
Nyatanya Faisal benar-benar menalaknya. Faisal tak mau mendengar sedikit saja penjelasan Vani meski wanita itu sudah berulangkali memohon. Bahkan Vani sampai menangis dan berlutut di kakinya.
"Vania Aurora, mulai detik ini kamu bukan istriku lagi!" Suara bariton itu kembali menggema memenuhi ruangan. Semua yang ada di sana hanya diam dan menonton tanpa ada satupun yang bersimpati pada wanita yang tengah terduduk bersimpuh dengan air mata.
"Mas ..."
"Kamu denger 'kan yang di ucapkan anakku? Mulai detik ini kamu bukan istri Faisal lagi!" Suara wanita paruh baya itu semakin membuat hati Vani luluh lantak. Vani tidak tahu harus melakukan apa selain menangis dan mengiba pada lelaki yang masih berdiri menantang di depannya.
"Udah, Mba, sebaiknya kamu cepetan angkat kaki dari sini. Sekarang kamu bukan siapa-siapa kami lagi."
Suara Luna bak belati yang menghujamnya dengan tiba-tiba. Vani memaksa untuk bangkit, berdiri di depan laki-laki yang saat ini berstatuskan mantan suaminya.
"Apa ini balasan kamu buat aku, Mas? Balasan untuk semua pengorbanan yang udah aku kasih ke kamu?" ucapnya parau. Bahkan Vani tidak pernah mengungkit apa yang dulu sering Faisal lakukan padanya. Vani menganggap semuanya sudah berlalu setelah pertengkaran waktu itu. Tapi ternyata Faisal benar-benar membuangnya hanya karena kesalahpahaman tadi.
"Apa selama ini kamu ngerasa udah banyak berkorban buat aku, Van? Cih, berapa? Berapa yang harus aku ganti buat bayar pengorbanan kamu ke aku?" jawab Faisal dengan senyum yang meremehkan. "Bilang sama aku, Van?"
Vani menggeleng pelan mendengar jawaban Faisal. Mana Faisal yang dulu? Kenapa sekarang jadi berubah seperti ini.
Dengan perasaan hancur Vani mengemasi barang-barang miliknya. Tentu saja di temani Luna. Ah salah, bukan di temani tapi lebih tepatnya di tunggui oleh gadis itu karena mereka tak ingin Vani membawa barang apapun yang ada di rumah milik kakaknya.
"Jangan bawa apapun barang yang ada di sini," tegas gadis itu mengingatkan.
Vani hanya melirik sekilas. Rasanya ia muak berlama-lama di tempat bak neraka baginya. Vani semakin cepat membereskan barang miliknya, lalu melangkah keluar kamar menyeret sebuah koper besar.
"Tunggu, biarkan aku memeriksanya untuk memastikan nggak ada satu barang pun yang kamu curi."
Sampai di depan ternyata mantan mertuanya tak melepas Vani begitu saja. Wanita paruh baya itu mengaduk koper besar yang berisikan pakaian Vani hingga beberapa isinya berceceran lagi.
"Aku nggak mungkin mencuri barang apapun di sini, percayalah."
__ADS_1
Meski geram Vani masih berusaha bersikap sabar. Ia biarkan saja Bu Widia bertindak sesuka hati sampai melihat wanita itu puas dengan kegiatannya.
"Aman. Nggak ada apa-apa yang ia bawa."
Bu Widia menoleh pada Luna dan Faisal. Laki-laki itu .... Cih! Kini Vani pun berubah membencinya.
"Oke. Biarin dia cepat pergi, Bu. Aku udah muak lihat dia di sini."
Bukan Faisal, tapi justru Luna yang berbicara menyakitinya lagi. Gadis itu bergaya sok angkuh, seolah dia lah orang paling suci di dunia ini.
"Udah miskin, mandul, tukang selingkuh pula!"
Vani menghentikan langkah mendengar kalimat itu. Tanpa menoleh kedua tangannya pun mengepal erat.
"Aku janji akan buktiin bahwa yang semua mereka tuduhkan itu nggak benar!" ucapnya sambil melanjutkan langkah lagi meninggalkan kediaman milik mantan suaminya.
"Nggak nyangka penampilan alim tapi hatinya busuk."
"Padahal Faisal tampan, penghasilannya juga besar. Tapi, tetap aja nggak ada bersyukurnya sama sekali. Malah selingkuh, dengan kedok menjadi pembantu pula."
"Aku nggak nyangka Vani bisa berbuat seperti itu."
Berbagai macam sindiran pedas terpaksa Vani terima di sepanjang jalanan menuju tempat ia mencari angkutan umum. Terserah! Batinnya lelah kalau hanya demi meladeni omongan mereka.
Vani tak peduli akan penilaian orang lain padanya. Memilih terus melangkah, dan masuk ke dalam angkutan umum setelah kendaraan itu berhenti tepat di depannya.
.
.
__ADS_1
"Kamu ngapain dari tadi ngintip-ngintip gitu?" Luna menepuk pundak laki-laki muda yang sejak tadi celingukan di depan rumah sang kakak. Rumah itu nampak sepi, Maya yang tadi bertamu sudah pulang, sedangkan Bu Widia juga sudah kembali ke rumahnya sendiri yang hanya berjarak dua rumah dari kediaman Faisal.
"Nggak. Siapa yang ngintip?" Bagas mengelak. Meski sejak tadi ia risau karena tidak melihat wajah wanita pujaannya.
"Kamu nyari Mba Vani? Terlambat, dia udah nggak tinggal di sini lagi," ucap Luna yang langsung mendapat respon terkejut dari Bagas.
"Nggak tinggal di sini gimana maksud kamu, Lun? Apa Mba Vani lagi pulang ke rumah orang tuanya?" Bagas masih berpikir mungkin Vani tengah mengunjungi tempat tinggal orang tuanya makanya sejak tadi tidak terlihat.
"Beneran, Mba Vani emang udah nggak tinggal di sini lagi, Gas. Tadi sore Mba Vani pergi dari sini setelah Mas Faisal menceraikan dia."
Hahhh!
Bagas seketika melotot mendengarnya. "Apa? Cerai?"
Bahkan lidahnya kelu untuk sekedar mengucap kata itu.
"Becandamu nggak lucu, Lun." Bagas mencebik, merasa Luna semakin keterlaluan saja dengan membuat karangan cerita mengenai rumah tangga kakak lelakinya.
"Yang becanda siapa sih, Gas? Ini beneran, kok. Mba Vani emang udah nggak tinggal di sini lagi."
Bagas langsung lemas seketika. Laki-laki itu beberapa kali menajamkan pendengarannya lagi demi memastikan apa yang baru saja ia dengar tidaklah salah.
"Buat apa aku bohongin kamu, Gas. Kenyataannya emang Mba Vani udah Mas Faisal usir setelah ketahuan selingkuh dengan majikannya sendiri."
Ya Tuhan ... jadi kabar itu memang benar.
"Lalu, sekarang Mba Vani ada di mana?" tanya Bagas dengan wajah gusar. Bagas mengkhawatirkan keadaan Vani saat ini. Dengan siapa dia pergi? Apa dengan lelaki itu lagi?
"Udah sih, ngapain juga kamu mikirin wanita kaya dia. Jelas-jelas di depan kamu ada yang lebih segala-galanya." Luna memasang full senyum. Secara tidak langsung Luna merasa menang karena sudah menyingkirkan Vani dari kompleks perumahan tempat tinggalnya.
__ADS_1