
Faisal tak menyangka jika yang di ucapkan Maya bukan hanya sebuah ancaman semata, tapi wanita itu benar-benar pergi setelah mengemasi pakaiannya menggunakan koper besar dan melemparkan uang bulanan yang baru beberapa hari Faisal berikan.
"Tolong jangan cari aku, apalagi meminta–ku untuk pulang ke rumah ini lagi."
Maya melenggang begitu saja melewati Faisal serta ibu mertuanya yang masih terpaku di tempatnya tadi. Luna hanya melongo menyaksikan setiap adegan yang terjadi di depan mata.
"May, tunggu." Faisal berlari menyusul langkah kaki istrinya yang hampir mendekati pagar rumah. Maya tidak menoleh sedikitpun kala panggilan itu semakin keras menariakkan namanya.
"Tolong maafin semua ucapan Ibu, May. Mengertilah, Ibu hanya emosi aja. Beliau nggak ada niat buat nyakitin kamu."
Perkataan Faisal justru menyulut emosi Maya hingga ia berbalik dan menatap wajah laki-laki itu dengan sangat tajam,
"Kamu bilang apa? Nggak niat?" Maya menyeringai tipis, ia tak habis pikir kenapa dulu ia bisa tergila-gila dengan Faisal. Dan bodohnya, ia malah sengaja menjebak Faisal agar segera menikahinya.
"Buka mata kamu lebar-lebar, Mas. Apa pantas seorang Ibu menjelekkan menantunya sendiri? Kamu pikir aku pohon pisang yang punya jantung tapi nggak ada hati."
"Tapi kita masih bisa ngomong baik-baik, May. Jangan pergi dalam keadaan marah kayak gini," bujuk lelaki itu.
__ADS_1
Maya melirik sang ibu yang masih dengan wajah angkuh. Bahkan perempuan itu tak merasa salah sama sekali atas apa yang ucapakan selama ini. Bu Widia justru bersuara lagi hingga semakin menorehkan sakit dalam hati sang menantu,
"Biarin aja dia pergi. Buat apa punya menantu nggak berguna kayak dia."
Maya mengepalkan sebelah tangannya. Keputusan sudah bulat. Setelah ini Maya akan pulang ke rumah orangtuanya dan mengadukan semua perlakuan keluarga Faisal pada sang papa.
"Aku pergi, Mas. Kamu tunggu aja surat cerai dari aku."
Maya melangkah kembali menyeret koper besar tersebut ke arah gerbang dan meninggalkan kompleks menggunakan sebuah taksi yang baru saja lewat di depannya.
Dua bulan berlalu, banyak yang terjadi sepeninggalan Maya dari rumahnya. Surat dari pengadilan agama benar-benar datang dan tak butuh proses yang sulit perceraian itu akhirnya terjadi juga.
Malang sekali nasib Faisal saat ini. Hidup menduda tanpa pekerjaan tetap. Hal itu tentu saja mempengaruhi kehidupan Ibu serta adiknya. Beruntung keluarga Faisal masih memiliki toko kelontong yang di kelola sang bapak, jadi kebutuhan masih bisa tercukupi meski sekarang sudah tidak bisa bergaya seperti dulu lagi.
"Kapan kamu mau nikah lagi, Nak?" tanya sang ibu suatu hari, Faisal hanya bisa menghela napas panjang. Jangankan memikirkan menikah lagi, memikirkan dirinya sendiri pun kadang Faisal sampai frustasi. Bagaimana tidak, sampai saat ini belum ada perkembangan yang baik mengenai pengobatannya. Lagipula siapa sih wanita yang mau dengan lelaki imp0ten macam dirinya.
Tapi sepertinya sifat sang ibu belum juga berubah, hingga seringkali membawa wanita cantik untuk di perkenalkan pada Faisal.
__ADS_1
"Tolong jangan lakukan itu lagi, Bu. Penyakitku belum sembuh. Mereka tidak akan mau kalau tahu kondisiku yang sebenarnya."
"Jangan katakan apa-apa pada mereka, Nak. Kalian menikah saja dulu sambil kamu menjalani pengobatan."
Faisal sampai jengah sendiri hingga akhirnya ia mengatakan secara langsung pada wanita-wanita itu mengenai kondisinya saat ini.
"Kamu apa-apaan sih, bikin ibu malu aja. Harusnya nggak perlu ngomong hal itu pada wanita yang ibu kenalkan sama kamu. Tuh kan, jadinya mereka kabur semua."
Faisal menggeleng pelan, meski kesal tetap saja ia tidak bisa marah dengan sang ibu.
"Pernikahan bukan hal main-main, Bu. Aku udah gagal dua kali. Apa Ibu pengen lihat aku cerai lagi?" ucap Faisal dengan suara yang sangat lirih. Jika pun mereka memilih pergi, bukankah itu hak mereka? Kita tidak pernah bisa memaksakan keinginan orang lain.
"Tapi nggak gitu juga, kan, caranya. Kalau kayak gini terus kapan kamu dapat istri lagi?"
Perempuan itu seolah tidak mengerti sehancur apa perasaan Faisal saat ini. Bu Widia hanya melakukan apa yang menurutnya benar versi dirinya sendiri.
"Percuma ngomong sama kamu, bikin emosi ibu aja." Sang ibu melangkah pergi meninggalkan kediaman Faisal yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya.
__ADS_1
Sementara Faisal hanya menatap sendu ruangan demi ruangan yang masih menyisakan kenangan dengan para mantan istrinya. Terutama, Vani, karena wanita itulah yang sudah banyak sekali berkorban untuk dirinya.
"Maafin aku, Van, jika selama ini aku lebih mementingkan Ibu ketimbang kamu." Faisal berbisik lirih, tak terasa cairan bening itu menetes juga dari sudut matanya.