
"Jadi gimana? Kamu masih mau nolak ibu jodohin sama dia, Ren?"
Pertanyaan Bu Aida bagai bisikan angin belaka. Hilang sekejap hilang tanpa berbekas.
Dua manusia itu masih diam, mengerjap, bahkan laki-laki di depan sana terlihat mengusap matanya berkali-kali. Mungkin menyangka jika ini hanya mimpi. Sampai akhirnya Renan tersadar dan menyebut nama wanita itu.
"Vani ...?"
Senyum wanita di sebelah sana langsung mengembang sempurna. Keranjang di dekat kakinya pun terlupa begitu saja.
"Pak Ren ..."
Ya, benar. Renan, mantan majikan sekaligus kekasihnya dulu.
Tanpa aba-aba Renan langsung menubruk tubuh Vani. Mendekap wanita itu cukup lama hingga terdengar suara bariton milik sang bapak,
"Renan!!"
Udara sekeliling mendadak berubah. Adegan romantis sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Kini tinggallah suasana canggung yang tercipta di antara mereka.
"Tolong jelaskan, apa maksud semua ini, Ren?!" tanya pria itu dengan tatapan dingin. Pak Heri menatap kedua pasangan yang baru di pertemukan oleh takdir tadi secara bergantian.
Mereka sudah ada di rumah Vani. Duduk saling berhadapan di ruang tamu milik wanita itu.
"Pak ..."
"Apa selama ini wanita yang kamu maksud adalah dia?" sambar Pak Heri tanpa memberikan kesempatan Renan untuk menjelaskan. "Katakan!"
Vani takut-takut mengigit bibirnya sendiri. Ia sama sekali tidak menyangka jika Renan adalah anak dari Bu Aida dan Pak Heri–laki-laki yang berniat di jodohkan dengannya.
Tapi itu dulu. Sedangkan kemarin Bu Aida sendiri bilang jika anaknya sudah di jodohkan dengan wanita lain. Lalu apa maksudnya semua ini? Kenapa mereka datang ke sini dan membawa laki-laki itu?
__ADS_1
"Maaf, Pak. Sebenarnya ini semua salah saya," Suara Vani terdengar. Semua pasang mata mengarah ke wajahnya. "Saya yang lebih dulu mendekati anak bapak," ucapnya.
"Van ...!"
Tentu saja semua kaget mendengar pengakuan Vani yang tiba-tiba.
"Bohong, Pak. Renan lah yang selama ini berusaha menggodanya. Percayalah ... Vani wanita baik," bela lelaki itu. Pandangan mereka bertemu lagi, Vani hanya bisa menggeleng pelan sebagai bentuk penolakan agar Renan tidak lagi membelanya di depan kedua orangtuanya sendiri.
"Ah ... kenapa kalian berdua malah buat bapak tambah pusing saja."
Pak Heri memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Sungguh semua ini bukan hanya kebetulan. Mungkin Tuhan telah mempersiapkan segalanya agar mereka bertemu kembali.
"Udah, Pak. Ndak usah muter-muter gitu, langsung aja kenapa," ucap wanita setengah baya itu.
"Ya jadi gimana, Bu? Bukankah kemarin Renan menolak perjodohan ini, kan?"
Renan langsung melotot mendengarnya.
"Udah. Bapak tahu kalau kamu mau tentuin masa depan kamu sendiri. Berhubung kemarin kamu nolak tawaran ibu sama bapak, jadi bapak memutuskan untuk menjodohkan Mba Vani dengan Dimas aja."
Kedua orang tua itu saling pandang dan tersenyum.
Hahhhh!
"Tapi aku cinta sama Vani, Pak. Kenapa malah Dimas sialan itu yang mau di jodohkan sama dia?!"
Renan benar-benar tidak mengerti. Kenapa kedua orangtuanya malah memikirkan Dimas.
"Lho, kemarin kamu sendiri yang nolak mentah-mentah."
Kini gantian Vani yang melotot.
__ADS_1
"Pak Ren nggak mau sama aku?" Suara Vani memecah ketegangan. Wajah wanita itu juga berubah sendu, Renan yakin sekali jika Vani benar-benar kecewa padanya.
"Van ...."
Renan sontak bangkit dan dan duduk bersimpuh di depan Vani. Ia menatap kedua bola mata milik wanita itu yang sejak tadi terus saja mengawasi gerak-geriknya.
"Apa yang Pak Ren lakukan?!" pekik Vani saat melihat aksi berani Renan di depan orangtuanya.
"Aku cuma mau buktiin kalau perasaan aku ke kamu masih tetap sama. Nggak ada yang berubah sedikit pun," ucap lelaki itu.
Vani melirik tak enak pada Bu Aida dan Pak Heri. Mereka pasti sudah berpikir macam-macam hingga anaknya mau saja melakukan hal konyol seperti itu.
"Jangan kayak gini, Pak. Aku nggak enak sama orang tua kamu," bisik Vani.
"Aku nggak peduli, Van. Mereka harus tahu kalau aku benar-benar cinta sama kamu "
Sesaat semua hening. Nisa sudah seperti obat nyamuk saja yang keberadaannya tidak di anggap sama sekali.
Huhhh Menyebalkan. Orang kalau lagi jatuh cinta suka nggak kenal tempat!
Sedangkan Bu Aida dan Pak Heri hanya menyimak. Mereka membiarkan keduanya saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
"Apa kamu udah nggak cinta sama aku lagi, Van?"
Dua orangtua itu lama-lama bosan juga menonton adegan romantis di depannya.
"Van, kamu diam aja sih?!"
"Udah belum sih acara romantis-romantisannya? Ibu sama Bapak udah capek tahu nunggu kalian nggak kelar-kelar."
Suara Bu Aida merusak suasana saja. Vani langsung menarik tangannya yang sejak tadi di genggam Renan. Wajahnya pun memerah seketika.
__ADS_1
"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Biar ibu sama bapak yang akan mengurusnya."