Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Janji Bagas


__ADS_3

"Om jangan bohong sama aku! Cepat bilang Mba Vani, kalau aku mau ketemu dia, sekarang!" Bagas mendatangi rumah Renan dan ngotot ingin bertemu dengan Vani. Tentu saja Renan bingung, sudah di jelaskan tapi laki-laki muda itu tetap saja tidak percaya.


"Kalau nggak ke sini, ke mana lagi, Om? Cuma tempat ini satu-satunya yang Mba Vani tahu." Bagas mengusap wajah kasar. Ia juga terlihat frustasi sekali mencari keberadaan Vani yang tak kunjung ketemu.


"Maksud kamu apa sih, bocah? Sudah lama Vani tak kerja di sini lagi." Ungkapan Renan justru membuat laki-laki muda itu terbawa emosi. Bagas dengan berani mencengkeram keras baju Renan dan menariknya dengan sangat kasar.


"Mba Vani di usir dari rumahnya, Om. Dia di ceraikan sama suaminya, dan Om orang pertama yang harus tanggung jawab untuk semua ini!" ucap Bagas dengan tatapan yang sangat tajam.


Bagas menyalahkan semua kejadian yang menimpa Vani di sebabkan oleh lelaki di depannya.


Hahhh ...


Renan nyaris tak percaya mendengar semua yang Bagas ucapkan. Tapi, jika semua itu memang benar, lantas ke mana perginya Vani?


"Sekalipun Vani ada di sini, kamu mau apa? Apa kamu mau ngadu sama suaminya yang tak berguna itu?!"


Renan ikut emosi. Baguslah kalau Vani memang bercerai dengan suaminya, jadi wanita itu tak harus menanggung penderitaan lagi.


"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan dong, Om. Mba Vani lagi sedih, Om sengaja mau manfaatin dia?"


"Siapa yang ambil kesempatan, Ren?!" Tiba-tiba sebuah suara yang tak asing terdengar di sebelahnya. Seorang pria berumur sekitar lima puluh tahunan lebih sudah berdiri tegap dan menatap dua laki-laki berbeda usia itu dengan tatapan tajam.


"Bapak ..?" ucap Renan menyadari siapa pria itu.


Sedangkan Bagas hanya diam menunggu dan menatap kedua lelaki itu secara bergantian.


"Siapa bocah ini, Ren? Dan siapa yang sedang kamu manfaatkan?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari seorang wanita yang baru keluar dari dalam mobil. "Kenapa kalian bertengkar? Dan siapa yang tengah kalian perebutkan?" tanya wanita itu lagi.


Renan hanya bisa bungkam tanpa berani menjelaskan duduk perkaranya yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kamu punya mulut untuk sekedar menjawab pertanyaan dari kami, kan?!" ucap pria tadi dengan sorot mata yang tajam.


"Jawab! Kamu mau jadi pecundang dengan terus bungkam seperti ini?"


Pria itu sudah mengangkat tangannya dan siap melayang kearah lelaki yang berdiri di depan sana.


"Udah, Pak. Kita bisa bicara baik-baik. Jangan emosi kayak gini. Ingat kesehatan Bapak juga." Sang istri memegang tangan renta itu agar jangan melukai anaknya.


"Maafkan saya, Pak. Renan tahu ini salah, tapi sungguh saya tak bisa menahannya lagi. Renan menyukainya, Pak," ucap Renan lirih tanpa berani menatap kearah dua orang tuanya.


"Dia siapa? Wanita mana yang kamu sukai? Kenapa bapak dengar kalian tadi memperebutkannya? Apa bocah laki-laki tadi itu pacarnya?" cecar sang bapak.


Renan bungkam lagi. Bukan perkara siapa wanita, dari mana asalnya dan seperti apa rupanya. Tapi ini mengenai status dari wanita itu yang pasti akan membuat pria di depannya langsung meradang jika sampai mendengarnya.


"Pak sebenarnya yang Renan sukai dia adalah ...."


.


Ternyata Bagas bukan hanya membuat keributan di rumah Renan hingga laki-laki itu harus mendapatkan amukan dari kedua orangtuanya. Tapi sebelumnya Bagas juga sempat marah dan memaksa Luna untuk memberitahu di mana alamat kampung halaman Vani.


Hal itu jelas membuat Bu Widia meradang karena tak sengaja mendengar anaknya di maki-maki oleh Bagas. Bu Widia lantas mendatangi rumah Bagas dengan maksud memberi perhitungan padanya.


Tapi malangnya Bagas tidak ada di rumah, hanya ada orang tuanya hingga terpaksa Bu Ratna lah yang harus meminta maaf berkali-kali pada orang tua Luna.


"Dasar, bocah kurang ajar! Bikin malu aja!" maki wanita paruh baya itu. Bu Ratna lega setelah melihat ibunya Luna pergi meninggalkan rumahnya meski dengan mengomel tidak jelas.


Tak lama Bagas pulang. Inilah kesempatan wanita itu untuk memberondong dan mencecar Bagas habis-habisan.


"Keterlaluan kamu, Gas! Bisa-bisanya kamu malah bentak-bentak Luna kaya gitu?! Kamu sadar nggak sih siapa Mba Vani itu? Dia udah punya suami, nggak seharusnya kamu ikut campur urusan rumah tangganya. Huhhh ... merepotkan aja kamu, sampai Bu Widia ke sini marah-marah sama ibuk."

__ADS_1


Bagas hanya bungkam. Menyesal telah memarahi Luna kalau akhirnya sang ibu yang harus menanggung akibatnya.


"Ibuk nggak pengen dengar lagi kamu cari tahu tentang Mba Vani. Itu bukan urusanmu, Gas. Biar dia urus masalah rumah tangganya sendiri," ucap Bu Ratna lagi.


"Bagas cuma kasihan sama Mba Vani aja, Buk. Selama ini Bagas tahu Mba Vani udah berkorban banyak buat Mas Faisal dan keluarganya. Tapi apa balasan buat Mba Vani? Mereka justru mengusirnya, bahkan nggak kasih kesempatan buat Mba Vani buat jelasin kejadian yang sebenarnya," jawab lelaki itu. Bagas menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.


"Tahu apa kamu tentang rumah tangga orang dewasa? Harusnya kamu fokus sekolah, bukan malah ngurusin rumah tangga orang!"


"Tapi, Buk, Bagas hanya ..."


"Udah, ibuk nggak pengen dengar apa-apa lagi alasan kamu. Ibuk mau kamu fokus sekolah, karena perusahaan ayah butuh pemimpin yang cerdas, yang nggak cuma bisa ngurusin masalah rumah tangga orang! Ibuk nggak segan-segan blokir semua kartu kamu kalau masih ngurusin masalah mereka!" tegas wanita itu sebelum meninggalkan Bagas yang masih terpaku dengan tatapan sendu.


Ternyata ancaman ibu tak main-main. Bagas kehilangan kebebasan menggunakan semua kartu karena sang ibu benar-benar memblokir dan membatasi uang bulanan untuknya. Bahkan kini Bagas harus meminta ijin setiap kali akan pergi menggunakan motornya sendiri.


Bukan apa, Bu Ratna hanya tidak ingin Bagas terlalu jauh ikut campur rumah tangga Vani.


"Maafin Bagas, Buk. Bagas janji nggak akan ikut campur lagi masalah mereka." Akhirnya mengakui kesalahannya selama ini. Bagas hanya ingin ibunya kembali percaya padanya.


"Ibuk udah maafin kamu, Gas. Jangan ulangi lagi, kamu emang punya hak buat nentuin masa depan kamu sendiri, tapi bukan dengan mencampuri urusan rumah tangga orang. Kamu ngerti, kan maksud ibuk?"


Bagas mengangguk. Ia juga mengecup punggung tangan wanita itu berkali-kali.


"Bagas janji bakal bikin ibuk sama Ayah bangga. Bagas akan berusaha sekuat tenaga agar pantas jadi pemimpin yang hebat seperti ayah," janji laki-laki itu.


Tak terasa ada yang mengalir melewati kedua pipi renta sang ibu. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memiliki anak yang patuh dan berbakti pada kedua orangtuanya.


"Ibuk jangan sedih lagi ya?" Tangan laki-laki itu mengusap cepat buliran bening di kedua pipi ibunya.


"Gas, ada yang mau ibuk omongin. Ini mengenai wasiat dari ayahmu."

__ADS_1


__ADS_2