
Renan maupun Vani tidak menyangka jika malam ini akan jadi malam panjang bagi mereka. Niat hati ingin beristirahat terlupakan oleh hasrat keduanya yang begitu menggebu.
Renan terlihat begitu bersemangat sekali menjajahi seluruh tubuh istrinya tanpa terlewat seinci pun. Begitu juga Vani yang dengan senang hati membalas setiap perlakuan Renan padanya.
Mereka saling menikmati, mencurahkan segala rindu yang sudah sejak lama tertahan. Mamacu dan saling meraup indahnya surga dunia yang sudah sejak lama mereka dambakan. Hingga untuk yang entah keberapa kalinya mereka sama-sama mencapai puncak, Renan langsung menggulingkan dirinya ke samping Vani dan memeluk erat tubuh wanita itu.
"Makasih, Van. Aku mencintaimu." Renan memberikan kecupan bertubi-tubi pada kening istrinya. Menyingkirkan helai rambut wanita itu yang tak sengaja menutupi wajah. Vani hanya mampu memejamkan mata, menikmati sisa-sisa percintaan mereka yang telah usai beberapa menit yang lalu.
Jujur saja ini adalah pengalaman pertama bagi Vani. Meski statusnya seorang janda tapi hubungannya dulu dengan Faisal belum sampai pada tahap ini.
Jika dulu Faisal akan mengakhiri permainan di sebabkan oleh ketidakmampuannya, sekarang Vani benar-benar sudah bisa merasakan menjadi seorang istri secara utuh. Renan juga memperlakukannya dengan sangat lembut hingga ia tidak merasakan sakit sama sekali.
"Mas, bangun." Vani menepuk pipi suaminya lembut. Pagi sudah menyapa tapi Renan masih asik bergulung dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Saat tangan Vani menyentuh pipi, Renan sedikit membuka mata, namun detik selanjutnya terpejam lagi seperti semula.
"Sebentar lagi, Sayang. Masih ngantuk," ucapnya lirih.
Vani hanya mengulas senyum. Mendekat lagi kearah Renan dan menepuk pipi laki-laki itu berulang-ulang.
Happp!
Tangan Vani sudah di cekal kuat oleh laki-laki itu. Kedua matanya pun sontak terbuka menatap kearah Vani.
__ADS_1
"Kenapa menggodaku pagi-pagi begini?" Renan menatap wajah istrinya penuh damba, persis seperti semalam saat hendak melewati malam panjang.
"Stop!" Vani langsung menahan wajah Renan yang hendak mendaratkan kecupan pada bibirnya. "Ibu sama Bapak udah nunggu kita di bawah, Mas," ucap wanita itu.
"Sebentar aja, Van. Ibu sama Bapak juga pasti maklum." Laki-laki itu memasang wajah memelas pada Vani. Berharap wanita itu mau mengikuti kemauannya meski hanya sebentar.
Vani hanya menggeleng pelan. Padahal baru semalam mereka melakukannya berkali-kali tapi pagi ini Renan sudah minta untuk mengulangnya lagi.
"Okey."
Senyum terbit pada bibir laki-laki itu. Akhirnya berhasil juga meluluhkan pertahanan Vani.
Vani mendekat dan memejamkan mata, Renan pun senang bukan main. Laki-laki itu perlahan mendekatkan wajah, tapi apa yang terjadi, Vani justru tergelak kencang dan berlari kearah pintu.
Renan mengusap wajah kasar. Bayangan kejadian semalam masih berputar di depan mata. Tapi pagi ini Vani malah sengaja menggodanya lantas meninggalkannya begitu saja.
"Awas kamu, Van. Tunggu aja nanti. Aku nggak akan biarin kamu tidur semalaman," ucap Renan sebelum melangkah ke arah kamar mandi.
.
.
Seperti yang Vani bilang tadi kedua orangtuanya memang sudah menunggu di meja makan. Pak Heri menggeleng pelan menatap wajah Renan yang terlihat berseri-seri. Sedangkan Bu Aida lebih fokus pada rambut anaknya yang masih basah.
__ADS_1
"Kayaknya ndak ujan yah, Pak. Kenapa ada yang basah kuyup," celetuk wanita paruh baya itu. Senyumnya mengejek kearah laki-laki yang baru saja melangkah keluar kamar.
Wajah Vani langsung memerah mendengar sindiran ibu mertuanya, sedangkan Renan malah memasang wajah biasa
"Biarin aja, Bu. Kayak ndak pernah muda aja." Pria di sebelah sana menyenggol tangan sang istri. Renan yang melihatnya hanya mengulas senyum simpul.
"Apa dulu Bapak kayak Renan juga?" Renan malah sengaja membalas ucapan ibunya tadi dengan sebuah sindiran juga.
"Ya ndak beda jauhlah," jawab Pak Heri secara spontan.
Hal itu sontak mendapat pelototan dari wanita di sebelah sana. Niat hati ingin menggoda anaknya malah kini ia sendiri yang di balas telak oleh dua laki-laki itu.
"Hisss ngapain pagi-pagi ngomongnya udah pada nglantur aja. Kamu ndak usah dengerin mereka, Van. Mereka emang sebelas dua belas kalau pas lagi akrab gitu." Bu Aida beralih pada Vani yang sejak tadi diam dan menunduk.
"Ndak apa-apa dong, Bu. Renan dan Vani bukan anak kecil lagi. Lagian sekarang mereka udah nikah. Jadi aman-aman aja kalau mau bahas hal begituan."
Vani melirik kearah suaminya yang sejak tadi memasang full senyum.
"Iya, iya. Terserah kalian aja mau ngomong apa. Ibu ndak mau ikut-ikutan lagi." Wanita itu merenggut merasa kalah oleh jawaban suaminya.
Acara sarapan pagi di mulai. Mereka terlihat fokus pada makanannya masing-masing. Hanya ada suara sendok dan piring yang saling beradu memecah keheningan.
Renan beberapa kali menatap kearah Vani. Entah apa yang tengah Renan pikirkan hingga sejak tadi senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Ren, ada yang pengen bapak bicarakan sama kamu dan Vani," ucap Pak Heri setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi.