Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Ini Maksudnya Apa?!


__ADS_3

Vani melangkah ringan melewati gerbang kompleks dan terus berjalan menuju rumahnya. Hari ini seminggu menjelang akhir bulan. Jika biasanya Vani akan mengambil separuh atau mungkin semua gaji bulanannya, tapi kali ia tidak sampai harus memintanya karena uang bulanan dari Faisal masih di perkirakan cukup.


Lagipula gaji bulan ini rencananya akan Vani gunakan untuk membayar uang yang pernah ia pinjam dari bapak mertuanya.


Wanita itu tersenyum melewati para ibu kompleks yang tengah berbincang, tak lupa sekedar sapaan ia berikan pada mereka. Sampai ia membuka pagar rumahnya, Vani di kejutkan oleh suara ibu mertuanya yang tiba-tiba datang dan menerobos masuk begitu saja.


"Van, Ibu minta duwit dong?!" Dengan menengadah tangan perempuan paruh baya itu berdiri di samping Vani.


Bu Widia tahu betul jika tanggal-tanggal seperti ini Vani pasti baru saja menerima gaji dari majikannya.


"Duwit apa, Bu? Vani nggak punya, ini cuma ada buat keperluan sampai akhir bulan." Vani menjawab jujur. Memang masih ada beberapa lembar lagi di dompet. Tapi itu dana yang akan Vani gunakan sampai akhir bulan.


"Pelit amat sih?! Bukannya kamu abis gajian?" ucap Bu Widia dengan kedua alis yang menukik tajam. Biasanya kalau maksa dikit juga langsung di kasih, pikirnya.


"Vani belum gajian, Bu. Masih seminggu lagi."


"Jangan bohong kamu, Van. Ibu tahu kalau hari ini biasanya kamu terima gaji dari majikan kamu, kan?!" ungkap Bu Widia pada wanita itu


"Serius, Bu, Vani emang belum gajian. Mas Faisal juga seminggu lagi, kan gajinya? Biasanya Ibu yang pertama tahu." Vani bukan maksud untuk menyindirnya, tapi Bu Widia langsung mendelik mendengar penuturan menantunya.


"Ngomong apa kamu?! Emangnya kenapa kalau Ibu yang pertama tahu tentang gaji Faisal? Dia anak ibu, kan? Sadar nggak sih, kamu!"


Vani hanya bisa menutup mulut rapat. Ia tidak tahu lagi dengan cara apa harus memberikan pengertian pada ibu mertuanya.


"Maaf, Bu. Vani nggak ada maksud buat ngomongin Ibu, kok. Serius!"


"Alahhh, cepetan sini, Ibu minta uang! Mau beli bakso di depan kompleks!"


Vani menggeleng tak percaya. Bahkan untuk beli bakso saja, apa memang ibunya tidak memiliki uang sama sekali? Padahal yang Vani tahu jika bapak mertuanya juga masih rutin memberikan uang belanja untuk perempuan itu.


Wanita itu merogoh dompet dalam tas yang masih tergantung di bahu kirinya. Membukanya, lantas menarik uang berwarna biru dari dalam sana.


"Kalau cuma buat beli bakso, Vani rasa cukup segitu." Menyodorkan kearah Bu Widia. Tapi apa tanggapan perempuan itu.


"Apa-apaan ini! Kamu mau hina Ibu?!" Merampas uang secepat kilat, dan kembali melemparkannya pada wajah Vani. "Dasar menantu kurang ajar!"

__ADS_1


"Bu ...!"


"Apa?! Kamu berani bentak Ibu?!" ucapnya masih dengan suara meninggi.


Vani berusaha mengatur deru napasnya yang naik. Sedikit demi sedikit luntur sudah rasa hormatnya pada perempuan yang berstatuskan mertuanya itu. Vani tak menyangka diamnya selama ini tak ada gunanya sama sekali. Perempuan itu lama-lama semakin ngelunjak saja.


Bukan hanya meminta uang dan makanan yang sering Vani masak. Tapi Bu Widia malah tega memfitnah Vani depan suaminya sendiri. Mengelak bahwa ia tidak sama sekali meminjam uang pada menantunya.


"Lima puluh ribu cukup, Bu, kalau cuma beli bakso." Vani masih berusaha berbicara baik-baik. Bagaimana pun ia tidak ingin ikut emosi seperti perempuan di depannya.


"Emang cukup kalau cuma buat beli bakso, Van. Tapi, ibu juga mau beli yang lain!"


Semakin tidak tahu diri saja perempuan tadi. Aku harus gimana? bisik Vani di tengah kebingungannya.


"Buruan sini!" Bu Widia malah menarik tas Vani hingga wanita itu hampir saja terjatuh oleh aksi Bu Widia.


"Bu, jangan! Di dompet tinggal beberapa lembar lagi buat kebutuhan Vani sama Mas Faisal sampai akhir bulan!" Wanita itu berusaha mempertahankan tas miliknya.


"Sini, biar Ibu lihat!"


Bu Widia seolah hilang akal hingga tak menghiraukan ucapan Vani.


"Kamu udah berani sama Ibu, Van?!" ucapnya tak terima. Vani terlihat berbeda sekali dengan yang dulu. Vani yang sekarang lebih berani, bahkan Bu Widia sendiri sampai tercengang melihat perlakuan menantunya baru saja.


"Karena Ibu udah keterlaluan, makanya Vani sampai kaya gini, Bu!" balasnya tanpa rasa takut sama sekali.


"Dasar, menantu kurang ajar! Seharusnya dari dulu Ibu membujuk Faisal untuk segera menceraikanmu!" ucap Bu Widia lagi dengan sangat emosi.


"Kenapa Ibu nggak lakuin itu? Apa Ibu takut jika sampai Mas Faisal cerai sama aku nggak akan ada wanita yang mau lagi sama dia?!" balas Vani dengan wajah menantang.


"Maksud kamu apa?! Faisal masih muda, tampan, punya pekerjaan bagus. Nggak akan ada wanita yang menolaknya! Kamu tahu, kan?!"


"Apa Ibu yakin?" Vani malah terkekeh pelan mendengar penuturan Bu Widia.


"Ya! Kenapa tidak!"

__ADS_1


"Bagaimana kalau ternyata Mas Faisal ...."


"Vani, cukup!!"


Tiba-tiba saja lelaki itu sudah berdiri di dekat Bu Widia. Entah sejak kapan Faisal pulang, yang pasti Vani tidak menyangka jika pertengkarannya dengan sang mertua akan di saksikan langsung oleh suaminya.


"Mas ..! Ini nggak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin!" Vani mendekat kearah Faisal dan berusaha menjelaskan. Vani tahu ia salah karena tak sengaja membentak mertuanya sendiri. Tapi, semua itu tidak akan terjadi jika Bu Widia tidak memaksa untuk merebut tas milik Vani.


"Jelasin apa?!"


"A–aku ....?"


"Lihat tuh istri kamu, Nak, udah berani kurang ajar sama Ibu," adu Bu Widia pada anak lelakinya.


"Nggak, Mas. Bohong!"


"Cukup, Van! Jangan melewati batasanmu!!" ungkapnya sekali lagi. Faisal terlihat emosi sekali. Nyali Vani pun langsung menciut mendengar bentakan Faisal.


"Tapi itu kenyataan, Mas! Aku emang salah, tapi aku nggak sengaja bentak Ibu karena ..."


"Karena apa? Kamu udah merasa mampu bisa hidup tanpa aku?!" jelas lelaki itu.


Bu Widia tersenyum penuh kemenangan mendengar penuturan Faisal yang lebih percaya dengannya.


"Rasain, kamu!" bisiknya pelan.


"Nggak, Mas! Aku nggak ada maksud kaya gitu." Vani menunduk meremas jemarinya yang terasa dingin.


"Apa kamu pikir aku nggak bisa cari wanita selain kamu?!" Ungkapan Faisal sontak membuat dua wanita berbeda usia tadi membelalakkan kedua matanya.


"Mas, maksud kamu apa?!" tanya Vani menuntut penjelasan dari lelaki itu.


"Harusnya aku yang tanya ke kamu, ini maksudnya apa?!"


Faisal melempar amplop besar berwarna coklat kehadapan Vani. Lemparan yang cukup kencang tadi membuat semua isi di dalam berhamburan.

__ADS_1


Vani maupun Bu Widia semakin membelalakkan kedua matanya melihat amplop tersebut yang ternyata berisi ...


"Mas, ini ...?"


__ADS_2