
Sudah beberapa hari ini Vani dan Renan selalu berbalas pesan lewat aplikasi hijau secara sembunyi-sembunyi. Nampaknya keduanya semakin dekat saja, apalagi Renan sedikit demi sedikit mulai terbuka dan menceritakan mengenai masa lalunya. Renan sudah bahagia meskipun hanya bisa berbalas pesan dengan wanita itu.
Lain halnya dengan Vani. Bukan tanpa alasan Vani sampai melakukan itu, Vani hanya kesepian, merasa di abaikan oleh Faisal yang sibuk sendiri setiap kali keduanya berada di rumah.
Hubungan Vani dan Faisal semakin renggang. Tadi pagi saja keduanya sudah bertengkar lagi. Apalagi kalau bukan masalah dengan sang ibu, tentunya perihal ... uang.
"Kamu nggak percaya sama aku, Mas?" ucap Vani dengan sudut mata yang mulai menggenang. Vani sudah berusaha bekerja agar bisa membantu perekonomian rumah tangganya, tapi apa tanggapan Faisal? Laki-laki itu malah tega menuduh Vani berbohong hanya karena Vani mengadukan perihal sang ibu yang sudah seringkali meminjam uang padanya.
"Gimana aku mau percaya, Van? Ibu sendiri bilang nggak pernah sekalipun pinjam uang sama kamu. Lagian Ibu masih punya jatah bulanan juga dari Bapak. Jadi buat apa?" Faisal masih kekeuh membela ibunya. Padahal Vani sudah menjelaskan, menceritakan bagaimana kelakuan ibu mertuanya selama ini.
"Buat apa aku bohong, Mas? Kamu tahu sendiri 'kan aku nggak pernah beli apa-apa. Ya, karena uang aku habis di pinjam sama ibu kamu terus."
"Van ...! Cukup, yah! Kenapa kamu jadi tega fitnah ibu seperti ini sih?! Kalau emang mau minta tambahan uang belanja ya bilang aja, nggak perlu nuduh Ibu kaya gitu, Van!"
Vani memejamkan mata, menahan sesak yang tiba-tiba datang menghujamnya. Air mata Vani luruh seketika mendengar perkataan dari Faisal.
Sakit, itu yang Vani rasakan. Saat Faisal–orang yang harusnya pertama kali membelanya, kini malah dengan keji menuduhnya berbohong.
"Mas ..."
"Udah, Van. Aku capek berantem terus. Aku mau berangkat kerja. Udah telat!" Faisal menyambar tas yang tergeletak di atas sofa, lantas mengayun langkah keluar dari rumah itu. Bahkan laki-laki itu tidak menyentuh sama sekali sarapan yang Vani siapkan.
Vani tersentak dari lamunannya, dan baru sadar kalau saat ini ia tengah membersihkan kolam renang di rumah Renan. Tak terasa kedua matanya sudah mengembun lagi. Vani buru-buru menyekanya cepat, tanpa sadar tubuhnya kurang seimbang, hingga akhirnya Vani ...
Byurrrr ....
Teriakan Vani tertahan oleh air yang menerobos masuk memenuhi rongga dadanya. Wanita itu hanya bisa memekik sambil terus berusaha menggapai apapun yang ada di sekitarnya. Tapi, nihil, karena air semakin menyeret tubuh Vani hingga ke dasar kolam.
"Vani ...!!"
Byurrrr
__ADS_1
Renan langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Berusaha meraih tubuh Vani dan membawanya ke tepi.
"Van, bangun!" Renan menepuk pipi wanita itu pelan. Vani masih memejamkan kedua matanya. Wanita itu juga tidak merespon sama sekali panggilan dari Renan.
Ya Tuhan ... bagaimana ini?
Kumohon ... bangun, Van ..
"Pak, ada apa dengan Neng Vani?" Bik Minah datang dengan wajah panik.
"Vani tercebur ke kolam, Bik."
"Astaga!" Bik Minah langsung berlari cepat kearah Vani dan ikut membantu menyandarkan wanita itu.
"Bagiamana, Bik? Apa yang harus kita lakukan?" Renan panik bukan main. Segala cara sudah mereka lakukan untuk membantu Vani agar segera sadar. Tapi, wanita itu belum juga membuka kedua matanya.
"Napas buatan, Pak!"
"Tapi, Bik?" Renan ragu sendiri. Ia tidak mau di anggap mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Nggak apa-apa, Pak. Ini darurat!" ucap Bik Minah membuat Renan tak bisa berkata-kata lagi.
"Maaf, Van, aku nggak bermaksud mengambil kesempatan ini." Laki-laki itu menarik napas panjang. Renan memejamkan kedua matanya, dalam hitungan detik kedua bibir itu sudah menyatu dengan sempurna.
Uhukkk!
Vani terbatuk dan memuntahkan banyak sekali air dari dalam mulutnya. Renan dan Bik Minah bernapas lega karena usahanya berhasil, meski mereka khawatir Vani akan marah jika sampai tahu apa yang terjadi baru saja.
"Kamu nggak apa-apa, Van?"
"Neng Vani nggak apa-apa, kan?" Bik Minah ikut bersuara. Wajah perempuan paruh baya itu terlihat khawatir sekali dengan keadaan Vani tadi. Apalagi saat Renan memberikan pertolongan pertama yang tidak membuahkan hasil sama sekali.
__ADS_1
"A–aku ... haciwww ...!"
Vani bersin beberapa kali. Lalu ia menatap laki-laki di depannya yang terlihat sama-sama basah.
"Apa Pak Ren yang udah selamatin aku?"
"Iya, Neng. Tadi Bapak yang nolongin Neng Vani."
Deg,
Vani serasa ingin pingsan lagi mendengar jawaban Bik Minah. Jika benar Renan yang telah menyelamatkannya, apa itu artinya tadi yang menciumnya juga dia?
Meski dalam keadaan pingsan, tapi alam bawah sadarnya masih bisa mendengar suara-suara yang ada di sekelilingnya. Termasuk bisa merasakan saat sebuah benda kenyal itu menyentuh bibirnya.
"Van, kamu baik-baik aja, kan?" Renan menatap wajah Vani yang terlihat sedikit memucat.
"I–iya, saya baik-baik aja, Pak."
"Van ...?"
"Sebaiknya Neng Vani ganti baju dulu, Pak. Nanti bisa masuk angin kalau basah-basahan gini." Bik Minah terpaksa menyela cepat, mengakhiri kecanggungan diantara keduanya.
"Tapi, saya nggak bawa ganti, Bik," ucap Vani kebingungan. Begitupun Bik Minah, meski sama-sama perempuan, tapi pakaian yang ia miliki dengan yang Vani gunakan setiap harinya berbeda. Vani berhijab, sedangkan Bik Minah tidak.
"Ya udah kamu bisa pakai baju mendingan istri saya. Kebetulan ada hijab juga milik Kania. Biar nanti Bik Minah yang anterin kamu." Akhirnya Renan bersuara lagi. Laki-laki itu juga menawarkan baju milik mendiang istrinya yang masih tersimpan rapi di lemari pakaian.
Meski harus mengingat kenangan lama, biarlah, daripada harus melihat Vani kedinginan dengan pakaiannya yang basah kuyup.
"Makasih, Pak." Vani menunduk malu. Meski sesekali masih berusaha mencuri pandang wajah tampan lelaki di depannya.
"Saya mau ganti pakaian dulu. Kamu nggak apa-apa, kan? Apa ada yang sakit? Biar nanti saya ambilkan obat sekalian?"
__ADS_1
"Nggak, Pak! Saya baik-baik aja!" Vani menggeleng dengan sangat cepat.