
"Apa-apaan sih tuh, Om, main bentak-bentak aja!" Bagas menggerutu sepanjang lorong menuju kelasnya. Laki-laki muda itu masih mengingat perang dinginnya tadi dengan majikannya Vani.
"Awas aja kalau sampai berani bentak-bentak Mba Vani. Aku nggak rela pokoknya, titik!"
Langkahnya hampir mencapai pintu kelas saat seorang gadis tiba-tiba memanggilnya dari arah belakang.
"Gas, kamu udah sampai?" Luna melangkah mensejajari langkah laki-laki itu.
"Kamu lagi, ngapain?" tanya Bagas dengan gayanya yang biasanya. Cuek dan ketus saat berhadapan dengan Luna.
"Kamu ketus banget sih kalau sama aku? Sama Mba Vani aja ramah banget!" Luna mendengus melayangkan protesnya pada Bagas. Gadis itu heran saja melihat sikap Bagas yang berbeda seratus delapan puluh derajat saat berhadapan dengannya dan kakak iparnya.
"Aku emang kaya gini. Kamu baru tahu? Dari dulu ke mana aja?"
"Apa sih kelebihan Mba Vani? Jelas-jelas masih cantikan aku."
Luna masih saja suka membanding-bandingkan dirinya dan Vani.
"Jelas bedalah, kamu nggak sadar juga!" balasnya dengan mengejek.
"Apa? Aku lebih cantik dari dia, Gas. Kamu kurang makan wortel atau gimana sih?!"
Bagas justru terbahak kencang mendengarnya.
"Jadi, kamu lagi bandingin diri kamu sama Mba Vani?!" Laki-laki itu menggeleng beberapa kali.
"Ya, iya. Cuma kamu doang cowok yang jutek sama aku. Padahal cowok lain langsung klepek-klepek kalau aku godain."
Dengan penuh percaya diri Luna mengatakan itu pada Bagas. Tapi jawaban laki-laki justru membuat Luna mendelik menahan geram.
"Ya itu karena mereka aja yang kampungan. Aku cowok berkelas, Lun. Lagian jadi cewek jangan terlalu kepedean kenapa? Malu 'kan ngaku cantik tapi sampai sekarang masih jomblo!"
"Sialan kamu, Gas!!"
maki Luna, tapi Bagas sudah menghilang entah ke mana.
.
.
__ADS_1
.
Vani sudah bersiap mengganti pakaian kerjanya dengan gamis panjang yang ia kenakan dari rumah. Wanita itu mematut penampilannya sekali lagi, sambil sesekali berbisik, pantaskah ia bertandang ke sana dengan pakaiannya yang sederhana seperti ini?
Saat Bik Minah memanggil barulah Vani keluar dari kamar. Ternyata makan siang yang akan ia antarkan sudah tertata rapi dalam rantang-rantang bersekat di atas meja.
"Ini Neng, yang mau di anterin ke rumah sakit." Bik Minah menunjuk rantang susun berwarna biru tadi. Lantas melirik pada jam yang tergantung di dinding ruangan itu.
"Neng Vani nggak mau makan dulu? Ini udah siang lho?"
"Nanti aja, Bik. Mau anterin ini dulu, nanti Pak Ren keburu nungguin," jawab wanita itu
"Oh, ya udah. Hati-hati, Neng. Di depan Pak Supir udah nungguin dari tadi."
Vani yang baru saja hendak melangkah meninggalkan dapur mendadak berhenti. "Pak Supir?" tanyanya tidak mengerti.
"Iya. Bapak udah kirim supir buat Neng Vani. Katanya biar lebih aman," ucap Bik Minah lagi.
"Ya udah Bik, Vani berangkat dulu."
Benar apa yang di ucapkan Bik Minah tadi. Di depan sana supir yang di kirim Renan sudah menunggu dengan siap. Saat melihat Vani keluar rumah, buru-buru ia mendekat dan mengambil alih barang yang ada di tangan wanita itu.
Vani mengangguk dan menyerahkan rantang berisi makanan tadi.
Mobil melaju sedang meninggalkan rumah mewah milik Renan menuju rumah sakit. Vani masih sesekali memeriksa penampilannya sendiri. Takut ada yang kurang enak di lihat sama Renan nantinya.
"Udah sampai, Neng."
Ternyata rumah sakit tempat Renan bekerja tidak terlalu jauh. Kurang dari satu jam mobil sudah mulai memasuki area parkir rumah sakit tersebut.
"Apa perlu saya antar sampai ke dalam?" tawar supir tadi menyadarkan diamnya Vani.
"Nggak perlu, Pak. Biar saya langsung masuk aja nggak apa-apa, kan?" Jujur saja Vani masih tidak tahu di mana letak ruangan milik Renan.
"Oh ya udah. Ruangan Bapak ada di lantai dua. Neng Vani bisa naik lewat lift di sebelah sana." Laki-laki itu menjelaskan keberadaan ruangan milik sang bos.
"Iya, Pak. Makasih udah di antar sampai sini."
Vani berpamitan sebelum akhirnya melangkah menuju lift yang di beritahu laki-laki tadi. Beberapa kali Vani juga sempat berpapasan dengan para perawat yang tengah sibuk lalu lalang dengan para pasiennya.
__ADS_1
Sampai di lantai dua, Vani masih kebingungan lagi. Di sebelah mana kira-kira letak ruangan Renan, pasalnya ada beberapa ruangan yang Vani sendiri tidak tahu ruangan apa itu.
Hingga Vani memutuskan untuk melangkah saja. Namun, sebuah suara wanita menegurnya dari arah samping kanannya.
"Mba cari siapa?"
Vani reflek menoleh, dan apa yang terjadi selanjutnya saat tahu siapa wanita yang saat ini tengah berdiri menatapnya.
"Kamu? Ngapain ada di sini?!" tanya wanita itu dengan sangat ketus.
Vani yang sudah menduga sebelumnya akan bertemu dengan wanita itu berusaha bersikap tenang. Toh, ia datang ke sini atas permintaan Renan sendiri.
"Maaf, Mba, ruangan Pak Renan sebelah mana ya?" Vani bertanya seramah mungkin.
Wanita bernama Mika tadi memicing tak suka.
"Mau ngapain? Bukannya tugas kamu bersih-bersih di rumah? Ngapain cari Renan sampai ke sini? Dih, keganjenan!"
Vani mengepalkan sebelah tangannya. Ia berusaha tidak terpancing oleh ucapan Mika yang sengaja memprovokasinya.
"Bukan urusan Anda!" jawab Vani tanpa menatap wajah wanita itu.
"Hehhh! Aku asisten pribadi Renan, jadi apapun yang menyangkut tentangnya harus lewat persetujuan aku dulu!" Mika sengaja menunjukkan posisi.
"Cih, baru asisten. Bukan pacarnya, kan?" Vani berbisik pelan.
"Ngomong apa kamu?!"
"Saya hanya ingin bertemu Pak Renan, jadi tolong jangan halangi saya."
"Ngeyel kamu yah! Udah sini titip aku, itu pasti buat Renan, kan?!" pinta Mika saat melihat barang yang di bawa Vani.
"Nggak. Biar saya sendiri yang kasih ke Pak Ren. Ini perintahnya langsung!" Vani masih mempertahankan rantang itu meski Mika sudah berusaha merebutnya.
"Dih, songong nih pembantu! Kamu sengaja mau godain Renan apa gimana sih?!"
"Ada apa ini ribut-ribut?!"
Orang yang sejak tadi menjadi objek perbincangan keluar karena mendengar ribut-ribut di depan ruangan miliknya.
__ADS_1