Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Bidadari


__ADS_3

Cinta tak harus memiliki, itu munafik sekali. Tapi, apalah daya. Takdir mempertemukan mereka pada waktu yang salah.


Kenapa harus ada cinta, jika akhirnya luka yang ia tinggalkan.


Arghhh ...!


Pagi menyapa. Seperti biasa Bagas sudah rapi dengan pakaian sekolah serta motor sport keluaran terbaru yang ia dapatkan dari sang ayah saat ulang tahunnya kemarin. Laki-laki muda itu celingukan di depan gerbang kompleks seolah tengah mencari seseorang yang amat ia impikan kehadirannya.


"Wahhh mimpi apa aku semalem, bisa ketemu beneran sama bidadari." Senyumnya mengembang sempurna saat melihat wanita pujaannya ternyata baru melangkah juga melewati pintu gerbang.


"Bagas ...!" Seorang gadis berteriak senang dan langsung mengangsur langkahnya mendekati laki-laki muda itu. "Kamu pasti nungguin aku ya?"


Lupa, atau memang berlagak lupa padahal dirinya sendiri yang sudah dari setengah jam lalu berdiri di situ.


"Apa sih, Lun. Jangan kepedean!" jawab Bagas sewot. Wajahnya merengut pada Luna, tapi saat memandang kearah lain, kenapa Bagas langsung mengubah mimik wajahnya?


"Yang kamu bilang bidadari itu pasti aku, kan?" ucapnya penuh percaya diri. Ya, lah siapa lagi? pikir Luna. Di situ memang hanya ada dirinya sebelum Bagas datang.


"Dih, siapa yang nungguin kamu? Lagian yang aku maksud bidadari itu tuh!" Sambil menunjuk kearah belakang Luna berdiri.


Luna sontak mengikuti ke mana tangan Bagas. Dan ....


"Mba Vani ?!" ucapnya spontan.


"Pagi, Mba? Gimana, semalem tidurnya nyenyak, kan?" sapa Bagas sangat ramah, berbeda sekali saat tadi menyapa gadis di sebelahnya.


"Kalian ngapain? Pagi-pagi udah pacaran!" balas Vani dengan alis yang mengerut menatap dua bocah berseragam putih abu-abu itu.


"Eh, enggak! Kita nggak pacaran lho, aku jomblo, Mba. Serius!" Dua jari tangannya membentuk huruh V.


"Siapa?" tanya Vani lagi.


"Aku, Mba. Aku jomblo."


"Maksudnya yang nanya siapa?" Vani mengulum senyum melihat wajah Bagas yang tiba-tiba berubah masam.


"Ah, Mba Vani, nggak asik deh!" Bagas melipat bibirnya ke dalam. Gadis di sebelah sana hanya memutar bola matanya malas.


"Ck, kecentilan!"

__ADS_1


"Mba, bareng yuk? Aku anterin sampai kerjaan Mba Vani," ucap Bagas lagi. Tawaran Bagas sontak membuat gadis di sebelah sana terbengong tak percaya.


"Gas, kenapa malah nawarin Mba Vani sih?! Jelas-jelas aku udah nungguin kamu dari tadi!" protes Luna tidak terima. Gadis itu lagi-lagi merasa tersaingi oleh kehadiran Vani.


"Lagian siapa yang suruh kamu nungguin aku?! Dih, nggak jelas!" balas laki-laki itu dengan sangat ketus.


"Udah. Mending kamu bareng Luna aja, Gas. Lagipula Mba nggak mungkin 'kan kamu bonceng dengan pakaian kaya gini!" tunjuk Vani pada gamis panjang yang ia kenakan.


"Oh, iya yah! Duh, gimana dong?!" Bagas terlihat blingsatan. Padahal ia sudah merencanakan dari semalam. Bagas sengaja bangun pagi-pagi agar bisa mengantar Vani sekalian pergi ke sekolahnya.


"Tuh benar yang Mba Vani bilang. Udah yuk, mana helm buat aku?" Luna sudah siap naik keatas motor.


"Apaan sih, nyambar aja kaya petasan! Nggak ya, aku maunya bareng Mba Vani! Lagian kamu udah ada mobil, ngapain minta bareng sama aku!" tegas Bagas sekali lagi.


Kini gantian Luna yang di buat merengut oleh ucapan Bagas.


Vani hanya menggeleng menyaksikan tingkah absurd mereka. Berhubung waktu sudah semakin siang, Vani memutuskan untuk melangkah ke depan menunggu angkutan umum yang sebentar lagi lewat.


"Mba, tunggu, Mba! Aduh, gimana ya?" Bagas mengacak rambutnya kasar. Hal itu malah membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Luna sendiri sampai menganga di buatnya.


Bagas tidak peduli. Ia malah mendorong motornya kearah pos satpam dan menemui laki-laki paruh baya yang tengah berjaga di sana.


"Lho, Mas, motornya kenapa? Mogok?" Satpam tadi memandang heran dengan motor yang terlihat kinclong itu. Percuma bagus, tapi gampang mogok, pikirnya.


"Emmmm ... iya, Pak, mogok." Bagas mengiyakan saja daripada harus panjang lebar menjelaskan.


Setelah menitipkan motor di pos satpam, Bagas berlari kearah depan kompleks meninggalkan Luna yang masih berdiri terpaku menatapnya.


"Mba Vani, tunggu, Mba!" teriak Bagas pada wanita yang berdiri di depan sana.


"Sebenarnya aku yang kurang cantik, apa matanya yang nggak normal, sih?!" tanya Luna pada dirinya sendiri. Heran saja melihat Bagas bisa bersikap lembut pada Vani, berbeda sekali saat berbicaran padanya, Bagas selalu bersikap ketus dan menyebalkan sekali.


Sedangkan di depan gerbang kompleks perumahan mewah itu, Vani dan Bagas sama-sama berdiri menunggu angkutan umum yang belum juga lewat. Vani melirik berkali-kali laki-laki muda di sampingnya dengan wajah heran. Pasalnya waktu sudah semakin siang, apa tidak khawatir terlambat nanti?


"Gas, ini udah siang lho, kamu yakin mau berangkat pakai angkutan umum? Nanti kalau kamu telat gimana?"


"Tenang, Mba. Hari ini jam pelajaran kosong, jadi nggak apa kalau telat. Nggak bakal di marahin kok!" Laki-laki itu memperlihatkan senyum kearah Vani, merasa di perhatikan oleh wanita itu. "Mba Vani khawatir aku kena marah ya?" tanya Bagas lagi, bocah itu menaik turunkan sebelah alisnya.


"Dih, bocah. Baru di kasih perhatian kayak gitu aja udah terbang ke langit." Vani melengos kearah lain. Lucu saja dengan tingkah gayanya yang selalu percaya diri. Tapi, lumayan lah sekalian aja buat balas dendam ke Luna. Vani tersenyum jahat.

__ADS_1


"Aku rela terlambat, asal sama Mba Vani. Bolos pun nggak masalah asalkan Mba Vani senang." Rayu lagi dan lagi.


Vani hampir muntah mendengarnya. Untung saja tak lama angkutan umum yang mereka tunggu melintas, Vani buru-buru masuk setelah kendaraan itu berhenti di depannya.


"Mas, mau ikut naik nggak?" tanya Supir angkutan yang melihat Bagas malah melongo dengan wajah bingung.


Bagaimana tidak, angkutan itu nyaris penuh. Lalu, di mana bidadari hatinya akan duduk?


"Hei, buruan! Malah bengong!"


Bagas mendadak ragu. Tapi, jika ia tidak ikut masuk, nanti siapa yang akan menjaga Vani?


"Eh, iya, iya Pak. Aku ikut!" Dengan gerakan cepat Bagas masuk dan ikut duduk berhimpitan. Bagas sengaja duduk di sebelah Vani agar wanita itu tidak di pepet-pepet oleh laki-laki lain.


Duh, Gas, so swettnya kamu ...


Angkutan melaju perlahan meninggalkan area kompleks perumahan mewah itu. Bagas tak nyaman karena posisinya yang sangat sempit. Lain halnya dengan Vani yang terlihat biasa aja.


"Pak, tolong geser dikit dong!" protes Bagas pada lelaki paruh baya di sebelahnya.


"Geser gimana, Mas. Ini saya juga sempit," jawabnya.


"Duh, Mba, emang harus ya sempit-sempitan gini?" Sebenarnya Bagas merasa tak enak karena secara tak sengaja tubuhnya menempel pada Vani. Tapi, mau bagaimana lagi?


"Siapa yang suruh kamu ikut-ikutan naik angkutan umum? Nggak ada 'kan?" Vani menjawab enteng.


"Setidaknya kalau Mba nggak mau aku anterin, bisa 'kan bareng sama suami Mba?"


"Nggak bisa. Kantor Mas Faisal sama kerjaan Mba beda arah, Gas," jawab Vani di sela-sela suara para penumpang yang lain.


"Emangnya kalau beda arah kenapa? Dasarnya aja pelit nggak mau anterin istri sendiri!" cebik lelaki itu. Heran saja di mana rasa simpati sebagai seorang suami melihat istrinya setiap hari harus berdesak-desakan seperti ini.


"Udahlah, jangan bahas itu lagi!"


Saat Vani berusaha mengakhiri obrolan, saat itu pula supir yang membawa angkutan umum itu tiba-tiba mengerem secara mendadak.


Semua penumpang terlihat panik karena beberapa dari mereka ada yang beradu dengan kerasnya bodi mobil. Begitupun dengan Vani. Wanita itu memekik terkejut, untuk saja ada laki-laki di sebelahnya yang berusaha melindunginya.


"Mba Vani nggak apa-apa, kan?"

__ADS_1


Persis di film-film, keduanya beradu pandang dengan tatapan terkesima.


__ADS_2