Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Bentakan Faisal


__ADS_3

"Tapi Ibu benar, kan, nggak pernah pinjam uang sama Vani? Ibu nggak pernah ganggu Vani saat aku ada di kantor?" tanya Faisal setelah mereka selesai makan. Faisal hanya ingin memastikan semua yang Vani ucapkan pagi tadi.


"Maksud kamu apa sih, Nak? Kamu nuduh Ibu ganggu Vani? Kamu nuduh Ibu suka minta-minta uang sama istri kamu, begitu?" tanya Bu Widia dengan wajah tidak suka. Wanita itu terlihat tersinggung sekali akan semua yang Faisal ucapkan padanya.


Kini di meja makan hanya tinggal Faisal, Bu Widia, dan Luna. Sedangkan Pak Harjo sudah pergi sejak setengah jam yang lalu.


"Aku bukan nuduh, Bu. Aku cuma mau mastiin aja apa yang Vani bilang sama aku."


"Emangnya Vani bilang apa sama kamu? Apa dia jelekkin Ibu? Dasar, menantu kurang ajar!"


"Bu–bukan begitu, Bu ..." Faisal merasa salah telah menanyakan hal itu pada ibunya. Harusnya ia bisa menyimpannya sendiri. Kalau sudah seperti ini pasti nanti ibunya akan memarahi Vani habis-habisan.


"Emang Mba Vani udah cerita apa aja ke Mas Faisal? Pasti dia juga jelekkin aku ya?" Luna ikut menyahut. Ia yakin sekali jika Vani juga mengadukan sikapnya selama ini pada lelaki itu.


"Apa sih, jangan ikut-ikutan, Lun!"


"Aku nggak ikut-ikutan, Mas. Aku cuma nggak terima aja kalau Mba Vani jelekin aku, apalagi Ibu. Dia itu fitnah, Mas!" ucap Luna dengan suara yang sangat meyakinkan.


"Kamu dengar sendiri, kan? Vani itu udah fitnah Ibu, Nak." Bu Widia malah sengaja memutar balikkan fakta. Seolah Vani lah yang bersalah.


"Jadi, Vani udah bohongin aku, Bu?"


"Iyalah. Lagian ngapain aku sama Ibu minta uang sama Mba Vani. Kita juga udah dapat jatah dari Mas Faisal dan Bapak." Luna menambahkan. Ucapan Luna terlihat meyakinkan sekali, hingga Faisal kini benar-benar bingung harus percaya dengan istrinya atau dua wanita itu.


"Sekarang kamu percaya, kan, kalau Vani itu tukang bohong?!" Bu Widia meyakinkan sekali lagi saat melihat keraguan di wajah anaknya.


"Iya. Aku percaya sama Ibu. Tapi, Ibu janji nggak akan marahin Vani, kan? Biar aku saja yang menasehatinya nanti." Faisal tetaplah berusaha melindungi Vani meski ia merasa kesal dengan sikap wanita itu.


Wanita di depan sana mengembangkan senyum. Bu Widia merasa berhasil telah membuat Faisal benar-benar mempercayainya.


"Udah, sana pulang. Istirahat. Jangan lupa sering-sering ke sini bawain Ibu makanan," ucap Bu Widia sebelum dirinya bangkit dari kursi meja makan.


"Ya udah, aku pamit, Bu. Assalamualaikum." Faisal melangkah menuju pintu keluar setelah berpamitan pada kedua orangtuanya.


.

__ADS_1


.


.


Tepat pukul sebelas malam Faisal menjejakkan kakinya di ruang tamu rumah miliknya. Laki-laki itu langsung menuju kamar dan mendapati Vani yang sudah terlelap di atas tempat tidur. Setelah melepas dasi yang melilit di leher dan meletakkan tas kerja, laki-laki itu melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sepuluh menit Faisal berada di dalam sana dan keluar dengan keadaan tubuh yang segar. Saat itu ia mendapati Vani yang sudah terjaga dengan posisi duduk menunggunya.


"Udah pulang, Mas?" tanya Vani dengan suara pelan. Ia yang mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi pun terpaksa membuka kedua matanya.


"Udah." Faisal melangkah menuju lemari pakaian melewati wanita itu begitu saja.


"Apa Mas mau makan? Atau, aku buatin sesuatu?" Meski dalam keadaan ngantuk berat Vani tetap memaksakan diri untuk melayani Faisal. Khawatir jika sampai laki-laki itu kelaparan selepas lembur tadi.


"Nggak usah. Aku udah kenyang. Kamu lanjut tidur lagi aja!" Masih dengan posisi berdiri membelakangi Vani.


"Apa mau teh? Atau, ..."


"Nggak usah! Aku bilang ngga usah, ya nggak usah!" Suara Faisal mulai meninggi. Vani pun di buat terkejut mendengarnya.


"Mas?"


"Mau aku pijitin?" Tangan Vani sudah mendarat di kaki Faisal. Barangkali laki-laki itu marah karena terlalu capek, mungkin ia bisa memijitnya sebentar.


"Nggak usah, Van. Kamu dengar nggak sih!" Menepis tangan Vani dengan kasar.


Vani menelan salivanya dengan susah payah. Tiba-tiba rasa sakit itu menusuk gumpalan daging di dalam sana. Sekali lagi Vani tidak menyangka jika Faisal akan berbicara sekasar itu.


"Mas ...?"


"Aku lelah, Van. Kamu ngerti, kan?!"


"Mas, a–aku ha– ...?"


"Kamu bisa diam nggak sih, Van?! Aku capek! Aku butuh istirahat!" bentak Faisal hingga Vani terjingkat ke belakang.

__ADS_1


Vani meremat kain berlapis di dadanya. Perih, itu yang Vani rasakan. Tak terasa kristal bening itu sudah jatuh melewati kedua pipinya.


Vani tidak tahu apa salahnya kali ini, kenapa Faisal sampai tega membentaknya. Ia hanya ingin menawarkan makan, ia hanya ingin melayaninya. Lalu, apa yang salah?


"Ya udah. Maaf." Vani berkata lirih, bahkan suaranya nyaris tak terdengar.


Faisal hanya bungkam. Posisi laki-laki itu juga menghadap ke samping, kearah tembok dan membelakangi Vani


Apa karena kejadian tadi pagi, hingga Faisal masih marah dengannya?


Vani bangkit dan melangkah cepat menuju pintu. Ia tidak tahan lagi untuk tetap berada dalam satu ruangan dengan lelaki itu.


Lebih baik ia menghindar.


Kamar tamu kini yang menjadi tujuannya. Didalam sana Vani menangis sejadinya, meluapkan segala sesak yang sejak tadi ia rasakan. Ia mengadukan semuanya pada Sang Pemilik Kehidupan.


Kenapa Tuhan? ... Kenapa?


Setelah lelah menangis dan menumpahkan segala sesak, akhirya Vani pun tertidur. Tapi, menjelang tengah malam, Vani merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Saat tangan Vani berusaha meraba sekitar, mencari keberadaan selimut di atas ranjang. Tapi, sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Maafin, aku, Van. Udah bentak kamu." Vani hapal betul suara laki-laki yang saat ini tengah mendekapnya dari belakang. Entah sejak kapan Faisal menyusulnya ke sini, yang pasti Vani sangat senang mendengar permintaan maaf dari laki-laki itu.


"Mas, kamu?" Vani ingin memutar tubuhnya, tapi laki-laki itu buru-buru menahannya dengan posisinya tadi.


"Aku pengen peluk kamu, Van. Kita udah lama nggak pernah tidur pelukan kaya gini, kan?"


Pikiran Vani mendadak buntu, mengingat kapan terakhir kalinya ia dan Faisal saling memeluk saat akan tidur. Rasanya sudah lama sekali.


Bahkan kini laki-laki itu sudah menelusupkan wajahnya pada ceruk leher milik Vani.


"Mas ...?"


"Tidur lagi aja, Van. Kamu masih ngantuk, kan?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2