Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Sampai Maut Memisahkan


__ADS_3

Renan dan Vani sama-sama bimbang memikirkan ucapan pak Heri pagi tadi. Pria itu meminta keduanya untuk segera kembali ke kota padahal usia pernikahan mereka belum ada satu minggu. Bagaimana pun Renan masih betah di kampung sang istri, udaranya yang sejuk serta jauh dari kebisingan membuat Renan semakin betah tinggal di sana.


Sedangkan Vani sendiri masih berat untuk meninggalkan kampung halaman. Wanita itu masih ingin berlama-lama tinggal di sana, selain itu ia tidak mungkin merepotkan Nisa terus-menerus untuk merawat rumah peninggalan kedua orangtuanya.


Mengetahui kegelisahan sang istri, Renan akhirnya memberi usul pada Vani,


"Nanti setelah rumah ini di bangun baru kamu bisa sewakan pada orang."


Renan melihat di beberapa bagian sisi memang sudah ada yang rapuh. Jadi ia mengusulkan untuk merenovasi lebih dulu.


"Apa ada yang mau sewa rumah ini, Mas? Sayang aja kalau cuma buang-buang uang buat hal yang nggak terlalu penting."


Vani pikir akan sia-sia saja, toh setelah di renovasi belum tentu ada yang mau menyewanya.


"Jangan mikir kayak gitu, Van. Bagaimanapun ini rumah peninggalan orang tua kamu. Jadi udah kewajiban kita untuk merawatnya."


Benar apa yang di katakan Renan, Vani tadinya juga berpikir begitu. Tapi, Vani tak enak jika harus memakai uang milik Renan. Renovasi rumah membutuhkan biaya tak sedikit.


"Kamu nggak usah mikir macam-macam. Nanti biar aku cari orang buat urus semuanya." Renan mengusap lembut puncak kepala sang istri dan mendekapnya ke dalam pelukan.


Vani lega mendengarnya. Tak di pungkiri banyak sekali kenangan di rumah peninggalan kedua orangtuanya. Tidak mungkin Vani melupakan begitu saja apalagi untuk menjualnya, rasanya Vani tidak akan pernah melakukan itu.


Kepulangan ke kota di undur beberapa hari karena Renan tengah mengurus semua hal yang berkaitan dengan renovasi rumah mertuanya. Dari orang yang akan di tugaskan menjadi penanggung jawab, sampai tukang yang akan ia pakai nanti. Sedangkan Pak Heri dan Bu Aida memilih pulang lebih dulu karena banyak sekali yang harus di mereka urus di kota.

__ADS_1


Setelah semua beres barulah Vani mengajak Renan ke makan kedua orang tuanya untuk berpamitan sebelum laki-laki itu memboyongnya ke kota.


Maka di sinilah sepasang pengantin baru itu. Duduk bersimpuh di dekat dua makan yang saling berdampingan. Vani beberapa kali mengusap sudut matanya yang tiba-tiba saja sudah mengembun. Menyentuh batu nisan sang ibu seraya berbisik lirih,


"Doakan Vani, Bu, Yah, semoga pernikahan kali ini menjadi pernikahan kami yang terakhir."


Di sebelahnya Renan hanya bisa mengusap punggung istrinya dengan lembut. Dalam hatinya Renan berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Vani sampai maut yang memisahkan mereka.


"Kami pamit, Bu, Yah. Doakan semoga rumah tangga kami bahagia. Kami janji akan sering menyempatkan mengunjungi Ibu sama Ayah," bisik Renan sebelum mengajak Vani meninggalkan area pemakaman.


.


.


.


"Keterlaluan kamu, Mas. Jadi selama ini kamu udah bohong sama aku?!"


Hampir semua barang yang ada di kamar pecah berantakan. Faisal hanya bisa menunduk sembari terus membujuk Maya agar tidak kalap lagi sebelum semuanya hancur tak tersisa.


"Aku udah berusaha, May. Tapi ... sampai sekarang pengobatanku belum membuahkan hasil," ungkap Faisal dengan tatapan sendu. Faisal bahkan sudah rutin berobat dan mengikuti saran dari Dokter Dimas, tapi entah kenapa sampai saat ini belum ada kabar baik sama sekali mengenai penyakitnya.


"Kalau tahu kamu lelaki imp0ten aku nggak bakal ngotot pengen nikah sama kamu, Mas."

__ADS_1


Inilah yang di sesalkan Maya, kenapa juga dulu dia yang menjebak Faisal hingga akhirnya mereka di paksa menikah oleh para warga.


"Sebelumnya aku pengen jelasin ini ke kamu, May. Tapi aku takut ..."


"Apa? Kamu takut kalau aku bakal ilfeel sama kamu?" Maya berdecak sinis. Tentu sajalah, siapa wanita yang mau di nikahi lelaki imp0ten, pelit juga, batin Maya meronta.


Maya mengingat uang belanja yang setiap kali Faisal berikan padanya. Bahkan belum ada apa-apa dengan uang jajan yang selama ini ia dapatkan dari kedua orangtuanya. Belum lagi ia harus di recoki oleh mertua serta adik iparnya.


Namun karena Maya benar-benar tidak punya penghasilan selain uang dari Faisal, terpaksa wanita itu bertahan. Tapi saat tahu kenyataan yang seperti ini Maya menjadi yakin untuk segera mengurus perceraiannya dengan laki-laki itu.


"Tolong jangan kasih tahu siapa pun, May. Setidaknya kasih aku waktu beberapa bulan lagi. Aku yakin penyakit ini akan sembuh."


Maya melengos mendengar permintaan Faisal. Menunggu beberapa bulan lagi? Apa bisa bertahan selama itu?


"Jadi ini sebabnya Vani nggak bisa hamil?" Seketika ia ingat dengan mantan istri pertama Faisal. Dulu semua orang menyangka jika Vani yang mandul, tapi herannya wanita itu tak pernah sekalipun membantahnya.


"Aku yakin kamu bisa bertahan. Sama seperti Vani ..."


Maya tambah melotot mendengarnya. Apa-apaan ini?


"Jangan sebut mantan istrimu lagi di hadapanku, Mas!" bentaknya tak terima. Enak saja di samakan dengan wanita kampung itu.


"Iya, maaf. Setidaknya kamu bisa menutupinya dari semua orang. Toh, kalau sampai ada yang tahu aku kayak gini, kamu juga yang bakal ikutan malu."

__ADS_1


Lagi-lagi Maya berdecih. Dia yang tak sempurna kenapa jadi dirinya yang harus ikut-ikutan berkorban.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, Mas. Kalau sampai dua bulan dari sekarang penyakit kamu belum sembuh, terpaksa aku urus surat perceraian kita." Maya berjalan cepat meninggalkan Faisal yang masih terpaku di dalam kamarnya yang sudah layaknya kapal pecah.


__ADS_2