Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Maaf ... Aku Nggak Bisa


__ADS_3

"Gimana, Dok, apa ada perkembangan mengenai terapi yang tengah saya jalani?" tanya Faisal pada dokter muda itu. Laki-laki berpakaian putih itu sedikit menghembuskan napas berat. Dokter Dimas kembali melihat hasil pemeriksaan tadi, lalu beralih pada wajah pasien di depannya,


"Sebenarnya perkembangan cukup baik, Pak. Hanya saja Anda yang kurang rutin menjalani terapi ini."


Lagi-lagi Faisal harus kecewa mendengar pernyataan dari Dokter Dimas. Memang ini salahnya yang kurang bisa meluangkan waktu untuk menjalani pengobatan itu.


Sudah hampir satu minggu ia menikah dengan Maya, dan setiap hari wanita itu selalu meminta haknya sebagai istri. Namun malangnya sampai saat ini Faisal belum mampu memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami.


Pernah sekali Maya berusaha menggodanya, persis seperti yang Vani lakukan dulu. Tapi Faisal tetap berusaha menahan diri, ia hanya takut Maya tahu rahasia besarnya dan akhirnya Maya kecewa.


"Saya sarankan untuk melakukan terapi rutin, Pak. Agar hasilnya bisa maksimal."


Selepas dari rumah sakit Faisal kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaan lagi. Posisinya sebagai wakil direktur di perusahaan mertuanya saat ini membuat Faisal semakin sibuk. Hal itu di manfaatkan Faisal agar bisa menghindar dari Maya untuk sementara waktu.


Pukul sepuluh Faisal baru tiba di rumah. Laki-laki itu melangkah pelan masuk ke kamar dan mendapati Maya yang sudah terlelap di atas ranjang. Lega rasanya, itu akan terus Faisal lakukan sampai dokter menyatakan penyakit itu sembuh.


Ah, malangnya nasibmu May ...


Setelah membersihkan diri lebih dulu, Faisal dengan hati-hati merebahkan tubuhnya di samping Maya, menyusul wanita itu yang sudah lebih dulu terbang ke alam mimpi.


Pagi mulai menyapa. Maya terbangun lebih dulu dan menemukan Faisal sudah ada di sampingnya. Wanita itu mendengus sebal, padahal semalam ia sudah sengaja menunggu tapi tetap saja tidak tahu jam berapa suaminya tiba di rumah.

__ADS_1


Pernikahan yang di idam-idamkan sejak dulu terasa membosankan. Bagaimana mungkin Faisal tetap menahan diri tidak menyentuhnya sedangkan setiap hari mereka berada dalam satu rumah bahkan ranjang yang sama.


Pikiran nakal kembali datang, Bagaimana kalau sekarang ia menggodanya? Pasti akan sangat menyenangkan pagi-pagi buta begini saling bertukar keringat. Maya jadi tidak sabar menunggu sampai Faisal membuka mata.


Wanita itu menarik diri cepat. Berlari kearah lemari pakaian dan meraih sebuah kain berenda tipis yang rencananya akan ia gunakan untuk menggoda Faisal.


Setelah usai menukar pakaian tidur dengan kain tipis tadi, Maya mulai beraksi. Mendekat lagi kearah ranjang dan sengaja menelusup ke dalam selimut yang di pakai suaminya.


Dalam tidur lelapnya Faisal merasa terganggu oleh sesuatu yang sejak tadi menggelitik di bagian perut. Saat ia menyingkap selimut ternyata jari jemari milik istrinya yang tengah bermain-main di sana.


Sejenak Faisal meneguk salivanya dengan susah payah. Sungguh ini suatu godaan yang beratnya baginya. Antara lanjut dan melarikan diri. Otak Faisal tiba-tiba memilih untuk menyambutnya saja. Sayang sekali kesempatan ini di lewatkan, bisik si otak sialan.


Tangan Faisal mulai membalas ikut bermain-main sesuka hati. Meraih apapun yang ia suka tanpa ragu lagi.


Guling sana-sini menikmati setiap sentuhan yang ada. Hingga pada akhirnya keduanya sudah sama-sama melepas apapun yang menjadi penghalang tubuh mereka masing-masing.


Tapi, saat hampir menuju permainan inti, seperti yang sudah-sudah Faisal langsung menarik diri dengan cepat. Laki-laki itu meraih celana kolor yang teronggok di lantai dan memakainya kembali.


"Mas ...!" pekik Maya dengan geram. Bagai sudah di terbangkan tinggi-tinggi lalu di hempas begitu saja. Maya kecewa berat dengan tindakan Faisal yang berhenti secara tiba-tiba padahal kegiatan inti belum di mulai.


"Maaf, May. Aku nggak bisa." Faisal menggeleng lemah. Wajahnya pun masih memerah menahan gairah yang belum sempat tersalurkan.

__ADS_1


"Kenapa, Mas? Apa ada yang salah?" tanya Maya lagi meminta penjelasan dari Faisal.


"A–aku nggak bisa, May. Tolong mengertilah. Untuk saat ini aku nggak bisa melakukan itu."


Maya masih belum paham apa maksud Faisal. Nampaknya ada sesuatu yang tengah Faisal sembunyikan, tapi apa?


"Apa kamu punya wanita lain, Mas? Hingga tak mau menyentuhku sama sekali?" Itulah satu-satunya yang ada di pikiran Maya.


"Sama sekali enggak, May." Faisal menggeleng sekali lagi. Lantas menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Lalu kenapa, Mas? Kenapa kamu selalu nolak aku? Apa begitu tidak menarikkah diriku?!" Maya sampai frustasi sendiri memikirkan apa kekurangan dirinya hingga Faisal terus menghindar.


"Maaf, aku nggak bisa kasih tahu alasannya sama kamu," ungkapnya lirih.


"Akhhhh ...!" Maya berteriak keras. Tak peduli jika tetangga akan mendengar teriakannya. Maya kesal, marah, sekaligus kecewa dengan jawaban Faisal yang tak pasti.


"Kamu keterlaluan, Mas!"


Prank


Prank

__ADS_1


Prank


Detik selanjutnya yang terdengar hanyalah suara berisik dari benda-benda yang Maya lemparkan dengan membabi buta.


__ADS_2