
"Kamu nggak masak lagi, Van?" Seperti biasa pagi-pagi sekali Faisal sudah berpakaian rapi. Lelaki itu melangkah ke ruang makan guna sarapan seperti biasa. Tapi, lagi-lagi meja makan kosong sedangkan istrinya malah asik bermain ponsel di ruang tamu.
"Nggak. Kamu beli aja, Mas. Aku malas masak," ucap Vani tanpa mengalihkan pandangan dari layar pipih itu. Hampir satu minggu ini sikap Vani jadi berubah. Wanita itu tak seperti biasanya akan masak sarapan pagi untuknya, menyiapkan keperluan kerja, Vani terlihat acuh sekali seolah sudah asik dengan dunianya sendiri.
"Kamu kenapa sih, Van? Sikap kamu aneh tahu nggak!"
Wanita itu menengok, menatap wajah suaminya dengan ekspresi yang nampak biasa. "Aneh gimana maksud kamu, Mas? Aku biasa aja, kok!"
"Ya aneh aja. Akhir-akhir ini kamu berubah. Nggak kayak biasanya," ungkap Faisal lagi.
"Itu cuma perasaan kamu aja, Mas."
Padahal Vani memang sengaja melakukan itu sebagai bentuk protes pada Faisal. Enak sekali setiap pagi ia yang susah payah menyiapkan keperluannya, sedangkan di luar sana apa pernah laki-laki itu memikirkan perasaannya?
Huhhhh
"Kalau ada apa-apa ngomong, Van. Biar aku tahu."
"Nggak ada, Mas. Aku cuma males aja. Capek. Kamu kalau mau sarapan bisa 'kan minta ke Ibu kamu?"
Kini justru Faisal yang di buat menganga oleh ucapan Vani.
"Minta sarapan sama Ibu? Kamu nggak salah, Van, nyuruh aku kayak gitu?" tanya Faisal memastikan ucapan Vani baru saja.
"Iya. Minta sama Ibu. Emangnya kenapa? Bukannya wajar seorang anak minta sama orang tuanya sendiri? Kamu pernah bilang gitu, kan?"
Faisal kalah telak mendapat sindiran pedas dari Vani. Ia tidak menyangka jika Vani masih mengingat kata-kata itu.
"Ya udah kalau capek ya nggak usah masak. Nanti aku bisa sarapan di kantor." Faisal mengalah mengakhiri perdebatan daripada urusan makin panjang tidak jelas.
"Nah, biasanya juga gitu apa-apa di kantor."
Entah apa maksud Vani baru saja yang jelas Faisal hanya menggeleng dan menyambar tas di sebelahnya.
"Udah mau berangkat aja, Mas?" Luna terlihat muncul dari luar dengan pakaian sekolah serta tas yang di tenteng di pundak kirinya. Tidak tahu apa yang akan di lakukan Luna pagi-pagi seperti ini hingga sudah bertandang ke rumah sang kakak.
__ADS_1
"Iya, Lun. Kamu belum berangkat?"
"Mba Vani masak apa, Mas? Aku numpang sarapan di sini yah?" Bukannya menjawab Luna justru menerus langkah menuju ruang makan melewati Vani yang masih asik dengan ponsel di tangannya. Luna lalu menyingkap tudung saji yang berada di atas meja makan.
"Lho kok kosong?" ungkap Luna dengan wajah kecewa.
Faisal yang hendak berjalan menuju pintu keluar mendadak menghentikan langkahnya. Laki-laki itu berbalik lagi kearah sang adik yang terlihat merengut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa nggak sarapan di rumah? Apa Ibu nggak masak?" tanya Faisal pada gadis itu.
"Ibu sih masak. Tapi tahu sendiri lah, Mas, gimana masakan Ibu. Nggak enak. Aku maunya sarapan di sini, eh ... malah Mba Vani nggak masak," cebik gadis itu lagi.
"Beli, 'kan Mas udah kasih uang jajan cukup ke kamu. Mba Vani lagi capek, jadi hari ini nggak masak."
"Alahhh alasan aja. Capek apa, sih?! Malah mainan ponsel gitu!"
Tadinya Vani tidak ingin menanggapinya. Tapi melihat Luna yang tak kunjung pergi lama-lama kesal juga. Pagi-pagi malah membuat keributan.
"Emangnya kenapa kalau aku main ponsel? Masalah buat kamu?!"
Vani melengos mendengar ucapan Luna. Biarkan saja lah gadis itu mau bilang apa, Vani tak peduli.
"Mba Vani juga kecentilan tuh, Mas. Godain cowok sebelah." Ternyata Luna benar-benar mengadukan pada Faisal perihal Bagas yang seringkali menggoda Vani.
"Godain gimana maksud kamu, Lun? Nggak mungkin lah, Mba–mu sampai suka sama bocah." Faisal hanya tertawa menanggapi apa yang adiknya katakan.
"Dih, Mas nggak percaya? Kemarin aja aku lihat Mba Vani ngobrol berdua tuh sama Bagas. Hampir setiap hari malah," ungkap gadis itu lagi. Luna berharap Faisal percaya dan memarahi istrinya. Tapi, justru wanita di depan sana sendiri yang menjawab.
"Kenapa kamu nggak ikutan ngobrol juga? Oh ya, Bagas 'kan emang nggak suka sama kamu yah?!" Vani justru mengejek gadis itu dengan terang-terangan.
"Hihhhh ...!" Luna mengeram kesal. Gadis itu sampai menggeretakkan gigi-giginya karena menahan emosi pada Vani.
"Kenapa? Nggak terima?!" Vani benar-benar berhasil membuat Luna terbakar amarah. Beruntung Faisal cepat menarik tangan Luna dan segera membawanya keluar.
"Aku berangkat dulu, Van!" teriak Faisal dari depan sana.
__ADS_1
"Syukurin kamu. Siapa suruh bikin gara-gara!" Vani meletakkan ponsel dengan kasar. Sebenarnya sejak tadi ia hanya pura-pura sibuk dengan benda itu. Vani ingin melihat seperti apa reaksi Faisal saat ia acuh dan tidak lagi memperhatikannya seperti dulu.
"Ini baru awal, Mas. Kamu nggak tahu 'kan gimana tersiksanya aku selama ini?!" Vani mengepalkan sebelah tangannya. Wanita itu berjanji tidak akan lagi lemah seperti dulu yang hanya diam setiap kali mendapat cibiran dari orang-orang di sekitarnya.
.
.
Setelah membawa Luna pergi dari rumah, Faisal langsung masuk mobil dan memacu kendaraan itu menuju kantor. Dalam hati Faisal terus bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat sikap Vani berubah?
Akhir-akhir ini Vani bukan hanya malas memasak saja. Tapi, wanita itu juga sudah tidak pernah lagi memeluknya saat menjelang tidur.
Apa mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku? Atau, dengan duniaku sendiri? Tapi ...
Setengah jam lebih Faisal menghabiskan waktunya menuju kantor. Seperti biasa setelah memarkir mobil, Faisal lantas melangkah cepat menuju lobby kantor yang terlihat belum terlalu ramai.
"Mas Faisal ...?" Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari balik mobil mewah yang baru saja berhenti di depan lobby. Seorang wanita cantik keluar dengan pakaian rapi dan melangkah mendekatinya.
"Tumben udah datang? Biasanya agak siangan dikit." Wanita bernama Maya itu menghampiri Faisal yang hendak berjalan menuju ruang kerjanya.
"Iya. Lagi pengen berangkat pagi aja." Faisal beralasan. Padahal yang sebenarnya Faisal ingin buru-buru sarapan di kantin milik kantor.
"Oh gitu, udah sarapan?"
Rasanya ingin langsung menggeleng dan bilang belum. Tapi, Faisal tidak ingin jika Maya terus-terusan menganggapnya suka dengan gadis itu. Faisal sengaja dekat dengan wanita itu demi menunjang karirnya saja. Selebihnya mereka hanya sebatas rekan kerja biasa.
Hanya saja tanggapan Maya berbeda. Wanita itu menganggap Faisal juga menyukainya meski tahu laki-laki itu sudah beristri.
"Sarapan bareng yuk, Mas. Kebetulan aku belum sarapan," ucap Maya lagi membuyarkan lamunan Faisal.
"Tapi ... aku ..."
"Udah, ayo!" Maya menarik tangan laki-laki itu agar segera mengikutinya.
Oh ya, teman-teman, udah baca BUKAN ANAK PELAKOR belum?
__ADS_1
Baca gih, itu karya aku juga, lopeyuuu😘😘😘