Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Anda Masih Waras?


__ADS_3

"Meminta jadi istri kedua di depan istri sahnya, Anda yakin masih waras? Apa di dunia ini emang nggak ada laki-laki lain lagi, hingga Anda sampai merendahkan harga diri di depan suami saya?" Ungkapan bernada sindiran itu sukses membuat wajah Mika memerah. Tanpa sadar kedua tangan wanita itu sudah mengepal sempurna.


Lain halnya dengan Renan, laki-laki itu tersenyum tipis, menatap sang istri dengan pandangan tak percaya. Bagaimana Renan belum pernah melihat Vani seberani ini sebelumnya. Atau, mungkin ia yang belum mengenal sisi lain dari seorang Vania.


"Tutup mulutmu perempuan murahan!" umpat Mika. Namun langsung di balas kekehan pelan oleh Vani,


"Bukannya ungkapan itu cocok di berikan untuk perempuan yang rela mengemis cinta pada seorang laki-laki beristri? Macam, Anda ..." Vani menaik turunkan sebelas alisnya. Puas sudah melihat wajah Mika bertambah merah menahan geram.


Renan masih bungkam menikmati perdebatan itu. Hanya senyum bangga yang tercetak jelas di kedua bibirnya. Sedangkan Mika sudah kalang kabut menghadapi Vani yang selalu menang telak darinya.


"Jika Anda pikir dengan meminta jadi istri kedua sebuah kebanggaan, itu salah besar. Itu sama halnya dengan merendahkan harga diri Anda sendiri. Karena bagaimanapun semua wanita tidak akan merasa baik-baik saja jika cintanya harus di bagi."


Tidak tahu sudah seperti apa perasaan Mika saat ini. Jika orang lain, mungkin akan memilih menenggelamkan wajahnya ke dasar bumi karena teramat malu. Tapi anehnya Mika masih bisa mengangkat wajah tinggi-tinggi meski harga dirinya sudah di jatuhkan berkali-kali.


"Kamu bisa pikirkan permintaan aku, Ren. Aku juga nggak akan nuntut apapun dari kamu. Jadi, kamu nggak perlu takut aku akan bersaing dengan istri pertama kamu."


"Tapi sayangnya itu nggak akan terjadi, Mik. Jangan harap aku akan memikirkan permintaan konyol–mu itu, apalagi mengabulkannya. Karena itu hanya mimpi. Kamu tahu 'kan, aku sangat mencintai istriku, jadi tidak akan pernah ada tempat untuk wanita lain lagi, kamu paham?!"


Vani tersenyum penuh kemenangan dengan jawaban yang Renan berikan untuk Mika.

__ADS_1


Cairan bening mulai mengalir dari kedua sudut mata wanita itu. Harapan Mika benar-benar pupus. Ia tahu jika Renan memang tidak pernah mencintainya, lalu apalagi yang ia harapkan dengan terus berada di tempat ini?


"Sebaiknya kamu pulang, Mik. Renungkan semua ucapan kami tadi. Aku harap setelah ini kamu nggak akan ganggu rumah tangga kami lagi."


Renan merangkul pundak sang istri dan mengajaknya untuk segera masuk. Tinggallah Mika yang berdiri dengan perasaan yang berkecamuk. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini.


Sedangkan Vani langsung memeluk tubuh suaminya saat mereka sudah berada di dalam rumah. Tidak beda jauh dengan Mika, air mata wanita itu pun menerobos begitu saja dari kedua sudut matanya.


Tetap saja ia hanya seorang wanita biasa yang mudah sakit hati. Apalagi Mika yang terang-terangan menawarkan diri untuk jadi madunya, apa itu bukan satu hal pernyataan yang gila?


Rasa takut pasti ada. Dan hingga kini Vani masih di bayangi rasa trauma mengenai pernikahannya yang kandas dulu.


.


.


"Eh, Bu Widia. Saya dengar Maya lagi hamil. Selamat ya, akhirnya sebentar lagi Bu Widia bakal punya cucu," ucap salah seorang ibu kompleks yang tengah berbelanja dengannya. Seminggu pasca kejadian yang membuat perempuan itu kecewa, nyatanya masih saja ada orang yang menanyakan perihal kehamilan sang menantu.


"Sayangnya itu nggak benar, Bu. Maya belum hamil, kemarin cuma masuk angin biasa," jawabnya dengan tangan masih asik memilih sayuran.

__ADS_1


"Lho, kok bisa? Saya kira kemarin periksa ke rumah sakit karena emang lagi hamil."


"Saya juga heran kenapa Maya nggak hamil-hamil. Apa jangan-jangan dia juga mandul kayak Vani,"


Semua yang tengah berbelanja di sana saling pandang dengan tatapan bingung. Heran saja dengan mulut perempuan itu yang hobi sekali menyalahkan orang. Bagaimana kalau ternyata sebaliknya.


"Kenapa ibu nggak minta Faisal periksa juga ke dokter. Ya .. siapa tahu aja dia yang punya masalah. Jangan hanya salahin Maya, Bu. Dulu pas sama Vani juga gitu, kan?" Salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri. Tapi namanya juga orang egois, Bu Widia malah tidak terima jika anak lelakinya yang di salahkan.


"Kalau Faisal nggak mungkin, Bu. Dari keluarga kami nggak ada tuh keturunan mandul. Saya yakin masalahnya pasti ada di Maya." Perempuan itu masih kekeuh menyalahkan menantunya. Padahal saran dari mereka cukup bagus, agar tahu siapa sebenarnya yang patut di persalahkan.


"Heran aja punya istri sampai dua kali kok ya mandul semua," celetuknya tiba-tiba. Tak sadar jika orang yang sejak tadi menjadi objek perbincangan tengah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Maya mengetatkan rahangnya. Kuku jemarinya juga sudah terkepal erat sejak tadi saat pertama kali ia mendekat kearah ibu-ibu yang sibuk menggosipkan dirinya.


Ada yang menyadari kedatangan wanita itu, hingga memilih langsung membayar belanjaan dan cepat-cepat menghindar.


Bu Widia belum sadar jika menantunya sudah berdiri tepat di belakangnya. Hingga ucapan menyakitkan itu terlontar lagi tanpa sadar,


"Cantik sih, tapi kalau mandul ya percuma."

__ADS_1


"Bu ...!!"


__ADS_2