
Vani berniat mengambil belanjaannya yang masih layak, tapi tiba-tiba sebuah tangan menahannya. "Mba, tidak usah di ambil. Itukan udah pada rusak."
Vani menarik napas berat mendapati barang belanjaannya memang rusak parah, bahkan tidak ada yang bisa ia ambil lagi.
"Nggak apa-apa, anggap aja sedekah." Vani berucap lagi dalam hati. Terus meyakinkan dirinya sendiri jika semua yang ia lakukan tadi sudah benar.
"Aku ikhlas! Aku ikhlas!" Vani berucap pelan. Ia percaya bahwa setiap kebaikan yang ia lakukan akan kembali pada dirinya sendiri.
Ternyata Ibu tadi belum meninggalkan tempat itu. Vani pun masih terpaku di tempatnya, bingung dengan penampilannya yang seperti itu.
"Gimana aku bisa pulang kalau baju aku kayak gini! Bisa-bisa aku di anggap orang gila!"
"Mba ikut saya aja ya?" Ibu tadi menarik tangan Vani untuk mengikutinya. Dalam keadaan bajunya yang kotor Vani terus mengikuti langkah kaki perempuan itu hingga keluar dari area pasar. Vani lihat Ibu tadi membawanya mendekat ke sebuah mobil mewah.
"Ya Tuhan ... Nyonya kenapa?" Seorang pria paruh baya nampak terkejut dengan kedatangan mereka, mungkin karena melihat penampilan Vani yang sangat kotor.
"Pak Amir, tolong carikan pakaian yang seperti di pakai Mba ini kenakan yah?" Ibu tadi menunjuk ke arah Vani. Pak Amir menatap wanita muda itu sejenak hingga Vani risih di buatnya. Selanjutnya Pak Amir pun melangkah memasuki pasar lagi tanpa bicara sepatah katapun.
"Ini pesanan tadi, Nyonya." Tidak lama, mungkin hanya sekitar sepuluh menit Pak Amir datang lagi dengan menenteng tas kresek hitam di tangannya. Ibu tadi segera memberikannya pada Vani, dan mengajak ke sebuah toilet umum yang terletak di seberang pasar.
"Pak tolong jaga-jaga di sini ya, saya takut jambret tadi datang ke sini lagi."
"Yuk, Mba, saya antar ke toilet umum."
Pak Amir mengangguk patuh. Sedangkan kedua wanita itu melangkah mencari toilet umum di sekitarnya.
Vani segera masuk kedalam salah satu bilik toilet. Dan lima menit kemudian ia keluar dengan sudah menggunakan pakaian yang bersih dan rapi.
"Mba ikut saya sebentar ya?" Ternyata Ibu tadi belum mengijinkan Vani untuk pulang. Vani khawatir sendiri, bagaimana kalau nanti Faisal pulang dan ia belum ada di rumah?
__ADS_1
"Tapi, Bu ....?" Vani melihat tatapan sendu Ibu tadi, ia jadi tidak tega menolaknya.
"Mba ikut saya sebentar yah?" Vani pasrah. Ia tidak tahu ke mana mobil ini membawanya. Keduanya sudah duduk di bangku belakang. Berulangkali Vani menatap kearah luar melihat kira-kira kearah mana mobil itu melaju.
Ternyata Ibu tadi membawa Vani kesebuah supermarket besar. Vani di persilahkan memilih apa saja yang Vani butuhkan sebagai ganti atas barang-barangnya yang rusak tadi.
"Pilih aja, Mbak. Jangan sungkan!"
Vani merasa tidak enak Karena apa yang ia lakukan tadi benar-benar ikhlas, tanpa berniat meminta imbalan apapun. Ia berusaha menolaknya, tapi Ibu tadi terus memaksa Vani.
Dengan sedikit sungkan Vani dorong keranjang belanjaan itu dan memilih beberapa barang yang ia butuhkan. Ibu tadi juga ikut serta, mengambil beberapa barang dan meletakkannya di keranjang yang Vani bawa.
Setelah sampai di kasir, Vani terperangah. Ternyata semua barang yang Ibu pilih tadi di berikan untuknya. Vani berusaha menolaknya lagi, tapi semua sudah terlanjur di bayar, akhirnya Vani menerimanya saja.
"Nggak apa-apa, anggap aja ini ucapan terimakasih dari saya," ucap ibu tadi tersenyum kearah Vani.
"Saya juga ikhlas. Makanya, Mba mau terima ini semua yah?"
"Makasih, Bu, tapi ini terlalu banyak." Vani menunjuk barang belanjaan yang berjejer rapi di jok belakang. Mereka sudah berada di dalam mobil lagi. Ibu tadi meminta pada Pak Amir untuk melajukan mobilnya setelah tahu di mana tempat tinggal Vani.
"Tak apa, itu belum seberapa jika di banding dengan pertolongan Mba tadi." Ibu tadi memperkenalkan diri, begitupun Vani. Mobil melaju sedang melewati jalanan kota yang lumayan padat. Hingga akhirnya sampai di depan gerbang komplek perumahan milik Vani.
"Makasih banyak, Bu."Vani turun sembari mengucap banyak terima kasih. Setelah menunggu Ibu tadi meninggalkan kompleks, Vani segera memutar tubuhku untuk segera melangkah.
Dalam hati Vani bahagia karena mendapatkan barang belanjaan sebanyak itu, tapi juga khawatir jika Faisal sampai marah karena keterlambatannya pulang hari ini.
Saat Vani berjalan menuju rumahnya, ia melihat beberapa ibu yang tinggal di kompleks perumahan itu tengah berbincang. Di sana juga ada ibu mertuanya. Semua nampak heran melihat barang belanjaan Vani yang begitu banyak, hingga salah satu dari mereka menyapa,
"Baru pulang, Van?"
__ADS_1
"Iya, Bu."
Vani mengangguk sambil melempar senyum. Tidak memperdulikan tatapan ibu yang terlihat tidak suka. Namun, terpaksa ia harus menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara dari ibu mertuanya sendiri,
"Lihat tuh, jadi orang kok ya boros amat!" seru ibu mertua yang super duper cerewet itu. Vani tidak menghiraukan, ia melanjutkan langkah lagi menuju pintu rumah.
"Kalau orang tua ngomong tuh di jawab, Van!!" Saat mendapati menantunya hanya diam dan acuh. Padahal Vani hanya ingin menghindari pertengkaran dengan dirinya.
"Aku nggak boros, Bu. Ini buat stok beberapa hari aja. Lumayan 'kan bisa hemat waktu." Akhirnya menjawab ucapan ibu mertuanya.
"Hemat apanya, lha wong belanja segitu banyak kok. Jadi wanita tuh jangan boros- boros, Van. Kasihan Faisal cari uang tiap hari buat kamu!"
Boros? Padahal ini untuk keperluan dapur. Sedangkan apa yang perempuan tua itu sering lakukan? Berbelanja online menghambur uanh untuk kesenangannya sendiri. Lantas, mana yang di sebut boros? Vani mengeram dalam hati. Ingin rasanya Vani menjawab semua tuduhan ibu, tapi Vani masih berusaha menahan diri.
Dan apa katanya tadi, cari uang buatku setiap hari? Apa dia lupa ingatan, jika dirinya juga ikut menghabiskan uang gajian milik sang anak? Lalu, salahnya di mana? Bukankah kewajiban seorang suami adalah memberikan nafkah untuk istrinya.
"Eh, malah bengong! Sana pulang, Faisal udah nunggu kamu dari tadi!" teriak Bu Widia lagi.
Sebenarnya Vani sedikit tersinggung karena perkataan ibu baru saja. Tapi, jika di pikir untuk apa aku meladeninya? Toh selama ini memang seperti itu tabiat Ibu. Vani memutuskan untuk melanjutkan langkah lagi, dan benar saja saat memasuki pekarangan rumah, Vani melihat Faisal tengah berdiri menunggu kedatangannya.
"Tumben pulangnya telat?" Tatapan Faisal beralih pada kedua tangan istrinya yang tengah menenteng banyak sekali barang belanjaan. "Ngapain kamu belanja sebanyak ini?" tanyanya lagi.
Vani belum menjawab. Ia memilih membawa langkahnya masuk ke dalam rumah lalu meletakkan semua belanjaan itu ke lantai.
"Buat stok, Mas. Daripada bolak-balik belanja." Sembari duduk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Vani kira Faisal akan marah saat mengetahui ia terlambat pulang, tapi ternyata Faisal malah ikut duduk tepat di sebelahnya.
"Kamu pakai baju siapa, Van?"
.
__ADS_1