
Sementara di tempat lain tepatnya rumah kediaman Faisal, mereka tengah menyambut anggota baru yaitu Maya, istri dari lelaki itu.
Setelah di gerebek oleh warga sekitar mereka langsung di nikahkan secara siri. Faisal tidak bisa menolak karena semua bukti mengatakan dia bersalah, apalagi pengakuan Maya yang semakin memberatkan dirinya. Memaksa Faisal untuk bertanggungjawab pada Maya.
Bu Widia dan Luna menyambut Maya dengan gembira, menyiapkan apa saja yang wanita itu butuhkan demi bisa merebut hatinya.
"Akhirnya ya, Bu, Mba Maya jadi istri Mas Faisal," bisik Luna. Gadis itu sudah membayangkan jika sebentar lagi kehidupannya akan berubah. Apalagi Maya adalah anak satu-satunya dari pemilik perusahaan tempat Faisal bekerja.
"Ibu juga nggak nyangka kalau Faisal nggak sabaran banget sampai paksa-paksa Maya kayak gitu. Tapi baguslah ibu malah senang."
Keduanya masih asik berbincang. Kadang kala juga bertanya ke sana kemari hingga Maya di buat sebal sendiri.
"Ini emak sama anak ngapain sih betah amat di sini, nggak tahu aku sama Mas Faisal udah mau masuk kamar," gerutu wanita itu. Maya tetap memaksakan senyum meski hatinya terus memaki dua wanita yang sejak tadi berbicara tiada henti.
"Maya, kamu sekarang udah jadi bagian keluarga kami. Jadi, nggak usah sungkan ya kalau mau cerita apa-apa sama ibu." Bu Widia memang licik, ia selalu berusaha mengambil hati wanita itu.
"Iya, Bu." Maya hanya menjawab singkat. Rasanya enggan sekali lama-lama di sini. Maya ingin segera masuk kamar dan menjalankan ritual malam pertamanya.
Tak terasa jam sudah menunjuk angka sepuluh. Tapi dua wanita itu masih betah saja di rumahnya. Padahal bapak mertuanya saja sudah pulang selepas isya tadi. Ngoceh saja sini tidak jelas.
Beruntung Faisal cepat ambil tindakan. Tapi apa yang laki-laki itu katakan justru membuat Maya makin kesal,
"Ibu sama Luna nggak mau pulang? Apa mau nginep di sini?"
Maya tambal melolotot mendengarnya. Apa-apaan, sih? maki Maya.
"Sebenarnya kami mau pulang, Nak. Tapi berhubung kamu nawarin buat nginep ya udah. Gimana, Lun?" Sang ibu melirik kearah anak perempuannya.
__ADS_1
"Asyikkk ... kita bisa ngobrol-ngobrol lagi dong, Bu?" Luna girang sekali. Sudah seperti bocah di beri permen saja.
Sedangkan Maya melirik tak suka pada mereka. Dalam hati terus memaki, "Kenapa sih nggak ada yang pengertian amat. Yang tua nggak tahu diri, lah yang muda malah sama aja nggak peka. Huhhh sebal!"
"Yuk, Bu. Kita ke kamar aja. Di sini pegal. Aku mau sambil tiduran ceritanya."
Tanpa persetujuan pemilik rumah Luna dan ibunya melesat cepat mencari kamar yang mereka sukai.
Tinggallah Faisal dan Maya di ruang tamu. Laki-laki itu terlihat biasa saja, tapi tidak dengan wanita di sebelahnya yang berwajah masam.
"Kamu apa-apaan sih, Mas. Malah ngajak Ibu sama Luna nginep di sini? Ganggu tahu nggak?" protes Maya. Impiannya melakukan adegan romantis tanpa gangguan sepertinya akan gagal oleh keberadaan dua wanita itu.
"Emang kenapa kalau aku ngajak mereka menginap di sini? Ini rumah aku, May. Mereka juga Ibu sama adik aku sendiri. Emang salah?" bantah Faisal. Baru beberapa hari menjadi istrinya, Maya sudah larang ini itu. Semakin membuat Faisal kesal saja.
"Aku sengaja ikut kamu ke sini biar bisa romantis-romantisan, Mas. Kemarin waktu di rumah, kamu selalu sibuk sama Papa, kan? Tapi kenapa malah jadi kayak gini?"
Maya kecewa berat. Kalau tahu seperti ini ia tidak akan ngotot ingin cepat-cepat pulang ke rumah Faisal.
"Kamu ngomongnya gitu, Mas. Aku ini istri kamu."
"Udah ya, aku nggak mau ribut-ribut. Ini udah malam, May. Nggak enak kedengaran tetangga."
Faisal melangkah meninggalkan Maya yang masih terlihat kesal. Ia tak peduli meski nanti Maya akan marah atau meninggalkannya. Bagi Faisal pernikahan ini bukanlah kemauannya tapi terpaksa Faisal lakukan oleh perbuatan licik Maya sendiri.
Sebenarnya Faisal memang berniat menikahi Maya. Tapi itu nanti, karena sekarang Faisal masih menjalani pengobatan dan terapi agar penyakit yang di deritanya sembuh.
Faisal hanya takut Maya kecewa. Jika dulu Vani masih tetap bertahan, bahkan berusaha menutupi kekurangannya, apa Maya juga sanggup? Rasanya Faisal masih ragu, jangan-jangan Maya akan langsung meminta pisah saat tahu kondisi Faisal yang sebenarnya.
__ADS_1
Ceklek,
Faisal memilih masuk ke ujung ruangan. Kamar kosong yang sejak dulu tidak di tempati tapi masih tetap bersih dan rapi. Karena kamar miliknya sudah di kuasai oleh ibu dan Luna. Biar saja nanti Maya pakai kamar tamu.
Faisal tetap mengalah dan membiarkan Maya menggunakan kamar yang lebih besar di banding dirinya.
Faisal merebahkan tubuhnya. Rasa kantuk yang tiba-tiba datang memaksa kedua matanya untuk segera terpejam. Tak lama dengkuran halus itu terdengar. Laki-laki itu sudah terlelap di buai mimpi.
Sedangkan di bawah sana Maya masih bingung harus melakukan apa agar malam pertamanya tidak terganggu lagi. Wanita itu terus berpikir, haruskah ia langsung mengusir mereka saja, toh saat ini ia adalah istrinya Faisal?
Atau, menyuap mereka dengan uang agar segera angkat kaki dari rumah itu?
Tapi Maya baru ingat jika semua kartu telah di bekukan oleh sang papa. Lagipula di dompet tinggal beberapa lembar lagi. Mereka tak mungkin mau menerima uang dengan jumlah segitu. Bisa-bisa nanti malah di tertawakan.
Kedua orangtua Maya sudah menyerahkan tanggungjawab sepenuhnya pada Faisal. Mereka bilang akan mengaktifkan kartu itu lagi jika Maya bisa hamil dalam waktu yang dekat.
"Akhhhh sial! Gimana bisa hamil coba, kalau malam pertama aja selalu di ganggu!" ucap Maya dengan sangat frustasi. Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sebelum akhirnya menuju lantai atas menyusul Faisal.
Maya sudah tahu ruangan yang paling besar itu yang nantinya akan menjadi kamar miliknya. Maka di sinilah Maya berhenti, di depan kamar yang dulu ia pakai untuk menjebak Faisal.
Ceklek,
Pintu kamar terbuka. Maya melangkah masuk dengan santai dan cepat menutupnya kembali.
"Pasti Mas Faisal lagi mandi," bisik wanita itu pelan.
Tapi apa yang ada di depan sana sungguh membuat kedua matanya membelalak.
__ADS_1
Bagaimana mungkin dua pengacau itu ada di sini? Lalu, ke mana Mas Faisal?
"Mba Maya mau ikut tidur bareng kita juga?"