
"Ini maksudnya apa?!" Faisal melempar kasar amplop besar berwarna coklat kehadapan Vani. Lemparan yang cukup kencang tadi membuat semua isi di dalam berhamburan.
Vani maupun Bu Widia semakin membelalakkan kedua matanya melihat amplop tersebut yang ternyata berisi ...
"Mas, ini ...?"
Lidah Vani mendadak Kelu, bahkan untuk sekedar menatap wajah lelaki di depannya saja rasanya ia tak sanggup. Tiba-tiba rasa takut itu menyerangnya, bagaimana kalau Faisal sampai ...
"A–aku bisa jelasin, Mas!"
Faisal bungkam dengan wajah tanpa ekspresi. Hanya deru napasnya yang saling berkejaran, menandakan betapa ia tengah menahan sesuatu yang sebenarnya sejak tadi ingin ia lepaskan. Sedangkan Bu Widia, wajah perempuan yang sejak tadi memang sudah terlihat tidak enak itu kini bertambah emosi, menatap lembar demi lembar foto Vani bersama dengan lelaki asing.
"Kamu!!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat pada wajah Vani. Wanita itu hanya bisa meringis, menahan perih pada luka di sudut bibirnya.
"Bu, Vani bisa jelasin!" ungkap Vani pada perempuan paruh baya itu.
"Apa yang mau kamu jelasin, hahh! Apa selama ini uang yang anakku berikan kurang, hingga kamu sampai melacurk*n diri?!"
Vani tergagap di buatnya. Rasanya ucapan itu lebih menyakitkan sekali ketimbang tamparan yang tadi ia terima.
Jika di tanya kurang? Ya, memanglah sangat kurang untuk keperluannya dengan Faisal selama satu bulan. Untuk itu Vani harus banting tulang sendiri agar bisa menutupi kekurangannya.
"A–aku hanya bekerja, Bu. Aku bekerja untuk menutupi kekurangan uang bulanan yang Mas Faisal kasih sama aku," ungkap Vani dengan sejujur-jujurnya.
"Dengan melacu*kan diri seperti ini?!"
Foto-foto tadi Bu Widia lemparkan lagi pada wajah Vani.
"Jawab, Van?! Kamu bisu!!" teriak Bu Widia menggema di teras rumah.
"Nggak, Bu." Vani menggeleng pelan. Air matanya jatuh seketika mendengar tuduhan keji dari ibu mertuanya sendiri.
Bukan ini yang Vani inginkan. Ia tidak bermaksud berselingkuh, hanya saja keadaan yang membuatnya jadi seperti ini.
"Lihat, kamu masih mau pertahanin rumah tanggamu sama wanita kaya gitu?!" Bu Widia beralih pada anaknya.
Laki-laki itu masih bungkam tanpa sepatah katapun.
"Bahkan tadi saja dia udah berani bentak-bentak ibu! Dan sekarang, dia malah selingkuh di belakangmu!"
__ADS_1
"Aku nggak pernah ngelakuin apa-apa, Mas. Kumohon percayalah." Vani mendekat kearah Faisal dan berusaha menjelaskan.
"Alahhhh alesn aja kamu! Jangan-jangan dia udah tidur juga sama laki-laki itu, Nak."
"Bu ...!!"
Vani sungguh tak terima di tuduh sampai sejauh itu. Ia memang salah karena telah menghianati pernikahannya dengan Faisal. Tapi sungguh, antara ia dan Renan tidak sampai berbuat lebih, mereka hanya sebatas berpelukan saja.
"Mas, kamu percaya, kan sama aku." Vani meraih tangan Faisal, tapi laki-laki itu tiba-tiba menepisnya dengan sangat kasar.
"Jangan menyentuhku! Aku jijik melihatmu, Van!"
Duarrr
Vani mundur beberapa langkah mendengar ucapan Faisal. Apa tadi, jijik? Lantas bagaimana dengan dirinya yang selama ini seringkali berduaan dengan teman wanitanya?
"Mas ...?"
"Aku nggak nyangka kamu hianatin aku, Van! Apa ini balasannya buat semua yang udah aku kasih sama kamu?!" ungkapnya lagi. Faisal menunduk mengatur deru napasnya yang masih naik turun.
Beruntung sekitar rumah mereka terlihat sepi, semoga saja tidak akan ada tetangga yang sampai mendengarnya.
"Ceraikan saja, Nak. Untuk apa kamu masih bertahan sama wanita yang kaya gitu? Udah mandul, eh sekarang selingkuh lagi!!"
"Ini nggak seperti yang Ibu pikirkan!"
"Maksud kamu apa?! Masih mau mengelak padahal jelas udah ketahuan selingkuh?!"
"Aku nggak mandul, Bu!" elak Vani dengan tegas. Ia pikir mungkin ini saatnya untuk ibu mertuanya tahu keadaan rumah tangga mereka yang sebenarnya.
"Lalu, apa namanya kalau bukan mandul?!"
"Bu ...!!" Tiba-tiba saja Faisal bersuara. Laki-laki itu hanya takut Vani sampai hilang kendali dan mengatakan yang sebenarnya.
"Udah, sih, Nak. Ngapain kamu masih belain dia!"
"Aku nggak mandul, Bu. Ta–tapi ..."
"Cukup, Van!"
Bagaimana pun Faisal tidak ingin ibunya sampai kecewa. Sebisa mungkin ia akan menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Faisal tidak ingin sampai mematahkan harapan ibunya untuk segera menimang cucu.
"Tapi, Ibu harus tahu, Mas. Aku nggak mau terus-terusan di tuduh mandul!"
__ADS_1
"Cukup! Kubilang cukup, Van!" teriak Faisal keras.
Vani menatap nyalang pada laki-laki yang berdiri di depannya. Jadi, memang ini tujuan bungkamnya Faisal selama ini? Ia sengaja ingin mengkambinghitamkan dirinya untuk menutupi kekurangannya sendiri.
"Detik ini juga kamu harus keluar dari pekerjaan itu!" Faisal melangkah cepat meninggalkan Vani setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya.
.
.
.
Hubungan rumah tangga Vani dan Faisal benar-benar renggang setelah pertengkaran itu terjadi. Vani dengan terpaksa keluar dari pekerjaannya karena Faisal sempat mengancam akan mengusirnya jika Vani masih ketahuan berhubungan lagi dengan laki-laki itu.
Tentu saja Vani sangat ketakutan, ke mana ia akan pergi jika Faisal benar-benar membuangnya?
Pulang ke kampung halaman?
Vani terlalu malu menunjukkan wajahnya, apalagi kalau sampai statusnya yang akan berubah menjadi janda.
Hingga akhirnya Vani hanya bisa pasrah, menerima apapun yang Faisal putuskan meski ia sendiri yang akan kebingungan dari mana ia mendapatkan uang tambahan untuk menutupi kekurangannya nanti.
"Apa, Bik? Vani pamit mengundurkan diri?!" ulang Renan untuk yang ke sekian kalinya. Renan pikir tidak masuknya Vani beberapa hari ini di karenakan wanita itu sakit, tapi ternyata kabar mengejutkan malah Renan terima.
"Bibik juga nggak tahu kenapa Neng Vani tiba-tiba pamit keluar. Apa dia nggak ijin dulu sama Bapak?" Bik Minah juga belum tahu apa yang menjadi alasan Vani keluar dari pekerjaannya.
Renan menggeleng pelan. Bahkan dua hari yang lalu sikap Vani masih biasa saja. Gaji bulanannya pun sampai sekarang belum sempat ia berikan.
Apa mungkin sekarang uang yang suaminya berikan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Hingga Vani memutuskan untuk melepas pekerjaannya sebagai tukang bersih-bersih? itulah yang sejak tadi berputar-putar di kepala Renan.
Tapi, kenapa ini tidak adil sekali? Di saat perasaan itu mulai bersemi, Kenapa kemarau tiba-tiba melandanya?
"Bapak nggak apa-apa, kan?" Bik Minah menyadarkan Renan yang mendadak bungkam setelah mendengar kabar mengenai Vani. Wajah laki-laki itu pun berubah, seolah ada sesuatu yang tiba-tiba menghilangkan dari hidupnya.
"Saya nggak apa-apa, Bik. Hanya saja ...." Renan tidak bisa menjelaskan, sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa susah sekali untuk melepasnya?
"Sebaiknya Bapak nggak terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga Neng Vani. Takutnya nanti ada orang yang sama paham," ucap Bik Minah pada lelaki di depannya.
"Tapi, Bik, bagaimana kalau nanti Vani ...?"
"Percayalah, Pak. Semua pasti baik-baik aja." Bik Minah menegaskan sekali lagi.
Tapi Renan tetap saja tak bisa. Ia tidak mungkin diam sebelum tahu apa sebenarnya masalah yang tengah menimpa Vani.
__ADS_1
"Apapun caranya aku harus mencari tahu mengenai Vani, harus!" ucap Renan dalam hati dengan sangat mantap.