
"Tumben Neng Vani jam segini udah sampai?" Pak Satpam yang tengah berjaga di pos langsung berdiri dan membukakan pintu untuk Vani. Pria yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengabdi pada keluarga itu lantas menutup pintu gerbang lagi setelah memastikan Vani masuk.
"Iya, hari ini saya gantiin Bik Minah untuk sementara waktu, Pak." Vani memaksakan senyum, meski hatinya tak ingin melakukannya. Vani hanya ingin cepat meninggalkan rumahnya sebab mood yang sejak pagi sudah buruk oleh kelakuan mertua serta adik iparnya.
"Biasanya Pak Renan berangkat kerja jam berapa ya, Pak?" Wanita itu bersuara lagi, karena Vani lupa menanyakan pada Minah waktu itu mengenai jam berapa majikannya biasa berangkat bekerja. Sebenarnya Vani hanya takut terlambat datang dan tidak sempat menyiapkan makanan untuknya.
"Biasanya sih jam 8, Neng."
Vani tersenyum lega, artinya masih ada waktu membuatkan sarapan untuk Pak Renan.
Tidak ingin menunda waktu lagi Vani bergegas masuk ke dalam. Melewati pintu, lantas menuju dapur dan segera merencanakan apa yang akan ia masak pagi ini.
Suasana rumah memang sepi karena majikannya hanya tinggal seorang diri. Meski Vani pernah mendengar jika Pak Renan memiliki istri dan seorang anak, tapi entah di mana keberadaan mereka sekarang. Vani hanya tahu jika kedua orangtuanya tinggal di luar kota mengurus bisnis keluarganya di sana.
Vani langsung membuka kulkas untuk mengambil bahan masakan. Ia bahkan lupa pesan Bik Minah bahwa majikannya tidak pernah sarapan nasi waktu pagi. Wanita itu berniat membuatkan nasi goreng yang terbilang cukup mudah dan cepat membuatnya.
Tapi, baru saja Vani mengulurkan tangan, tiba-tiba gerakannya terhenti saat mendengar suara laki-laki dari arah belakang,
"Pasti kamu yang namanya Vani, kan?" Suara seorang laki-laki membuat jantung wanita itu nyaris melompat keluar. Buru-buru Vani membalikkan tubuh dan menghadap laki-laki yang berdiri di belakangnya.
"Eh, selamat pagi, Pak." Vani menunduk malu. Mengangsur tubuh sedikit menjauh saat sang majikan semakin mendekat ke arahnya.
Detak jantungnya sudah berpacu sangat cepat. Reflek, Vani memejamkan mata. Vani mengira lelaki bernama Renan itu ingin menyentuhnya, terlihat saat tangannya yang tiba-tiba bergerak ke arah wajah Vani. Nyatanya, ia salah sangka.
Ya Tuhan ... ternyata seperti ini wajah Pak Renan. Tak di pungkiri Vani di buat terpesona akan ketampanannya.
Dengan jarak sedekat ini Vani bisa melihat maha karya Tuhan yang nyaris sempurna. Hidung mancung, rahang tegas yang di tumbuhi bulu-bulu halus di kedua sisinya, serta tatapan setajam elang terlihat sangat memukau sekali.
"Kamu kenapa?" Suara Renan lagi-lagi membuyarkan lamunan wanita itu. Vani salah tingkah sendiri. Padahal Renan hanya ingin mengambil air dingin yang ada di dalam kulkas.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Pak." Terpaksa berbohong. Padahal sebenarnya wajahnya nyaris ia sembunyikan ke dasar bumi karena teramat malu.
Astaga! apa yang aku pikirkan tadi? Vani menjerit dalam hati.
"Bik Minah udah bilang ke kamu, kan? Kalau hari ini nggak bisa masuk?"
"Iya, Pak. Bik Minah udah telepon saya semalam," jawab Vani canggung.
Renan terlihat mengangguk. Laki-laki itu lantas menenteng gelas yang berisikan air putih menjauh dari arah dapur. Vani sendiri masih shock di buatnya. Terpaku di tempatnya berdiri sedangkan tatapannya masih mengarah ke depan, kearah majikannya pergi dan menghilang dari pandangan.
Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, barulah Vani bersiap untuk segera pulang. Vani melangkah kearah kamar yang di sediakan untuknya, masuk dan merapikan diri sebelum akhirnya melangkah lagi dan menyambar tas miliknya di atas meja.
Seperti biasa Vani menunggu angkutan umum di depan gerbang milik rumah majikannya. Berhubung hari ini bekerja sendirian, jadi jam pulang sedikit terlambat. Tapi Vani tak perlu khawatir karena tadi pagi sudah minta ijin pada suaminya, dan Faisal sendiri mengijinkannya.
Hampir lima belas menit Vani menunggu, tak satupun angkutan umum yang lewat di depannya. Sampai akhirnya mobil mewah berwarna hitam itu datang. Vani tahu, itu mobil milik majikan laki-lakinya.
"Tampan." Sekali lagi Vani berbisik. Namun setelah tersadar akan kekhilafannya tadi, cepat-cepat ia memukul bibirnya,
"Awww ....!" Vani memekik padahal semua itu karena ulah tangannya sendiri.
"Kamu belum pulang, Van?" Entah kapan laki-laki itu turun, tahu-tahu Renan sudah berdiri di depan Vani.
"Belum, Pak. Saya lagi nunggu angkutan umum," jawab Vani dengan jujur.
Renan mengangguk. Matanya menatap sekeliling yang sudah mulai sepi. Lantas laki-laki itu melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Bagaimana kalau saya antar?" tawar Renan pada wanita itu.
Sejenak Vani membeku. Jika di antar, akan seperti apa penilaian para tetangganya nanti? Apalagi jika ibu mertuanya sampai tahu, bisa-bisa omelannya tidak berhenti sampai tahun depan.
__ADS_1
Tapi, jika menolak, paling hanya ada taksi yang masih melintas. Bukan pelit, tapi Vani hanya ingin berhemat, mengukur uangnya yang hanya tinggal recehan di dalam tas.
"Gimana, Van? Mau saya antar?" Suara Renan kembali terdengar. Vani seperti berperang dengan pikirannya sendiri. Antara naik taksi atau mengiyakan tawaran dari majikannya.
Setelah basa-basi lebih dulu, akhirnya Vani bersedia di antar juga. Lumayan, ongkos naik angkutan umum bisa aku pakai untuk keperluan yang lain, ucap Vani dalam hati.
Mobil melaju kearah alamat yang sudah Vani beritahukan sebelumnya. Mereka sama-sama diam, tidak ada satupun yang berniat membuka percakapan. Sampai akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan gerbang komplek tempat tinggal Vani.
"Makasih, Pak." Vani memutar tubuh, melangkah melewati gerbang komplek dengan langkah ringan. Sedangkan mobil milik Renan masih terlihat belum bergerak dari tempatnya. Entah apa yang di lakukan laki-laki itu di dalam sana.
Namun baru beberapa langkah, lagi-lagi apa yang di pikirkan Vani ternyata tidak meleset. Sekumpulan ibu-ibu yang tengah duduk saling berbincang mendadak mengalihkan perhatiannya padanya. Salah satu dari mereka–pun menggodanya terang-terangan.
"Ciyeee .... siapa tuh?" ledek salah satu dari mereka.
Vani merutuki kebodohanku sendiri. Kenapa tadi tidak minta di turunkan agak jauh dari kompleks perumahan ini saja? Atau, setidaknya ia sudah menyiapkan alasan yang masuk akal untuk di berikan pada mereka, terlebih pada ibu mertuanya dan Faisal nanti.
Berpikir, dan berpikir, akhirnya Vani memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu setenang mungkin.
"Itu majikanku tadi, Bu. Kebetulan lagi lewat sekitar sini, jadi sekalian menawarkan tumpangan sama aku." Vani terpaksa sedikit berbohong demi mencari aman.
"Ah, yang bener, Van? Tapi, dia tampan juga yah? Eh, ngomong-ngomong udah nikah belum, Van?" Ternyata Vani salah memberikan alasan. Harusnya tadi bilang saja jika lelaki itu cuma driver taksi online yang ia sewa.
Tapi, tunggu? Kenapa Ibu itu tahu kalau Pak Renan tampan? Apa mereka juga melihatnya saat laki-laki itu membuka kaca mobil tadi?
"Ya udah, aku permisi dulu Bu. Capek, mau istirahat." Vani memilih pergi saja. Bukan melarikan diri, tapi malas saja meladeni omongan para ibu yang tak ada habisnya.
"Titip salam ya, Van, buat majikan kamu!" Vani mendengar lagi suara teriakan salah satu ibu tadi dari arah belakang sana.
"Dasar, ganjen!"
__ADS_1