
"Sadar , Ren. Jangan seperti ini!" teriak Dokter Dimas saat sudah berhasil membuat Renan jatuh terjengkang ke lantai. Laki-laki itu masih mengerang dengan keadaan yang sangat kacau.
"Dimas, apa-apaan kamu!" bentak Mika. Wanita itu bangkit dan membenahi kancing bajunya yang sudah tak berbentuk lagi.
"Kamu yang apa-apaan! Gila kamu, Mik. Aku tahu kamu cinta sama Renan. Tapi nggak harus kayak gini, kan?!" ucap Dokter Dimas penuh emosi.
"Dim, tolong ..." Suara Renan tercekat. Laki-laki itu masih kepayahan dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Jangan ikut campur. Lebih baik pergi dari sini! Biarkan Renan lakukan apa yang dia mau!" usir wanita berseragam rumah sakit tadi. Mika amat marah karena Dimas justru datang sebelum mereka menyelesaikan kegiatannya.
"Kamu udah nggak waras, Mik. Aku nggak akan biarin itu!"
Dokter Dimas lebih tahu tentang Renan. Mereka bertiga memang saling mengenal, dan ia juga tahu mengenai perasaan Mika untuk laki-laki itu. Tapi, tidak seharusnya Mika merendahkan harga dirinya hanya demi sebuah cinta, kan?
"Minggir!" Mika berusaha menerobos Dokter Dimas menuju tempat terkaparnya Renan, tapi laki-laki itu dengan cepat menariknya lagi.
"Maaf, Mik. Aku terpaksa lakuin ini ke kamu!" Laki-laki muda itu langsung menyergap Mika dan menguncinya di dalam kamar mandi.
Tinggallah Renan yang masih gelisah dengan obat sialan yang menyiksanya.
"Bertahanlah, Ren. Aku akan menolongmu." Dokter Dimas membantu Renan bangkit dan memapahnya keluar ruangan.
Lantai bawah itulah tujuan Dokter muda tadi. Sepanjang perjalanan menuju mobil semua pasang mata menatap bingung kearah dua dokter itu. Mereka ingin bertanya, tapi sungkan saat mengetahui siapa mereka.
"Satpam!" teriak Dokter Dimas menggema di depan lobby. Dua pria yang dengan sigap berlari dan menghampirinya.
"Tolong jaga di depan ruangan Pak Renan. Jangan sampai ada yang mendekat atau bahkan masuk, siapa pun itu!" ucap Dokter Dimas pada keduanya.
"Tapi, Dokter bagaimana kalau ..."
"Laksanakan saja tugasmu. Kalau tugas ini sampai gagal, saya pastikan kalian akan di pecat dari tempat ini!"
"Ba–baik, Dokter." Mereka mengangguk, lantas berlari serempak menuju lantai atas di mana ruangan Renan berada.
"Untung ruangan Renan kedap suara, jadi aku yakin suara teriakan Mika nggak akan sampai terdengar keluar," ucap Dokter Dimas sebelum berlalu menuju mobil.
__ADS_1
Kendaraan itu melaju cepat menuju tempat tinggalnya. Sebuah apartemen mewah di pusat kota dengan fasilitas lengkap. Dokter Dimas langsung memapah Renan masuk dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Dim ... akhhh ...!" Renan masih mengerang penuh siksa. Tubuhnya juga bergerak tak karuan di bawah guyuran air shower yang mengalir deras.
"Tenang, Ren. Aku akan membantumu. Sementara kamu di sini agar efek obat itu sedikit berkurang."
Dokter Dimas membiarkan Renan cukup lama di dalam sana, lantas ia mengambil sesuatu dari laci kotak obatnya.
Sebagai seorang dokter tentu ia paham dengan cara apa harus menghilangkan efek obat itu. Benar saja, setelah hampir setengah jam Renan mulai tenang. Dokter Dimas pun lega karena petaka itu tak sampai menimpa sahabat baiknya.
.
.
.
Dua jam berlalu.
Dua satpam tadi masih berjaga di depan ruangan Renan. Bahkan mereka sampai tidak meninggalkan tempat itu karena ketakutan dengan ancaman Dokter Dimas tadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan, mana Renan?"
Ternyata mereka mendapat telepon dari Mika. Wanita itu bilang saat ini tengah terkunci di dalam kamar mandi ruangan Renan karena ulah Dokter Dimas. Dan saat itu juga kedua orangtua itu langsung menuju rumah sakit untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Maaf, Bu. Tadi Pak Renan pergi sama Dokter Dimas. Kami tidak tahu ke mana," ucap salah satu satpam itu.
"Lalu Mana Mika? Katanya ada di dalam? Biarkan kami masuk untuk melihatnya," pinta Bu Aida.
"Maaf. Tapi Dokter Dimas melarang siapapun masuk ke ruangan ini. Dan ..."
"Minggir! Kalian mau saya pecat!" ucap Bu Aida penuh emosi.
"Bu, tenang dulu. Kita bicara baik-baik aja." Paka Heri masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Jika sampai Dokter Dimas menyuruh dua satpam berjaga di sini, artinya ada sesuatu yang sangat penting, tapi apa?
"Cepetan suruh mereka minggir, Pak. Mika sedang terkunci di kamar mandi, kasihan dia."
__ADS_1
Dua satpam tadi terlihat kebingungan karena yang berdiri di depannya saat ini adalah pemilik sah rumah sakit tersebut. Kalau mereka menolak permintaannya tahu sendiri 'kan apa yang terjadi.
"Baik, Bu." Setelah diskusi lebih dulu akhirnya dua satpam tadi memutuskan untuk membuka ruangan itu.
"Om, Tante." Dokter Dimas nampak dari kejauhan tengah berjalan kearah mereka.
Dua pria tadi menghembuskan napas lega karena belum jadi membuka pintu ruangan itu.
"Dimas ... Renan mana? Da, apa yang sebenarnya terjadi?"
.
.
.
Dokter Dimas baru saja membeberkan kejadian apa yang beberapa jam yang lalu terjadi di ruangan itu. Tapi Mika justru menolak mentah-mentah apa yang di tujukan laki-laki itu padanya.
"Bohong, Tante," isak wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah Dokter Dimas membukanya.
"Tenang, Mika. Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Semua diam menatap kearah wajah wanita itu. Di sebelah sana Dokter Dimas pun melirik dengan tatapannya yang mengejek.
"Dia cuma mau melindungi Renan. Sebenarnya Renan sudah ... memperkosaku," ucap Mika dengan air mata yang berderai-derai. Wanita itu memasang wajah sesedih mungkin demi menarik simpati mereka.
"Bohong, Om. Mika udah berusaha mau menjebak Renan. Dia wanita yang licik," ungkap Dokter Dimas memberikan kesaksian lagi.
"Nggak! Renan yang paksa aku. Mana mungkin aku mau jebak dia. Gila kamu ya?!" Mika semakin histeris hingga kedua orangtua Renan pun di buat bingung dengan keadaan itu.
"Pak, bawa pria itu masuk!"
Tiba-tiba Dokter Dimas memanggil satpam dan menyuruhnya membawa seorang pria dari arah luar ruangan. Pria bername tag Hartanto itu juga salah satu pegawai di rumah sakit. Lalu, apa hubungannya dengan semua ini?
"Cepat katakan, berapa bayaran yang kamu dapatkan dari wanita licik itu!"
__ADS_1