
Hati Mika benar-benar hancur setelah mendapat penolakan untuk yang kesekian kalinya dari Renan. Bahkan laki-laki itu tak terpengaruh sama sekali saat ia bersedia di jadian istri keduanya. Padahal apa salahnya sih berbagi cinta, toh ia tidak akan menuntut macam-macam pada Renan, ia hanya ingin memiliki sedikit saja cinta laki-laki itu.
Mika banyak menghabiskan waktunya untuk melamun, tak jarang klub malam menjadi tempat pelampiasan terakhir untuk melupakan sakit hatinya pada Renan.
"Berhenti, Mik, kamu udah minum terlalu banyak," ucap salah seorang teman Mika saat melihat wanita itu terus saja meneguk cairan memabukkan di depannya.
Tapi Mika tak mengindahkan peringatan tersebut, tangannya terus meraih gelas dan meneguknya lagi dan lagi.
"Mik ..."
"Jangan banyak omong, minggir!" Kesadaran Mika tinggal lima persen lagi saat ia memutuskan untuk bangkit dan berjalan menjauh dari tempat duduknya.
"Kau mau ke mana?"
"Bukan urusanmu!"
Mika memindai seluruh ruangan yang di dominasi dengan alunan musik keras serta pencahayaan yang remang-remang. Dalam keadaan mabuk seperti ini Mika bingung hendak pergi ke mana, hingga sebuah tangan kekar menangkapnya ketika tubuh Mika hampir limbung,
"Hati-hati, Nona. Biar saya antar," ucap seorang laki-laki asing yang saat ini masih memeluk erat pinggangnya.
"Terimakasih, saya baik-baik saja." Mika melangkah lagi setelah berhasil melepaskan pelukan pria asing tadi. Tapi baru tiga langkah tubuh Mika kembali limbung dan akhirnya ...
Brukkk!
Mika tersungkur dengan keadaan tak sadarkan diri. Pria asing tadi cepat-cepat mendekat dan langsung meraih tubuh Mika dalam gendongannya.
"Siapkan satu kamar VVIP, cepat!" ucapnya pada salah satu pria yang berdiri di dekatnya.
"Baik, Tuan."
Pria tadi langsung menghubungi seseorang yang entah siapa demi melaksanakan perintah dari tuannya tadi.
"Kamar sudah siap, Tuan. Apa perlu bantuan untuk menggendong Nona ini?" Sambil menunjuk kearah tubuh wanita dalam dekapan tuannya.
__ADS_1
"Tidak perlu!" Laki-laki yang menggendong Mika tadi berjalan cepat keluar dari klub malam dan menuju mobil mewah yang sudah siap menunggunya di depan sana.
"Jalan, cepat!"
Sementara di tempat lain kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga kecil Renan. Bagaimana tidak, sebentar lagi Vani–sang istri akan melahirkan buah cinta mereka yang sudah sejak lama di nantikan kehadirannya.
Renan maupun Vani sudah menyiapkan segalanya. Pakaian, keranjang bayi, serta menghias kamar untuk calon anak mereka yang di perkirakan berjenis kelamin perempuan.
Kedua mertuanya pun terlihat antusias sekali. Mereka sengaja menyempatkan datang hanya demi bisa menunggu kelahiran cucu pertamanya.
"Nanti jam 11 aku jemput kamu. Hari ini jadwal periksa kandungan, kan?" Renan selalu ingat kapan waktu istrinya memeriksa kandungan. Karena moment itulah ia bisa melihat perkembangan sang buah hati di dalam rahim sang istri.
"Iya, Mas. Kalau kamu sibuk aku nggak apa-apa di antar supir aja." Vani duduk di tepian ranjang mengamati suaminya yang tengah bersiap. setelah memastikan penampilannya sempurna laki-laki itu langsung beringsut di hadapan sang istri dan mengelus perut buncit wanita itu,
"Akan selalu ada waktu untuk kalian." Memberikan satu kecupan di sana lantas Renan bangkit.
"Aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa segera telepon." Tak lupa Renan juga memberikan kecupan lembut di kening serta kedua pipi Vani hingga membuat wajah wanita itu langsung memerah.
"Iya." Vani bangkit dengan sedikit kesusahan karena keadaan perutnya yang semakin membesar. Namun Renan malah gemas sendiri melihatnya hingga ia memutuskan memeluk tubuh sang istri untuk beberapa saat.
"Mau sampai kapan? Ini udah siang, lho?" Suasana romantis itu mendadak buyar oleh suara Vani. Renan langsung melepaskan pelukannya, ia tatap lekat wajah wanita itu yang saat ini tepat berada di tempatnya.
"Apa kamu mau ikut?"
Entah kenapa tiba-tiba saja Renan berat sekali untuk meninggalkan Vani. Padahal di rumah ada kedua orangtuanya, Bik Minah serta suaminya juga ada. Tapi kenapa?
"Aku di rumah aja, Mas. Nanti ke rumah sakit setelah kamu jemput aku."
"Okey. Hati-hati, jangan sampai kenapa-kenapa."
Vani tersenyum tipis membalasnya. Laki-laki itu mendekapnya sekali lagi sebelum akhirnya pamit untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Renan menjalani aktivitasnya seperti biasa. Rencananya nanti ia akan pulang sebelum jam sebelas untuk menjemput Vani dan membawanya cek kandungan.
__ADS_1
Namun tanpa di sangka baru jam sembilan pagi Bik Minah tiba-tiba saja menghubungi. Perempuan paruh baya itu mengatakan jika Vani sudah beberapa kali mengalami kontraksi, bahkan saat ini mereka tengah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
Renan langsung kelimpungan. Ternyata firasatnya tidak salah, pantas pagi tadi ia sangat berat untuk meninggalkan sang istri. Ternyata inilah alasannya.
[Aku segera pulang, Bik.]
Renan langsung menyambar kunci mobil di atas meja. Ia berlari cepat menuju mobil dan segera memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Tiba di rumah Renan melihat Vani yang tengah meringis menunggu kedatangannya. Tak butuh waktu lama Renan segera menggendong Vani dan membawa menuju mobil.
Seluruh tim medis yang akan membantu proses persalinan Vani sudah siap siaga bahkan sebelum wanita itu tiba di rumah sakit. Ruangan serta perlengkapan lain pun sudah siap menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana, keadaan istri saya, Dokter?" Renan menatap cemas sang istri yang terbaring di ranjang pasien dengan penuh kesakitan. Wanita itu beberapa kali meringis saat kontraksi datang kembali.
"Bagus, Pak. Pembukaan sudah hampir lengkap. Semoga semuanya lancar."
Di luar ruangan Pak Heri dan Bu Aida menatap pada ruangan di depannya dengan raut wajah cemas. Lebih dari dua jam mereka ada di dalam tapi belum ada kabar apapun mengenai cucu dan menantunya.
"Gimana ini, Pak. Ibu cemas sekali."
"Sabar, Bu. Kita berdoa aja semoga Vani dan cucu kita selamat. Semoga di beri kelancaran juga."
Tak lama suara tangisan bayi yang sangat nyaring terdengar dari dalam sana. Semua nampak bernapas lega, begitupun dengan Renan yang sejak tadi nyaris pingsan saat harus menyaksikan sang istri bertaruh nyawa demi melahirkan buah hati mereka.
Tak henti-hentinya ucapan syukur keluar dari bibir Renan. Ia mengecup kening Vani berkali-kali setelah berhasil melewati proses yang sangat menegangkan tadi.
Satu jam kemudian seorang suster muncul membawa seorang bayi mungil yang tengah terlelap dalam box bayi. Bayi perempuan dengan kulit putih bersih serta hidup yang mancung mirip kedua orang tuanya itu terlihat menggemaskan sekali.
Bu Aida dan Pak Heri pun tak mau melewatkan kesempatan untuk melihat cucunya secara langsung. Bahkan perempuan paruh baya itu sampai meneteskan air mata haru ketika melihat cucunya yang sangat mirip dengan Renan dulu sewaktu masih bayi.
"Kaliam ingin menamainya siapa?" tanya sang ibu ketika melihat bayi mungil itu menggeliat seolah tengah mencari sumber kehidupannya yang baru.
"Faranisa Adelia Pranaja," jawab Renan dengan penuh semangat. Ia dan Vani memang sudah menyiapkan nama itu dari jauh-jauh hari.
__ADS_1
Kehadiran bayi mungil itu menambah kebahagiaan Renan dan juga seluruh keluarga besarnya.
TAMAT.