
Pak Heri dan Bu Aida benar-benar kecewa mengetahui kebenaran yang baru saja terungkap di depan matanya. Bagaimana pria tadi mengakui bahwa Mika telah menyuruhnya mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Renan. Hingga hampir saja terjadinya petaka itu. Beruntung Dokter Dimas datang dan segera menolong Renan.
"Mika mohon, Tante. Jangan batalin perjodohan ini. A–aku cuma nggak mau kehilangan Renan. Aku sangat mencintainya," ucap Mika sambil memelas di depan kedua orangtua Renan.
Meski tadi sempat mengelak berkali-kali, akhirnya Mika mengaku juga setelah pengakuan pria tadi dan dari hasil pemeriksaan sisa kopi yang di tinggalkan Renan.
"Ini bukan cinta, Mika, tapi obsesi. Kamu nggak mikir kalau kelakuanmu tadi malah merendahkan harga dirimu sendiri?" geram Bu Aida pada wanita muda yang duduk bersimpuh di depannya. Bu Aida tak menyangka jika Mika sampai punya pikiran sebusuk itu.
"A–aku hanya ..."
"Cukup, Mika." Suara berat Pak Heri terdengar. Pria paruh baya itu bangkit dan mendekat kearah Mika,
"Bangunlah. Jangan seperti ini."
Mika tersenyum mendengar suara lembut dari pria itu. Bahkan harapannya tetap besar untuk menjadi menantu dari keluarga Heri Pranaja. "Kamu ndak perlu merendahkan harga dirimu untuk itu, Mika."
"Om ..." Mika tambah tersenyum lebar.
"Bapak ...?" Bu Aida menatap bingung pria di sampingnya. Sebenarnya apa yang mau bapak omongin ke Mika sih?
"Apa artinya Om maafin aku?" Mika takut-takut menatap wajah pria setengah baya itu.
"Tentu saja Om dan Tante udah maafin kamu." Pak Heri tersenyum kearah wanita muda di depannya.
"Bapak apa-apaan sih?" Bu Aida sangat terkejut mendengarnya.
"Artinya juga perjodohan ini tetap berlanjut, kan?"
Kali ini wajah Pak Heri mendadak berubah. Sebagai seorang ayah tentunya ia pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
"Sayangnya ndak bisa, Mika. Om dan Tante emang udah maafin kamu. Tapi, kami juga ndak mau memaksakan Renan lagi tentang perjodohan kalian," ucap Pak Heri yang langsung mendapat jawaban tak terima dari Mika.
"Nggak bisa, Om. Mika udah kasih tahu Mama sama Papa. Bagaimana dengan mereka?" Wanita itu menggeleng keras dengan air mata yang berderai lagi.
Mika pikir Pak Heri akan tetap menerimanya sebagai menantu, tapi nyatanya pria itu juga menolaknya mentah-mentah.
"Biarkan Om yang ngomong sama kedua orang tua kamu. Om yakin mereka pasti akan menerimanya."
Di sudut sana Dokter Dimas bisa tersenyum lega. Lagi pula ia juga tidak setuju jika Renan sampai menikah dengan wanita rubah itu.
__ADS_1
"Aku tetap nggak terima kalian batalin perjodohan ini secara sepihak!" ucap Mika dengan suara mulai meninggi. Sifat aslinya keluar juga. Bu Aida sampai menatap berkali-kali wajah Mika yang nampak memerah.
"Maksud kamu apa, Mika? Kami juga punya hak menentukan wanita seperti apa yang akan menikah dengan Renan. Kami pikir kamu adalah wanita baik-baik. Tapi ternyata kamu seorang yang licik, yang suka menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan apa yang kamu inginkan." Kali ini Bu Aida yang berbicara. Wanita itu sudah sejak tadi geram melihat tingkah Mika yang kian menjadi.
"Nggak! Pokoknya aku mau bilang sama Mama dan Papa supaya kasih perhitungan sama kalian!"
Setelah mengancam kedua orangtua Renan, Mika pergi dari ruangan itu meski dalam kondisi pakaian yang acak-acakan.
Pak Heri hanya menggeleng pelan melihat seperti apa sifat asli wanita itu.
"Untung kita belum jadi menikahkan mereka ya, Bu. Kejadian ini ada hikmahnya. Kita jadi tahu seperti apa sifat Mika yang sebenarnya."
Dua orangtua tadi mengucapkan banyak terimakasih atas pertolongan Dokter Dimas. Laki-laki muda itu malah merasa senang bisa membantu menyelamatkan Renan dari kejadian tak mengenakkan yang nyaris menimpanya.
.
.
.
Dua hari berlalu pasca kejadian di rumah sakit kemarin, Mik benar-benar menghilangkan bak di telan bumi. Entah perginya ke mana wanita itu yang jelas Renan malah senang karena tidak akan ada yang merecokinya lagi setiap hari.
"Sebenarnya kamu ada di mana, Van." Renan berbisik sendiri. Sudah beberapa hari orang tuanya tinggal di sini tapi tak juga merubah suasana rumahnya yang selalu sepi.
"Kamu udah pulang, Ren." Suara Bu Aida memecah keheningan. Dua orang tuanya sedang duduk di depan layar besar yang menyala.
"Udah, Bu." Renan mendekat dan meraih punggung tangan mereka secara berganti.
"Bapak mau bicara sesuatu sama kamu, Ren," ucap Pak Heri.
Langkah Renan terhenti. Padahal baru saja Renan hendak menuju kamarnya.
"Apa Bapak mau ngomong tentang perjodohan lagi?" tebak laki-laki itu.
"Ren ...."
"Biarkan Renan yang menentukan sendiri masa depan Renan, Pak. Kalian tak perlu susah-susah mencarikan jodoh lagi," ucap Renan.
"Dengarkan Bapak ngomong dulu, Ren," pinta sang ibu.
__ADS_1
"Maaf, Bu, Pak, Renan capek. Mau istirahat dulu."
Renan melangkah lagi tanpa menunggu persetujuan dari mereka.
Pak Heri terdengar menghela napas berkali-kali dengan menatap kearah sang istri.
"Bagaimana ini, Bu?"
Melihat adanya penolakan keras dari Renan tadi.
"Bapak tenang aja, nanti ibu yang akan bujuk Renan."
Sedangkan lelaki itu menatap frustasi pada foto wanita yang tersimpan di laci meja kamarnya. Foto seorang wanita tengah tersenyum.
Renan mendekap foto tadi dengan perasaan rindu. "Aku kangen kamu," lirihnya lagi.
Sedangkan di dapur Bik Minah tengah menyiapkan makanan yang akan di antar ke kamar majikannya. Sudah sejak lama kebiasaan itu berlangsung kira-kira semenjak Renan di tinggal pergi Vani, laki-laki itu jadi jarang sekali menyempatkan diri untuk makan malam.
Saat pulang dari rumah sakit Renan pasti langsung masuk kamar dan tidak akan keluar lagi sampai pagi. Hal itu semakin membuat Bik Minah dan suaminya prihatin. Maka perempuan paruh baya itulah yang selama ini telaten mengantarkan makanan ke kamar Renan.
"Biar saya aja, Bik, yang antar makanan itu. Buat Renan 'kan?" Bu Aida meminta nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan susu hangat di sebelahnya. Wanita itu berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamar anaknya.
"Ren ..."
Suara Bu Aida memanggil laki-laki di dalam sana. Cukup lama tidak ada sahutan sama sekali.
"Ini ibu, Ren. Bawain kamu makan malam." Bu Aida masih menunggu di depan kamar Renan.
"Kamu lagi mandi ya?" Berhubung sejak tadi tidak ada jawaban Bu Aida memutus langsung masuk ke kamar Renan.
"Astaga, sampai ketiduran gitu."
Setelah meletakkan nampan berisi makanan tadi Bu Aida mendekat kearah Renan yang terlelap di atas tempat tidur. Ia melepas sepatu, serta dasi yang melilit di leher sang anak.
"Kasihan kamu, Ren, tidur sampai peluk foto gitu."
Bu Aida mengambil bingkai foto yang tengah dipeluk Renan. Wanita itu mengira jika foto itu milik Kania–mendiang istri Renan. Pastilah siapa lagi, bisik Bu Aida.
Tapi saat Bu Aida melihatnya, ia begitu terkejut karena foto itu ternyata ...
__ADS_1