Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Tentang Faisal


__ADS_3

Ternyata berteman dengan bocah tengil macam Bagas ada untungnya juga bagi Vani. Buktinya sekarang Vani bisa tahu caranya bermain medsos seperti kebanyakan anak muda yang lain. Meski awalnya Vani sempat jadi bahan lelucon Bagas karena ternyata ia tidak pernah mengenal apa itu yang namanya fa**book atau yang lain. Ya, hidup Vani terlalu monoton. Yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana ia mendapatkan uang untuk menyambung hidup.


"Jadi, Mba Vani cuma bisa berbalas pesan lewat aplikasi hijau aja?" Bagas menahan tawanya yang hampir meledak saat mengetahui jika Vani tidak bisa bermain medsos selain berbalas pesan.


"Untuk apa?" tanya Vani tak mengerti. Bukan kampungan, tapi bagi Vani untuk apa bermain media sosial, hanya buang-buang waktu saja.


"Padahal media sosial itu penting lho. Emang Mba Vani nggak takut apa kalau suaminya selingkuh di luaran sana? Sedangkan Mba nggak tahu apa-apa?" Bagas semakin bersemangat memprovokasi Vani. Awalnya Bagas hanya ingin tahu nama akun media sosial Vani, tapi ternyata wanita itu tidak memilikinya sama sekali.


"Suamiku setia, kok. Dia nggak mungkin macam-macam!" balas Vani penuh percaya diri.


"Beneran, Mba Vani nggak mau aku ajarin main nganu-nganu? Atau, aku bisa lho ajarin Mba main tok-tok?" Bagas masih berusaha merayu Vani. Wanita itu nampak terdiam sesaat. Detik selanjutnya akhirya Vani mengangguk dan mengambil ponselnya yang ada di dalam kamar.


Tidak terlalu susah untuk Bagas mengajari Vani karena dasarnya wanita itu memang pintar. Setengah jam berlalu Vani sudah mahir berselancar sendiri di akun media sosial barunya hingga melupakan Bagas yang masih berdiri mematung di luar pagar.


"Aku nggak di ajak masuk, Mba? Ya elah tega amat dari tadi suruh berdiri." Bagas merengut merasakan kedua kakinya yang pegal karena terlalu lama berdiri.


"Suami aku udah berangkat kerja. Aku nggak enak mau ajak kamu masuk. Kamu pulang aja ya? Lagian sebentar lagi aku mau berangkat kerja," ucap Vani tanpa mengalihkan pandangannya dari layar pipih itu.


"Kerja? Maba Vani kerja? Di mana?" tanya Bagas dengan sangat penasaran. Bagas kira Vani hanya ibu rumah tangga biasa, ternyata wanita itu juga ikut bekerja seperti suaminya.


"Jauh. Kamu nggak bakalan tahu."


Obrolan keduanya terhenti saat tiba-tiba seorang gadis menyerobot masuk dalam obrolan antara Vani dan Bagas. Gadis itu sangat antusias sekali saat mengetahui jika ternyata tetangga baru yang orang-orang ceritakan adalah orang yang ia kenal.


"Bagas?!! Astaga, mimpi apa aku bisa ketemu kamu di sini?" Luna berteriak senang mengetahui jika Bagas sekarang menjadi tetangganya. Jodoh tidak akan ke mana, mungkin itu yang akan Luna katakan. Tapi, binar matanya seketika redup saat laki-laki itu membalas ucapan Luna dengan wajah tidak suka.


"Kenapa ada dia di sini?!"


"Aku 'kan tinggal di sini," balas Luna dengan semangat.


Hahhh?


Rasanya Bagas ingin langsung menghilang dari tempat itu. Bagaimana bisa sekarang ia malah tinggal satu kompleks dengan Luna? Gadis centil yang selama ini selalu berusaha mendekatinya.

__ADS_1


"Jadi, tetangga baru itu kamu, Gas?"


"Kalau iya, emang kenapa?" jawab Bagas dengan menunjukkan wajah masam.


"Bagus dong. Jadi, tiap hari kita bisa berangkat ke sekolah bareng."


"Ogah!" jawab Bagas dengan sangat cepat.


Sedangkan Vani hanya diam dan saling pandang dua bocah di depannya dengan wajah tidak mengerti. Siapa Bagas? Apa dia teman sekolah Luna? Kenapa Luna bisa mengenalnya?


"Kalian udah saling kenal?" tanya Vani pada keduanya.


"Kamu kenal Mba Vani, Gas?" Gadis itu menatap Vani dengan tatapan yang menyelidiki seolah mencari tahu ada hubungan apa di antara keduanya hingga terlihat akrab sekali.


.


.


.


"Ini, Pak. Foto serta data lengkap yang Anda minta."


"Ini benar udah lengkap?" tanya Renan pada laki-laki muda itu. Ia mengamati wajah seseorang yang ada dalam foto, lantas melihat data lengkap yang laki-laki tadi berikan.


"Sudah, Pak. Dan beberapa hari ini laki-laki itu sering mengunjungi rumah sakit XX," ucapnya kemudian.


"Rumah sakit XX?" Kedua mata Renan membola sempurna mendengarnya. Jika benar, berarti mempermudah Renan untuk bisa menyelidikinya sendiri.


Rumah sakit XX adalah cabang dari rumah sakit yang berdiri di bawah kepemimpinannya juga. Rumah sakit itu cukup besar, dan Renan yakin ada sesuatu yang membuat Faisal sampai datang ke sana.


"Kamu yakin? Nggak salah lihat, kan?" tanya Renan sekali lagi.


"Benar, Pak. Seminggu ini saya menguntitnya seperti yang Bapak minta."

__ADS_1


"Ya udah. Kamu boleh pergi. Ini bayaran buat kamu." Renan menyerahkan sebuah amplop coklat yang sedikit tebal. Laki-laki tadi tersenyum sumringah menerimanya. Setelah ini ia akan membelikan sesuatu untuk istri tercintanya.


Laki-laki itu pamit dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


"Faisal Hartanto," bisik Renan. Ia memeriksa lembaran-lembaran foto itu lagi hingga matanya tertuju pada lembaran yang memperlihatkan Faisal tengah makan bersama seorang wanita cantik.


"Ck, tega sekali dia berbuat seperti ini. Padahal istrinya mati-matian bekerja." Renan merasa prihatin dengan nasib Vani yang malang. Ia harus bekerja banting tulang demi bisa memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan suaminya enak-enakan pergi dengan wanita lain.


Sebenarnya lelaki macam apa yang sudah kamu nikahi, Van? Lalu, pernikahan seperti apa yang saat ini kamu jalani? Harusnya kamu di perlakukan dengan baik. Bukan malah di paksa bekerja demi memenuhi kebutuhan yang sebenarnya menjadi tanggung jawab suamimu. Renan berbisik pelan, meremas lembaran foto di tangan.


Renan meraih telepon genggam di sakunya, lantas menghubungi seseorang yang entah siapa.


[Ya, Pak.] Sahut seorang laki-laki yang bertugas di bagian informasi di sebuah rumah sakit besar.


[Saya minta informasi mengenai laki-laki ini?]


[Siapa, Pak?]


Dalam hitungan detik Renan berhasil mengirimkan foto pada orang di seberang sana. Renan menunggu sepuluh menit, hingga akhirnya orang di seberang sana bersuara akhirya bersuara.


[Namanya Faisal Hartanto, Pak. Dia ke sini untuk bertemu dengan Dr. Dimas.] Laki-laki tadi mulai menjelaskan.


Dr. Dimas?


[Kabarnya sih untuk konsultasi.]


[Konsultasi?] Renan mengernyit heran mendengar penjelasan orang dari seberang sana.


[Dia sakit?]


[Tidak, Pak.]


[Lalu ...?]

__ADS_1


__ADS_2