
Bagas tidak menjawab meski Vani bertanya berulang kali. Entah benar apa tidak yang di ucapkan Renan, Vani memilih tidak memikirkannya lagi.
Wanita itu melangkah pulang, di temani Bagas yang menggunakan motornya dengan sangat pelan. Berjalan beriringan menuju rumah mereka masing-masing.
Sampai di depan pagar rumah, ternyata mobil milik Faisal sudah terparkir di depan. Tumben, biasanya sekitar jam lima laki-laki itu baru sampai. Ya sudah, Vani melanjutkan langkah untuk masuk.
"Sampai ketemu lagi, Mba Vani." Vani lupa kalau di sebelahnya ada Bagas. Laki-laki muda itu tersenyum kearahnya.
"Iya ..."
Ketika itu terdengar gelak tawa dari arah dalam sana. Vani mengernyit heran, apa ada tamu? Tapi siapa?
Sampai akhirnya Vani buru-buru melangkah masuk dan memastikan sendiri siapa saja yang tengah bersama suaminya.
"Mba Maya pakai skincare apa sih, bisa glowing gitu mukanya?" tanya gadis muda yang duduk di samping Faisal. Dia adalah Luna–adik ipar Vani.
"Ngapain kamu tanya-tanya?" Bu Widia merasa tak enak karena sejak tadi malah Luna yang banyak sekali bicara. Padahal niatnya supaya Faisal dan Maya dekat, kalau perlu berjodoh sekalian agar bisa di pamerkan pada teman-temannya bahwa menantunya yang sekarang anak orang kaya, tidak seperti Vani.
"Aku cuma tanya, Bu. Emang nggak boleh?"
Wanita cantik di depan sana tersenyum. Maya merasa ibu dan adik Faisal sangat antusias sekali menerima kehadirannya.
"Aku nggak pakai apa-apa, kok. Cuma perawatan di klinik kecantikan langganan keluarga aku," jawab Maya sekenanya. Ia tidak mungkin membeberkan berapa banyak ia menghabiskan uang untuk merawat diri, bisa langsung pingsan nanti dua wanita itu.
"Eh, benarkah? Di mana, Mba? Mungkin kapan-kapan aku pengen coba ke sana." Luna nampak penasaran sekali.
"Nanti kapan-kapan kalau aku ajak, apa kamu mau?" Kesempatan untuk mendekati adiknya, nanti baru Faisal, bisik Maya dalam hati.
"Mau, Mba. Mau banget!" Luna nampak bersemangat sekali. "Kapan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Sementara Vani sudah berdiri di ambang pintu mendengar semua obrolan mereka sejak tadi. Jujur saja ia merasa iri melihat keakraban mereka. Padahal baru pertama kali mereka bertemu.
"Assalamualaikum."
Semua mata tertuju pada wanita berhijab panjang yang baru saja melangkah masuk.
Bu Widia melengos, begitu juga dengan Luna. Kedua wanita itu langsung berubah masam melihat kehadiran Vani.
"Udah puas pacarannya? Dasar nggak punya malu. Percuma aja kamu berhijab kalau kelakuan kamu busuk!" Ungkapan ibu mertuanya sukses memporak-porandakan hati Vani. Wanita itu meremas ujung hijab yang ia kenakan, lalu melangkah pelan mendekati Faisal.
"Mas ..."
"Ngapain pulang? Udah puas pacarannya?" Pertanyaan yang sama terlontar dari bibir Faisal. Vani mundur beberapa langkah, mencerna ucapan dari suaminya.
"Maksud kamu apa, Mas?"
"Jangan pura-pura bodoh. Aku lihat kamu ketemu sama laki-laki brengsek itu lagi," ungkapnya ketus.
"Aku bisa jelasin, Mas. Itu nggak seperti yang kamu lihat. Tadi Pak Ren emang nemuin aku, tapi cuma ..."
"Cuma apa? Dasar wanita murahan. Aku nggak nyangka punya kakak ipar busuk kaya kamu Mba." Luna juga ikutan mengeroyok. Di ruangan itu Vani tak bisa berkutik, apalagi menyanggah tuduhan yang di berikan padanya. Sebab semua memang salahnya, seharusnya tadi ia tidak meladeni Renan yang akhirnya berujung seperti ini.
"Maaf, Mas. Tadi emang Pak Ren ..."
"Kamu berani sebut nama laki-laki itu lagi di depanku, Van?!" tanya Faisal dengan suara meninggi. Laki-laki itu juga bangkit dan mendorong bahu sebelah kiri istrinya. "Keterlaluan kamu, Van!"
Air mata yang sejak tadi Vani tahan luruh seketika. Wanita itu tergugu dengan bahu yang terguncang hebat. Ia merasa selama ini sudah berkorban apapun demi Faisal, termasuk ikut banting tulang demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Salahnya, Vani hanya terlalu lemah hingga tergoda dengan kebaikan yang Renan tawarkan.
"Maafin aku, Mas. Aku janji nggak akan ketemu lagi sama laki-laki itu." Vani sudah terduduk dengan posisi berlutut di depan Faisal. Laki-laki itu tampak terdiam cukup lama.
__ADS_1
Tapi, lagi, suara ibu mertua serta adik iparnya mematik emosi Faisal. Di tambah kehadiran wanita cantik itu.
"Alahhh jangan percaya gitu aja, Nak. Bisa aja dia janji, tapi apa kamu yakin kalau selama ini Vani nggak pernah tidur sama majikannya? Jangan-jangan selama ini Vani sengaja nggak mau hamil biar bisa terus berhubungan dengan laki-laki itu."
Tuduhan ibu mertuanya sungguh keji. Vani secara tidak sengaja memang sudah berselingkuh, tapi tidak pernah sampai separah itu sampai menyerahkan kehormatannya pada laki-laki lain.
"Nggak, Mas. Aku bersumpah atas nama Tuhan, kalau aku nggak pernah ngelakuin perbuatan hina itu." Vani menggeleng di sertai air mata yang semakin deras.
"Bahkan kamu masih berani bersumpah atas nama Tuhan. Munafik kamu, Van!"
Wanita di belakang sana mengembangkan senyum. Entah apa artinya.
"Ceraikan aja dia, Kak. Lalu nikah aja sama Mba Maya. Buat apa punya istri wanita murahan kaya dia." Luna bersuara lagi.
"Apa yang di katakan Luna benar, Nak. Lebih baik kamu ceraikan, Vani aja. Lalu menikahlah dengan Maya. Ibu lebih setuju kamu sama dia."
"Gimana Nak Maya? Kamu mau 'kan nikah sama Faisal?" Bu Widia terang-terangan melamar Maya untuk Faisal di hadapan Vani. Padahal ikrar talak belum terucap sama sekali dari bibir laki-laki itu.
Tega sekali kalian ...
"Asalkan Mas Faisal benar-benar menceraikan Mba Vani. Aku nggak mau kalau jadi yang ke dua."
"Mas ...?"
teriakan Vani menyentak lamunan Faisal. Sejak tadi laki-laki itu hanya menyimak setiap ucapan yang keluar dari bibir sang ibu dan juga adik nya, begitupun dengan pembelaan Vani baru saja.
"Cepetan ngomong, kamu jangan diem aja kaya gini sih!" Bu Widia ikut bangkit dan berdiri di samping anak lelakinya. "Ceraikan Vani sekarang juga, Nak! Ceraikan dia!"
"Tolong ... jangan lakukan itu sama aku, Mas," lirih Vani mengiba. Bahkan tak segan meraih kaki milik suaminya.
__ADS_1
"Jangan kotori sepatuku dengan menyentuhnya! Aku benar-benar kecewa sama kamu, Van!" Faisal menarik kakinya dengan sangat kasar.
Maafkan Aku Mendua ...