Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Bagaimana Denganmu?


__ADS_3

"Jadi Kamu dalang di balik semua masalah ini?!" bentak Renan pada wanita yang tengah menunduk depannya. Awalnya Renan pikir keluarnya Vani karena memang sudah tidak membutuhkan pekerjaan sampingan lagi. Nyatanya semua itu akibat ulah campur tangan Mika di belakangnya.


"Ren ... apa maksudmu? A–aku hanya melakukan yang terbaik untukmu," ungkap Mika memberi alasan.


"Terbaik katamu?!" ucap Renan dengan pandangan yang tajam. Sungguh, Renan tidak menyangka jika Mika akan ikut campur dalam urusan pribadinya sampai sejauh ini.


Meski hubungan keluarga Mika dan Renan terbilang sangat dekat, tetap saja Mika tidak punya hak apapun untuk mengatur kehidupan pribadinya.


"Sadar, Ren ... dia itu wanita bersuami. Nggak seharusnya kamu mendekatinya," ungkap Mika lagi.


"Itu bukan urusanmu, Mik!"


"Jelas saja itu jadi urusanku, Ren! Kamu nggak sadar kalau wanita itu cuma mau manfaatin kamu aja!"


"Apa maksudmu?! Vani bukan wanita seperti itu, Mik!" tegas Renan membantah semua tuduhan Mika untuk Vania.


"Kalau dia emang wanita baik-baik, nggak mungkin dia akan godain kamu, Ren! Dia pasti sengaja mau manfaatin kamu doang. Dia cuma mau harta kamu, Ren!"


Renan bungkam beberapa saat. Ungkapan Mika baru saja memang benar adanya. Tapi ...


"Vani tidak pernah menggodaku, Mik. Justru, akulah yang berusaha mendekatinya. Aku yang lebih dulu menawarkan hatiku padanya. Jadi, jangan katakan keburukan apapun lagi tentang Vani."


Mika menggeleng tak percaya mendengar jawaban Renan baru saja. Bahkan laki-laki itu mengakui perasaannya secara terang-terangan.


"Kenapa kamu sampai mati-matian belain dia, Ren! Apa yang kamu lihat dari dia sih?!"


"Cinta tak bisa di paksakan, Mik! Kamu ngerti, kan?" tegas Renan sekali lagi.


"Oh, apa jangan-jangan wanita itu udah gunain tubuhnya buat rayu kamu? Ck, dasar wanita murahan!"


"Cukup,Mik!


"Nggak, Ren. Apapun yang terjadi, aku nggak akan biarin kamu sama dia!"


"Mika!!" bentak Renan dengan sangat kencang. Mika mundur beberapa langkah melihat wajah Renan yang semakin memerah.

__ADS_1


"Ren ..."


"Cukup, Mik!" Laki-laki itu mengusap wajah kasar. Renan benar-benar sudah jengah menghadapi sikap Mika yang semakin menjadi.


"Kita memang sudah kenal lama, Mik. Tapi, maaf, aku sama sekali tidak ada perasaan apapun sama kamu. Dulu, sekarang, dan selamanya. Perasaan itu tak bisa di paksakan, Mik," lirih Renan pada wanita yang berdiri di depannya. Laki-laki itu masih berusaha menahan diri agar tidak sampai menyakiti Mika.


Mika mematung mendengar semua ungkapan hati Renan. Jika saja bisa, Mika ingin sekali tahu apa alasannya hingga laki-laki itu tak pernah menyukainya.


Aku cantik, aku juga dari keluarga terpandang. Sama seperti keluarganya. Tapi kenapa Renan tidak pernah bisa melihatku sedikitpun?


"Ren ..."


"Maaf, Mik. Sekali lagi aku minta maaf. Aku harap ... ini terakhir kalinya kamu ikut campur urusanku." Renan melangkah pergi meninggalkan ruangan Mika tanpa menoleh kearah wanita itu lagi.


Mika meremas ujung pakaian kerjanya dengan rasa hancur. Meski ini bukan pertama kalinya Renan menolaknya, tapi tetap saja Mika merasa hatinya remuk berkeping-keping.


"Awas kamu, Ren!!"


.


.


.


Setelah memarahi Mika habis-habisan, Renan langsung menyambar kunci mobilnya dan bertolak menuju tempat tinggal Vani. Renan khawatir dengan keadaan Vani. Ia tidak bisa membayangkan jika laki-laki itu sampai menyakitinya.


Ia tak peduli sekalipun ia akan bertemu langsung dengan suami dari wanita itu. Bahkan hari ini Renan sempat membatalkan pertemuan pentingnya dan beberapa kali mengabaikan panggilan telepon dari Mika.


"Maaf, Pak. Sebaiknya kita nggak ketemu lagi. A–aku harap ini terakhir kalinya Pak Ren menemui saya," ucap Vani seraya melepaskan cekalan tangan lelaki itu.


Vani tidak menyangka jika Renan akan datang ke tempatnya. Laki-laki itu bahkan meminta waktunya untuk berbicara sebentar meski awalnya Vani sudah menolak.


"Aku minta maaf, Van. Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Dia nggak sampai nyakitin kamu, kan?" Renan menatap Vani yang terus saja menunduk menyembunyikan wajahnya.


Vani hanya bingung ingin menjawab apa. Faisal memang tidak pernah menyakitinya secara fisik, tapi setelah pertengkaran itu sikapnya berubah sekali. Faisal semakin acuh, bahkan sekarang sering pulang telat dengan alasan lembur.

__ADS_1


Entahlah, benar atau tidak, Vani tidak berani menanyakan langsung. Takut, jika akan memicu pertengkaran baru.


"Van, kenapa kamu diam? Dia nggak nyakitin kamu, kan?" tanya Renan untuk yang kedua kalinya.


"Itu bukan urusan Pak Ren. Jadi ... saya mohon jangan campuri urusan saya lagi."


Meski berat mengatakannya, karena sejujurnya hati wanita itu telah lama terpaut pada sosok Renan.


"Aku nggak rela kalau sampai dia nyakitin kamu, Van. Aku nggak akan bisa terima kalau kamu sampai kenapa-kenapa."


"Pak Ren lihat sendiri, kan, saya baik-baik aja."


Vani berusaha mengangkat wajahnya menatap kearah Renan. Cukup lama keduanya saling pandang.


"Tapi. Van ...?"


"Saya mohon, Pak ... mengertilah. Saya cuma nggak mau nambah masalah lagi."


"Tapi aku nggak bisa, Van. Bagaimana mungkin aku bisa lupain kamu gitu aja," lirih Renan pada wanita di depannya.


"Kalau Mba Vani udah nggak mau, jangan di paksa dong!" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan keduanya. Mereka serempak menoleh dan mendapati Bagas sudah berdiri dengan kedua tangan yang mengepal erat. "Sebaiknya Om segera pergi dari sini!" perintah laki-laki muda itu.


"Apa hak kamu ngusir saya, bocah?" Renan bersikap santai, ia tidak ingin sampai terpancing emosi gara-gara ucapan bocah di depannya ini.


"Harusnya Om sadar diri kalau Mba Vani udah punya suami, Kenapa masih aja deketin dia? Ck, nggak tahu malu!"


Entah kenapa Renan hanya tersenyum mendengar ocehan Bagas.


"Bagaimana denganmu? Kamu juga suka sama Vani, kan?"


Jawaban Renan jelas membuat Bagas langsung gelagapan. Kenapa kini dirinya malah yang merasa terpojok?


"Van, aku pergi dulu. Kalau kamu butuh apa-apa bisa hubungi aku." Renan tersenyum kearah Vani dan berjalan kearah mobil miliknya di depan sana.


Tinggal Bagas dan Vani yang masih menatap punggung Renan dari kejauhan. Laki-laki itu menghilang setelah mobil melaju meninggalkan depan gerbang kompleks perumahan tempat tinggal Vani.

__ADS_1


"Gas, yang di bilang Pak Ren tadi .... apa benar?"


Tiba-tiba saja suara Vani menyentak lamunan Bagas.


__ADS_2