Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Dua Purnama


__ADS_3

Baru saja di rayu sedikit Vani langsung luluh begitu saja. Padahal sebelumnya Faisal telah bertubi-tubi menyakiti, membentak, bahkan mengabaikannya. Tapi, entah kenapa rasanya Vani tak bisa menolak saat laki-laki itu sudah memohon maaf dan bersikap lembut sedikit saja.


Sebenarnya tadi malam mereka tidak sampai melakukan hal-hal romantis layaknya pangan suami istri pada umumnya. Tahu sendiri bukan, seperti apa keadaan Faisal. Vani pun dengan lapang hati bisa menerimanya. Mereka hanya tidur saling memeluk hingga pagi menyapa.


"Mas, sarapan dulu." Pagi ini suasana sudah kembali seperti biasa. Vani menyiapkan segala keperluan Faisal sebelum berangkat ke kantor.


"Masak apa Van?" Dengan pakaian rapi laki-laki itu melangkah kearah meja makan. Menatap masakan Vani dengan dahi yang berkerut bingung. "Tumben masak banyak?" Saat melihat berbagai macam menu yang ada di meja.


"Iya, Mas. Sekali-kali aku masak makanan kesukaan kamu juga." Vani menunjuk ayam goreng lengkap dengan sambal di sebelah sana dan menu lain yang sudah berjejer rapi.


Pagi tadi Vani sengaja berbelanja banyak di tukang sayur keliling sekalian buat stok untuk beberapa hari ke depan. Mumpung kemarin gajian, jadi Vani ingin mengisi kulkas yang sudah kosong melompong sejak tiga hari yang lalu dengan bahan-bahan makanan yang ia beli.


"Lho, katanya uang kamu udah menipis? Nanti ambil di dompet Mas aja ya?"


"Nggak usah, Mas. Aku udah gajian kemarin," tolak Vani. Padahal yang sebenarnya ia meminta uang gajiannya lebih dulu pada sang majikan.


"Bukannya gajian kamu awal bulan? Ini masih seminggu lagi lho, Van?" tanya Faisal dengan sedikit bingung.


"Aku emang minta gajianku maju satu minggu, Mas." Vani tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih bersih.


"Emang bos kamu nggak marah?"


Vani hanya menggeleng pelan. Wanita itu sudah mengambilkan nasi ke dalam piring dan menyerahkannya pada Faisal.


"Mau pakai lauk apa, Mas?"


(Baiknya kamu, Van ... Van)

__ADS_1


"Pakai itu, Van, ayam goreng. Sambelnya banyakin yah?" Faisal tersenyum sumringah menatap ayam goreng kesukaannya. Ia buru-buru mengambil piring dari tangan Vani dan segera memulai sarapan paginya.


Selesai sarapan Vani mengantarkan Faisal sampai ke depan. Seperti biasa ia mencium punggung tangan suaminya sebelum laki-laki itu masuk mobil dan melajukan kendaraan itu dari halaman rumahnya.


"Ciyeee romantisnya." Tiba-tiba sebuah suara menyita perhatian Vani. Laki-laki muda yang kemarin sempat bertandang ke rumah kini sudah berdiri dan menyandar pada pagar rumah milik Vani.


"Kamu nggak sekolah? Bolos ya?" tanya Vani pada laki-laki berusia delapan belas tahun itu.


"Apa sih, Mba? Libur kali ...." ucap Bagas membantah tuduhan Vani.


"Suaminya ganteng yah? Tapi, ya .. masih gantengan aku dikit lah!" ucap Bagas penuh percaya diri. Laki-laki muda itu malah sengaja bergaya di depan Vani hingga membuat wanita itu sedikit mengulum senyum menyaksikan tingkah konyolnya.


"Ganteng di lihat dari mana coba? Dari ujung sedotan? Hahaha ..." Vani terbahak membalas ucapan Bagas. Laki-laki muda di depan sana merengut mendengar jawaban dari Vani. Wanita itu tak peduli dan memilih memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam rumah.


"Mba, tunggu!"


"Tau nggak?"


"Nggak!" jawab Vani cepat.


"Dih, Mba jutek amat sih."


"Buruan, mau ngomong apa sih?!" tanya Vani tidak sabaran. Niatnya ingin segera bersiap untuk berangkat kerja jadi tertunda karena kedatangan bocah itu. "Buruan bocah?!" ucap Vani lagi.


"Yah, Mba. Aku emang bocah, tapi udah bisa bikin bocah juga lho. Nggak percaya, kan?"


Vani memutar kedua bola matanya malas. Benar apa yang di katakan Bu Ratna kemarin, meladeni Bagas lama-lama bisa jantungan juga. Bahkan bisa saja gila.

__ADS_1


"Mba Vani nggak tahu yah semalam ada dua purnama?" tanya Bagas dengan tatapan serius kearah wanita yang tengah berdiri menatapnya.


"Duh, mimpi kali kamu ,Gas. Mana ada dua purnama," jawab Vani dengan entengnya.


"Sudah kuduga. Mba Vani pasti nggak percaya." Bagas melipat kedua tangannya di dada, memamerkan gayanya yang sok cool itu.


"Udahlah tidur lagi sana. Terus mimpi lagi." Vani mengibaskan sebelah tangannya, tidak peduli dengan ocehan konyol Bagas tadi.


"Tunggu dulu sih, Mba!"


"Duh, apaan sih?!"


Vani sudah melotot dan berkacak pinggang di depan Bagas. Baru dua hari kenal sudah berani main tarik-tarik tangan Vani.


"Jangan macam-macam yah!"


"Jangan marah, Mba. Aku 'kan cuma pengen kasih tahu, kalau semalem emang ada dua purnama, kok." Bagas kembali mengulangi ucapannya tadi.


Dua purnama? Jangan-jangan ini bocah ngelindur kali yah? Vani membatin sendiri.


"Iya serius. Dua purnama, Mba. Satu di langit, dan satu lagi .... di wajah kamu."


Vani nyaris pingsan mendengar ucapan Bagas baru saja. Bisa-bisanya bocah itu merayunya, dan apa tadi? Dia menyamakan wajahnya dengan purnama?


Hai ....


Spoiler bab selanjutnya Renan tau semua tentang rumah tangga Vani.

__ADS_1


gimana? ikutin terus yah, jangan lupa dukungannya juga๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2