
Apa yang di khawatir Vani terjadi juga. Saat ia menghubungi Bu Aida dan menyampaikannya niatnya, wanita itu menjawab jika mereka telah menjodohkan anaknya dengan wanita lain.
Bukan salah mereka, tapi Vani merutuki kebodohannya sendiri karena telah menyia-nyiakan niat baik kedua orang itu itu Sekarang Vani hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua pada Sang Pemilik Kehidupan karena hanya Dia lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya.
"Duh, Pak, gimana ini? Kenapa saat kita udah minta Mika buat nikah sama Renan, Mba Vani justru menerima permintaan kita dulu?" Bu Aida jadi bingung. Masalahnya Mika sudah senang sekali menerima tawarannya, tidak mungkin ia akan tega membatalkannya begitu saja.
"Bapak juga bingung, Bu. Tapi kalau kita batalin perjodohan ini, Mika dan keluarganya pasti marah. Bapak ndak mau hubungan keluarga kita sampai hancur."
Pak Heri pun demikian, pria paruh baya itu tidak ingin sampai terjadi salah paham hanya karena ia membatalkan rencana perjodohannya dengan keluarga Mika.
"Yah ... gagal punya menantu Mba Vani dong?" Bu Aida kecewa berat. Tapi mau bagaimana, sudahlah apa boleh buat. Semoga saja Renan segera bisa di bujuk agar mau menikah dengan Mika.
"Udah, Bu. Mungkin Renan ndak berjodoh dengan Mba Vani. Kita harus ikhlas."
Sementara di sebuah rumah sakit besar, tepatnya ruangan milik pemimpin rumah sakit tersebut seorang laki-laki nampak merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya.
Renan merasakan panas menjalar di sekujur tubuh dan gairahnya tiba-tiba memuncak tanpa sebab.
Renan sampai berpikir apa ada yang salah hingga ia bisa merasakan keadaan seperti ini? Tapi Renan yakin sekali sejak pagi tadi saa datang ke rumah sakit tidak ada sesuatu yang ia telan, kecuali ...
Kopi ...
Yah ... Renan melirik minuman yang masih tersisa setengah itu. Lalu mengingat lagi siapa orang yang mengantarkan tadi.
"Sial! Apa dia sengaja mencampurkan sesuatu ke dalam kopi itu? Tapi apa tujuannya?"
Renan semakin kepayahan saja saat reaksi obat itu mungkin sudah menjalar keseluruhan tubuh. Wajahnya memerah serta deru napasnya yang naik turun menandakan ia benar-benar butuh pelampiasan detik ini juga.
"Ren ..."
Tiba-tiba saja wanita itu masuk ke ruangan. Di bawah pengaruh obat sialan itu Mika terlihat berbeda, bahkan Renan sampai menelan salivanya susah payah hanya karena menatap tubuh Mika.
"Tolong ... jangan mendekat," ucap Renan di sela-sela menahan hawa panas pada tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Mika malah sengaja mendekat kearah Renan hingga laki-laki terpaksa mundur beberapa langkah.
"Cepat keluar, Mik. A–aku ... arghhhh !"
Renan semakin mundur, begitupun Mika malah berusaha terus mengikutinya. Sedangkan kesadaran Renan semakin lama kian menipis. Renan takut tidak bisa mengendalikan diri hingga akhirnya memaksa wanita itu.
Tapi saat Renan berusaha mati-matian menahannya, Mika justru dengan sengaja menabrakkan tubuhnya pada Renan.
"Ren ..." Desah wanita itu semakin membuat Renan terbakar gairah.
"Tolong keluar Mik, aku nggak mau menyakitimu."
"Aku nggak keberatan, Ren. Cepat lakukan saja."
Renan sudah benar-benar di liputi gairah. Kesadaran tinggal sedikit lagi. Sedangkan Mika malah terang-terangan menawarkan diri.
"Ren ..."
"Akhhhh ...." Tubuh Mika terhempas keatas sofa dengan posisi Renan menindihnya.
"Maaf Pak Dimas, tapi Pak Renan sedang tidak bisa di ganggu. Beliau lagi sibuk," ucap pria yang sejak tadi tidak meninggalkan area lobby rumah sakit. Tugas dari Mika ternyata ia emban mati-matian demi uang yang di janjikan wanita itu.
"Sibuk?" Kedua alis Dimas saling bertaut. Padahal satu jam yang lalu ia sudah membuat janji dengan Renan. Dan laki-laki itu pun setuju dan meminta bertemu di ruangan pribadinya.
"Saya tidak bohong, Pak. Pak Renan sendiri yang bilang sama saya."
Dokter Dimas tidak bisa percaya begitu saja. Laki-laki itu meraih telepon genggam dan langsung menghubungi nomor Renan.
Tutt ... tutt ... tutt ..
Panggilan tersambung tapi tak juga mendapat respon dari Renan.
Sedangkan satu jam lagi Dokter Dimas ada pertemuan rutin dengan pasiennya.
__ADS_1
"Saya hanya ingin memastikan Renan benar-benar sibuk," ucap Dokter Dimas lagi.
"Tapi, Pak ..."
Dokter Dimas semakin penasaran saja, kenapa Renan membatalkan janjinya tanpa sebab dan tidak mengabarinya sendiri. Malah menugaskan pria asing ini.
"Saya cuma mau mampir ke ruangan Renan sebentar." Dokter Dimas tetep memaksa untuk masuk.
"Maaf, Pak. Tetap tidak bisa. Saya takut di marahi Pak Renan." Pria itu malah kini menghalangi langkah Dokter Dimas.
"Tolong jangan memaksa saya untuk berbuat kasar sama Anda!" Ancam dokter muda itu.
"Ma–maaf, Pak."
Pria itu akhirnya menyingkir dan membiarkan Dokter Dimas menuju lantai dua tempat di mana ruangan Renan berada.
"Duh, mati aku kalau sampai Bu Mika tahu saya gagal menjalankan perintah dia," ucap pria itu dengan wajah pucat.
Dokter Dimas terus melanjutkan langkah hingga sampai pada ruangan paling besar yang ada di lantai tersebut.
Lorong tampak sepi, Dokter Dimas semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres sedang menimpa Renan. Tapi apa?
Saat tepat di depan pintu ruangan, ia mendengar suara-suara aneh dari dalam sana. Pintu ruangan itu pun sepertinya sengaja di kunci.
"Ren, buka pintunya, Ren!"
Tidak ada respon apapun dari dalam sana.
"Ren ...?!"
Brakkk!!
Dokter Dimas terpaksa mendobrak pintu ruangan Renan. Dan apa yang ia lihat sontak membuat kedua matanya membelalak lebar.
__ADS_1
"Ren ....!!"
Bugh!