun, bisa punya mobil sekeren ini," ucap salah satu teman Luna.
"Iya, kakak kamu baik juga yah? Seperti apa sih orangnya, kapan-kapan kita main ke tempatmu ya?" ucap seorang gadis lagi.
"Main aja. Tapi, Mas Faisal udah punya istri."
"Yah, kita telat dong? Padahal tadinya aku pengen kenalan sama kakak kamu." Terlihat raut wajah kecewa darinya.
"Tapi ya gitu. Istrinya Mas Faisal nyebelin, mandul lagi!"
__ADS_1
"Hahhh ...!!" Ucapan Luna sontak membuat semua teman-temannya menatapnya dengan wajah tak percaya. "Kenapa kamu yakin kaya gitu? Emang kamu udah pastiin kalau kakak iparmu mandul?"
"Emang apa namanya kalau nggak bisa punya anak? Masa udah dua tahun nikah belum juga hamil?"
Vani meremas ujung kain yang menutupi kepalanya. Niat hati hanya ingin memastikan itu mobil Luna atau bukan, Vani malah di buat sakit hati oleh ucapan gadis itu pada para temannya.
"Luna ...!" Vani berteriak di depan gadis itu hingga semua perhatian teman-temannya mengarah padanya. Vani merasa tidak terima lagi-lagi di tuduh mandul. Padahal mereka tidak tahu masalah yang sebenarnya.
"Lun, di–dia siapa?" Salah satu teman Luna menyenggol gadis itu.
"Dia Mba Vani, kakak ipar aku," jawab Luna biasa saja, seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
"Eh, Mba. Maafin kita yah? Kita nggak ada maksud buat ngomongin Mba, kok." Salah satu teman Luna mewakili meminta maaf karena melihat wajah emosi wanita di depannya.
Tapi tatapan Vani hanya mengarah pada adik iparnya.
"Kamu keterlaluan, Lun! Ini balasan kamu sama Mbak yang udah sering bantu kamu?" tanya Vani dengan suara yang meninggi.
"Apa sih, Mba? Nggak usah teriak-teriak lah, malu tahu!" Luna masih bersikap acuh, meski suasana sudah terasa memanas. Apalagi beberapa pengunjung lain kini mulai memperhatikannya.
"Kamu itu nggak tahu apa-apa! Jadi, jangan nuduh sembarangan!"
Luna semakin tidak terkendali. Ia tidak peduli meski sudah jadi tontonan banyak orang.
"Lun, udah, Lun. Malu tahu di lihatin banyak orang." Salah satu teman Luna menarik tangan gadis itu agar segera diam dan tidak menimbulkan keributan lagi.
"Biarin aja, biarin semua orang tahu kalau wanita ini mandul!" ucap Luna secara terang-terangan.
"Luna, cukup!!"
"Apa?!"
"Van, udah!" Renan menarik tangan Vani agar tidak lagi meladeni ucapan gadis di depannya.
Luna hanya melengos. Gadis itu merasa puas sekali telah berhasil mempermalukan Vani.
__ADS_1
"Lepas, Pak!"
"Van, udah, Van! Ayo kita pulang aja!" ajak Renan ketika melihat situasi semakin tidak terkendali.
"Udah mandul, eh sekarang selingkuh lagi. Ck, nggak tahu malu!"
Wajah Vani semakin memerah mendengar tuduhan dari Luna.
"Jangan kurang ajar kamu!" tunjuk Vani tepat pada wajah Luna.
"Van, udah, Van. Percuma meladeni anak kecil seperti mereka," ucap Renan berusaha menyadarkan Vani agar tidak meladeni tingkah konyol adik iparnya.
"Hei, siapa yang Anda bilang anak kecil?" sambar Luna dengan mata yang melotot.
"Dan, siapa yang kamu bilang selingkuh? Apa kamu mau saya tuntut atas pencemaran nama baik?" balas Renan kembali. Ucapan Renan membuat Luna dan teman-temannya kalah telak. Mereka hanya mampu bungkam dan terus menunduk.
"Ayo, Van, saya antar pulang." Renan segera mengajak Vani keluar dari tempat itu.
Sepanjang perjalanan Vani hanya bisa diam dan menyembunyikan rasa malunya karena tadi sempat emosi di depan Renan.
"Maaf, Pak, tadi saya lepas kendali," ucap Vani saat keduanya sudah berada di dalam mobil kembali. "Saya terlalu emosi dengan tuduhan Luna."
"Tak apa, Van. Itu manusiawi kok. Kamu berhak marah." Renan hanya tersenyum membalas ucapan Vani.
"Apa Pak Ren juga akan menganggap saya mandul, hanya karena saya belum juga hamil setelah dua tahun pernikahan saya?" tanya Vani secara tiba-tiba.
"Kenapa saya harus punya pemikiran seperti itu? Lagipula, punya anak atau tidak itu bukan hak kita, Van. Sama seperti jodoh dan kematian, kita nggak mungkin bisa menolaknya, kan?"
"Tapi, mereka selalu menganggap saya mandul, Pak. Hanya karena saya belum hamil sampai sekarang," ucap Vani dengan wajah sedih.
"Apa kamu udah periksa ke dokter? Apa dokter benar-benar udah vonis kamu mandul?" Kini Vani hanya mampu bungkam dengan pernyataan yang Renan berikan. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Nggak usah di jawab, Van kalau kamu nggak yakin," ucap Renan lagi.
Laki-laki itu kembali fokus pada kemudinya. Mengantar Vani sampai depan kompleks perumahan tempat tinggalnya. Tapi, kali ini bukan pas di depan gerbang, melainkan sedikit jauh agar tidak lagi menimbulkan gosip para ibu-ibu komplek.
__ADS_1
Tapi, baru saja Vani hendak melangkah meninggalkan mobil Renan, terdengar suara laki-laki dari arah belakang. Suara tak asing itu seketika menyentak Vani hingga ia merasa gugup sendiri karena ketahuan telah di antar pulang oleh seorang laki-laki.
"Kamu pulang di antar siapa, Van?"