
"May, lepas, May!" berontak Faisal saat wanita itu tiba-tiba saja menabrakkan tubuhnya dari arah belakang.
Maya tak peduli meski Faisal berusaha melepaskan diri. Ia masih saja terus menempel, bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh lelaki itu.
"Sebentar aja, Mas. Cuma peluk. Kamu pelit amat, sih!" ungkap wanita itu dengan entengnya.
Faisal sangat shock mendengarnya. Apa tadi, pelit?
"May ...!!" Faisal menyentak kasar tubuh Maya, sampai wanita itu secara tak sengaja terdorong ke belakang.
"Kamu nolak aku, Mas?!" tanya Maya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bu–bukan kayak gitu, May. Tapi .... akhhh!" Faisal frustasi sendiri. Kenapa sikap Maya tiba-tiba berubah agresif seperti ini?
"Apa kamu lupa, Mas, kamu bisa ada di posisi sekarang berkat siapa? Aku, Mas! Aku yang udah rekomendasiin kamu sama Papa!" ungkap Maya pada lelaki di depannya.
Faisal hanya bisa menunduk, mengepalkan sebelah tangannya menahan geram.
"Jadi, kamu ngungkit masalah ini lagi, May? Kamu merasa berjasa saat Papa Kamu ngasih posisi yang bagus buat aku?"
Sudah berapa kali Maya selalu mengungkit perihal kenaikan jabatannya. Yang katanya adalah berkat campur tangannya hingga sang papa akhirnya mempercayakan jabatan sebagai manager keuangan untuk Faisal.
"Ya. Aku emang yang udah bujuk Papa buat kasih jabatan itu ke kamu! Aku juga yang udah singkirin semua saingan kamu waktu itu!" ungkapnya lagi.
Maya terlihat emosi sekali. Mungkin karena sikap Faisal tadi yang menolaknya dengan terang-terangan.
Faisal sendiri tak habis pikir, kenapa Maya bisa menyukainya. Padahal di kantor banyak laki-laki yang masih single, bukan seperti dirinya yang berstatuskan suami orang.
Kantor nampak sepi. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua, sedangkan karyawan lain sudah pulang sejak pukul lima sore tadi, jadi bisa di pastikan tidak akan ada yang tahu pertengkaran keduanya.
"Maaf, May. Maaf ..." Akhirnya Faisal mengalah. Ia tidak ingin ikut-ikutan emosi dan memilih secepatnya mengakhiri pertengkaran tersebut.
"Aku nggak butuh maaf dari kamu, Mas!" ucap Maya dengan tatapan tajam mengarah pada Faisal.
"Aku laki-laki beristri, May. Apa kamu nggak sadar? Lagipula di kantor ini banyak kok yang suka sama kamu."
"Tapi, yang aku mau cuma kamu, Mas!"
__ADS_1
Faisal menggeleng pelan mendengar pengakuan Maya.
Andai kamu tahu, May ...
"Aku cuma mau kamu, Mas. Bukan yang lain, atau siapapun!"
"May ...!!"
"Aku nggak peduli, meski kamu udah punya istri!" ucap Maya lagi. Kata-kata Maya sudah semakin tidak terkendali hingga Faisal kebingungan sendiri di buatnya.
Maya sempat mengamuk dan hampir menghancurkan barang-barang di ruangan itu. Ia juga memakinya habis-habisan. Sedangkan Faisal hanya mampu bungkam dan berusaha menenangkan.
"Aku tahu pernikahanmu nggak bahagia 'kan, Mas?! Aku juga tahu istrimu nggak bisa kasih apa-apa ke kamu. Dia itu cuma wanita mandul, kan?!" ucapnya dengan deru napas yang naik turun.
"Jaga ucapanmu, May! Itu nggak benar. Istriku bukan mandul, tapi ....?"
"Apa?! Kamu masih aja belain, dia. Apa sih yang kamu lihat dari wanita itu? Bahkan aku bisa kasih apapun yang kamu mau!"
Perdebatan itu semakin lama tambah memanas saja. Maya berteriak layaknya orang kehilangan akal hanya karena tidak terima Faisal terus saja membela istrinya.
"Kamu nggak tahu apa-apa mengenai rumah tanggaku, May. Jadi, kumohon .... jangan seperti ini," liriknya.
"Siapa bilang aku nggak tahu apa-apa? Bahkan aku tahu jika ibumu sangat menginginkan cucu. Tapi, apa? Istrimu itu nggak pernah bisa kasih, kan? Sampai sekarang dia belum juga hamil, kan? Ya ... karena dia itu wanita MANDUL!"
"Mba, ngapain?" Tiba-tiba saja bocah itu sudah muncul di depannya. Vani yang tengah duduk melamun di teras rumah itu nyaris menjatuhkan ponsel miliknya karena begitu terkejut dengan kedatangan Bagas.
"Kamu yang ngapain, main masuk halaman rumah orang sembarang aja!" dengus Vani pada lelaki muda tadi.
"Yah, Mba. Lagian salah sendiri ngapain pagarnya nggak di kunci. Untung cuma aku. Kalau sampai maling yang masuk gimana?"
Vani memutar kedua bola mata malas. "Maling? Mau ambil apa coba?" bisiknya pelan.
"Ambil cintamu dariku. Eh ...." Bagas terbahak setelah melayangkan gombalan pertamanya.
"Aduh, lama-lama gumoh juga di gombalin abege terus," dengus Vani lagi.
"Ini bukan gombal, Mba. Tapi, serius!" Bagas tersenyum memamerkan deretan giginya yang tertata rapi.
__ADS_1
"Terserah kamu ajalah, bocah." Vani memilih sibuk dengan ponsel di tangannya. Scroll lagi dan lagi, tapi bosan juga akhirya.
"Kenapa sih, Mba Vani capek-capek kerja?" Tiba-tiba saja pertanyaan Bagas mengalihkan perhatian Vani. Wanita itu langsung meletakkan ponsel miliknya di atas meja dan menarik napas dalam-dalam.
"Kenapa ya? Bukan urusanmu, bocah!" jawab Vani acuh.
"Penasaran aja. Setahuku gaji suami Mba Vani 'kan udah gede. Ngapain juga Mba capek-capek kerja," ulangnya lagi. Seolah Bagas sudah benar-benar tahu kehidupan rumah tangga Vani.
"Tahu dari mana? Ngawur aja kamu."
"Lha, ya tahulah. Bukannya suami Mba Vani manager keuangan? Dan, Mba pasti tahu berapa gajinya setiap bulannya, kan?"
"Enggak!" Vani pura-pura bodoh saja, padahal ia juga tahu berapa yang suaminya hasilkan setiap bulannya.
"Sembilan sampai sepuluh jutaan, Mba. Itupun gaji pokok, belum uang lemburan. Jadi, gaji sebesar itu aku kira cukuplah buat kebutuhan Mba Vani dan suami." Bagas berbicara panjang lebar. Macam tahu betul gaji untuk seorang manager.
"Kamu tahu dari mana? Jangan suka ngarang, Gas." Vani masih saja mengelak. Padahal yang di ucapkan Bagas sebenarnya tidak salah.
"Tahulah, Mba. Jaman sekarang apa sih gunanya kita main sosmed. Kita bisa tahu apapun tanpa susah-susah lagi."
"Apa jangan-jangan suami Mba Vani itu pelit yah?" Pertanyaan Bagas tambah ngawur saja.
Vani yang tadinya tidak terlalu peduli terpaksa harus segera menghentikannya agar Bagas tidak semakin berbicara ke mana-mana.
Tapi terlambat, ternyata Luna dan Ibu sudah lebih dulu mendengar apa yang di ucapkan Bagas baru saja.
"Hehhhh, ngomong apa kamu?!" serobot Ibu tepat di belakang laki-laki muda itu. Luna hanya bisa pasrah melihat cowok yang ia sukai di semprot habis-habisan oleh sang ibu.
"Eh, nggak ngomong apa-apa, Bu." Bagas tersenyum canggung. Ia merasa tengkuknya tiba-tiba meremang sendiri.
"Kamu ngomongin anak saya ya?!" tanya Bu Widia lagi. Jelas saja perempuan paruh baya itu tidak terima mendengar anaknya di gunjingkan oleh istri dan pemuda asing tersebut.
"Lagian Mba Vani ngapain sih buka-buka rahasia suami sendiri. Nggak tahu malu amat!" Luna ikutan berbicara. Ia tidak rela jika hanya Bagas yang menjadi santapan omelan dari ibunya.
"Aku nggak ngomong apa-apa, Lun. Lagian siapa juga yang buka rahasia."
"Itu tadi, buktinya Bagas bisa ngomong Mas Faisal pelit. Apa coba kalau bukan Mba Vani yang buka rahasia sendiri."
__ADS_1
"Eh, bukan! Ini nggak ada sangkut-pautnya sama Mba Vani. Serius, ini cuma kesalahan teknis aja, Bu. Mba Vani nggak salah apa-apa, kok!"
Bagas berusaha melindungi wanita itu. Melindungi wanita pujaannya agar tidak terkena amukan dari ibu mertuanya.