
Setelah menunggu hampir 3 jam akhirnya mobil milik Faisal terlihat berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Vani buru-buru melangkah, dengan wajah merah padam ia langsung mencecar suaminya dengan pertanyaan.
"Kamu ke mana aja sih, Mas?!" tanya Vani dengan deru napas yang naik turun. Vani tidak bisa menahan amarahnya lagi saat melihat Faisal malah bersikap biasa saja.
"Maaf, Van, tadi ada keperluan dikit," balas laki-laki itu mendekat kearah Vani.
"Keperluan apa, Mas? Kamu nggak tahu kalau ibu aku lagi sakit? Ibu lagi nungguin aku di sana, Mas?"
"Iya, aku tahu, Van. Tapi bos tidak kasih ijin kalau aku nggak beresin kerjaanku dulu, Van. Kamu ngerti, kan?"
Amarah Vani yang tadi meletup-letup seketika menguap begitu saja mendengar penjelasan Faisal. Jadi, karena pekerjaan suaminya terlambat pulang. Pikiran Vani sudah melayang entah ke mana.
"Maafin aku, Mas. Aku terlalu cemas mikirin Ibu." Vani tertunduk lesu. Saat ini waktu sudah menjelang sore. Sedangkan perjalanan dari sini ke rumah ibu memakan waktu hampir tiga jam. Jik sore ini mereka berangkat, mungkin sampai di kampung halaman sang ibu nanti menjelang malam. Vani jadi merasa bersalah sempat membohongi Nisa berkali-kali dan mengatakan jika ia sudah dalam perjalanan.
"Aku istirahat bentar ya, Van. Capek. Nanti kita berangkat sorean dikit nggak apa-apa,kan?"
Vani menarik napas panjang. Ia tidak bisa menolak karena Faisal memang terlihat sangat kecapekan. Vani masuk ke dalam rumah dan membuatkan teh hangat untuk Faisal seperti biasanya.
Menjelang sore mereka berangkat menggunakan mobil yang di kemudikan oleh Faisal sendiri. Vani duduk di sebelahnya dengan raut wajah yang sangat sulit di artikan. Berungkali Vani mengecek ponsel, untuk memastikan adakah pesan atau panggilan dari Nisa lagi.
"Semoga Ibu nggak Kenapa-kenapa ya, Van?" Faisal menoleh kearah wanita yang duduk di sampingnya.
"Iya, Mas, semoga aja Ibu nggak apa-apa."
Baru separuh perjalanan menuju kampung halaman Vani merasakan kantuk yang sudah tidak tertahan lagi. Beberapa kali ia menguap hingga akhirnya Faisal menyuruhnya untuk tidur.
"Tapi, nanti nggak ada yang temenin kamu ngobrol, Mas?" Nanti kalau kamu ikutan ngantuk gimana?"
"Nggak, Van. Nanti kalau ngantuk bisa berhenti dulu. Kamu tidur aja nggak apa-apa."
Vani mengangguk setuju. Ia memejamkan matanya sebentar, tidak lama kemudian wanita sudah benar-benar terlelap di sebelah suaminya.
Perjalanan yang harusnya di tempuh sekitar tiga jam kini terasa lebih lama sebab kondisi tubuh Faisal yang sudah lelah. Beruntung tadi ia sudah sempat istirahat sejenak sebelum akhirnya Vani memaksa untuk segera berangkat karena tidak sabar ingin secepatnya bertemu dengan sang ibu.
__ADS_1
Mungkin tinggal beberapa menit lagi mobil yang mereka kendarai menuju salah satu rumah sakit yang ada di daerah kampung halaman Vani. Ketika ponsel milik Vani yang ia biarkan di dashboard mobil berbunyi dengan sangat kencang.
"Van ... bangun!" Faisal mengguncang bahu istrinya pelan agar Vani segera membuka mata. Wanita itu mengerjap sebentar, lantas menoleh ke arah suaminya.
"Apa udah sampai, Mas?" tanya Vani dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna.
"Belum. Itu ponsel milikmu bunyi. Angkat dulu gih!"
Vani melirik ponsel yang ia letakkan begitu saja sebelum ia terlelap tadi. Benar, benda pipih itu berkedip-kedip menandakan tengah adanya panggilan.
Vani membeku sesaat menatap nama yang tertera di layar ponsel miliknya.
[Van ...!!]
[Ya ... Nis, aku hampir sam– ...]
[Ibu udah nggak ada, Van. Itu udah ninggalin kita baru aja.]
Ponsel dalam genggaman Vani terjun bebas mengenai bagian bawah mobil. Vani langsung bungkam dengan pandangan mata yang kosong. Detik selanjutnya ...
"Van, ada apa? Siapa yang telepon?" Faisal menepuk pundak Vani, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir wanita itu. Hanya ada genangan air mata yang perlahan mengalir dari kedua sudut matanya.
"I–ibu, Mas ...."
Air mata Vani semakin deras melewati kedua pipinya. Lidahnya terasa kelu, bahkan untuk menjelaskan pada lelaki di sampingnya pun rasanya Vani tak sanggup.
"Ibu ... ada apa sama Ibu, Van?"
Faisal terpaksa menginjak rem, mencari di mana keberadaan ponsel milik istrinya yang tadi sempat terjatuh.
[Assalamualaikum ..]
__ADS_1
[Wa'alaikumsalam ... Van, kamu udah nyampe mana? Jenazah Ibu udah di bawa pulang. Kamu langsung ke rumah aja,] ucap seorang gadis di seberang telepon.
Jenazah? Faisal bengong sendiri.
Innalilahi wainnailaihi roji'un ....
Faisal berbisik pelan. Ia menggenggam erat ponsel milik istrinya dan menoleh pada Vani yang sejak tadi bungkam tanpa sepatah kata pun.
[Sebentar lagi kami akan sampai.]
Mengakhiri panggilan. Faisal terpaksa memutar arah dan segera menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah milik mertuanya.
Benar saja, belum juga mobil memasuki pekarangan rumah, di depan sana sudah terlihat ramai sekali. Para tetangga saling bahu membahu membantu proses persiapan jenazah Bu Lela sebelum akhirnya akan di kebumikan nanti.
"Ibu ..!!" Vani berteriak histeris setelah berhasil membuka pintu mobil dan berlari membelah kerumunan orang-orang di depan rumahnya. Air mata Vani semakin melihat tubuh sang ibu sudah terbujur kaku di dalam sana.
"Kenapa Ibu malah ninggalin, Vani, Bu ..." isak Vani di samping jenzah sang ibu. Para tetangga berusaha menenangkan, tapi Vani memberontak dan tetap menangis tersedu di dekat jenazah sang ibu.
"Yang sabar, Van. Jangan kayak gini, nanti Ibu malah sedih." Nisa memeluk tubuh Vani dan berusaha menenangkan. Gadis itu bisa melihat sendiri bagaimana terpukulnya Vani saat ini.
"Sebenarnya sejak kapan Ibu sakit, Nis? Kenapa nggak pernah cerita sama aku?" isak Vani di pelukan sahabatnya.
"Sebenarnya udah lama Ibu kamu sakit-sakitan, Van. Tapi, Ibu selalu larang aku buat kasih tahu kamu. Katanya takut kamu kepikiran."
"Jadi, Ibu udah lama sakit kaya gini, Nis? Dan, aku .... nggak tahu sama sekali." Vani merasa jadi anak yang paling tidak berguna. Padahal saat telepon ia sudah sering mendengar ibunya terbatuk-batuk. Tapi, kenapa Vani tidak pernah menaruh curiga sedikitpun hanya karena sang ibu mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Aku anak yang nggak berguna, Nis. Aku udah berdosa sama Ibu aku sendiri. Seandainya aku nggak datang terlambat, mungkin aku masih busa temenin Ibu di waktu terakhirnya.
Vani masih menangis di pelukan Nisa, sementara Faisal hanya bisa menunduk sedih menatap kepergian ibu mertuanya tanpa bisa berkata sepatah kata pun.
Faisal merasa sangat bersalah pada Vani. Sebab dirinya lah mereka sampai datang terlambat. Andai saja tadi siang ia tidak makan bersama teman-temannya lebih dulu, andai saja tadi siang ia tidak ....
Ah, sudahlah ... semua sudah terlanjur.
__ADS_1