
Luna menatap penuh cemburu wanita di depannya. Bagaimana tidak, Bagas–cowok yang selama ini Luna incar malah terlihat akrab sekali dengan kakak iparnya.
"Kamu nggak mungkin suka sama Mba Vani 'kan, Gas?" Ternyata perasaan Luna peka juga mengartikan tatapan Bagas pada Vani.
"Kamu ngomong apa sih, Lun? Ngawur aja kamu!" Vani sendiri tak mungkin menanggapinya. Baginya, Bagas sama halnya dengan Luna, masih terlalu muda bagi Vani meski umur hanya terpaut dua tahun di bawahnya.
"Kalau aku suka emangnya kenapa? Masalah buat kamu?!" Ucapan Bagas seolah membenarkan tuduhan Luna baru saja hingga gadis itu melotot tak percaya.
"Kamu gila ya, Gas! Mba Vani itu udah punya suami. Bisa-bisanya kamu ngomong suka sama dia." Luna tidak terima. Jika saingannya gadis yang lebih cantik mungkin saja tak masalah. Lah ini, Vani. Kakak iparnya sendiri.
"Emangnya kenapa kalau udah punya suami? Ada yang ngelarang suka sama orang, hahh?!"
"Bocah, jangan sembarang ngomong kamu! Sekolah aja yang bener, jangan cinta-cintaan!" tolak Vani pada lelaki muda itu.
"Lagian Mba Vani kecentilan banget sih godain Bagas. Ingat, Mba, nanti aku bilangin Mas Faisal baru tahu rasa!" ancam Luna tiba-tiba.
"Duh, Luna, siapa sih yang kecentilan. Mba 'kan nggak ngapa-ngapain. Bilangin aja, Mba nggak takut kok!"
"Awas kamu, Mba! Aku bilangin beneran yah!"
__ADS_1
Lama-lama melayani dua bocah itu pusing juga. Sedangkan Vani sendiri harus segera bersiap untuk berangkat kerja.
"Ya udah, kalian terusin aja ya berantemnya. Mba mau siap-siap berangkat kerja dulu." Vani mengakhiri obrolannya. Wanita itu melangkah masuk tanpa mempedulikan dua bocah yang masih berdiri saling berhadapan di depan pagar rumahnya.
"Yah ... Mba, malah ninggalin. Kan, jadi hilang pelangiku, eh pelangimu, eh pelangi di matamu," ucap Bagas yang semakin membuat gadis di depan sana mendelik tak terima.
Sementara Vani tak peduli dengan suara Bagas yang masih terdengar sampai ia menghilang masuk ke dalam rumah. Vani bersiap seperti biasa, tapi sebelum memasukkan ponsel ke dalam tas ia kembali membuka aplikasi berwarna biru sembari mengingat nama akun milik suaminya yang sempat Vani ketahui dari obrolan Luna dengan sang ibu beberapa waktu yang lalu.
"Iya. Kalau nggak salah namanya emang ini." Sambil mengetikkan di kolom pencarian. Lalu beberapa detik kemudian muncullah akun yang Vani cari.
"Mas Faisal??" Mata Vani terbelalak sempurna melihat postingan-postingan yang menandai akun milik suaminya. Foto-foto Faisal bersama teman-teman kantornya, bahkan ada beberapa foto berdua dengan seorang wanita cantik.
Ponsel dalam genggaman Vani hampir terlepas begitu saja saat menyaksikan foto-foto tersebut. Pantas saja selama ini Faisal selalu sibuk sendiri saat berada di rumah, bahkan Faisal kerap kali mengabaikannya saat ia mengajaknya berbicara. Jadi ini alasannya?
"Ini 'kan tanggal waktu Ibu meninggal?" Vani mengeceknya lagi, dan ternyata benar foto itu di unggah saat hari di mana Faisal pulang terlambat hingga ia tidak bisa menemani ibunya di saat-saat terakhirnya.
"Keterlaluan kamu, Mas! Jadi, ini alasanmu pulang terlambat waktu itu? Kamu enak-enakan sama wanita itu, sedangkan aku di sini sangat emas dengan keadaan ibu." Vani meremas ponsel dalam genggamannya. Alasan Faisal waktu itu begitu meyakinkan hingga ia percaya begitu saja.
Ya Tuhan ... sakit sekali rasanya.
__ADS_1
Ibu ... maafin Vani, Bu ...
Air mata Vani hampir luruh saat mengingat semua yang telah ia korbankan selama ini, namun malah tega di balas penghianatan oleh Faisal. Kesabarannya menerima semua perlakuan mertua serta adik iparnya ternyata tidak ada artinya sama sekali.
"Jadi, ini balasan kamu, Mas. Ini balasan buat kesabaran aku selama ini." Vani memaki dirinya sendiri yang terlalu bodoh mengartikan sikap suaminya. Ia sangka Faisal adalah sosok yang setia, yang akan mampu membahagiakannya suatu saat nanti. Selepas apa yang menjadi kekurangan Faisal saat ini, Vani akan berusaha bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Bahkan mereka pernah berjanji akan melewatinya sama-sama sampai Faisal sembuh.
Meski, Vani harus rela saat ibu dan semua orang menuduhnya sebagai wanita mandul hanya karena sampai sekarang Vani belum juga hamil.
"Bodoh kamu, Van." Wanita itu menatap kasihan pada dirinya sendiri. Merasa di butakan oleh cintanya yang terlalu besar untuk Faisal. Tapi, apa ia akan tetap seperti ini? Terjebak dalam pernikahan yang tak pernah membuatnya bahagia.
"Nggak! Aku nggak mau selamanya kaya gini! Kamu harus bangkit, Van. Kamu harus balas semua perlakuan mereka sama kamu!"
Vani menyemangati dirinya sendiri. Cukup sudah apa yang ia korbankan untuk Faisal dan juga Keluarga. Untuk apa punya suami tampan, rumah mewah, serta pekerjaan bagus, nyatanya ia masih harus menjadi babu untuk bisa memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Vani tidak ingin lagi menjadi bulan-bulanan ibu serta adik ipar lagi. Jika perlu ia akan mengatakan dengan jujur mengenai kondisi Faisal yang sebenarnya.
Tring!
[Kamu udah berangkat, Van? Mau saya jemput?]
__ADS_1
Suara ponsel yang tiba-tiba berbunyi membuyarkan lamunan Vani. Wanita itu mengusap sudut matanya cepat dan segera mengirimkan balasan pada lelaki yang selama ini selalu berbalas pesan dengannya.
[Boleh, Pak. Saya siap-siap dulu.]