
"Mau sampai kapan kamu begini, Ren? Masa depan kamu masih panjang. Di luar juga masih banyak wanita yang lebih cantik. Jangan berharap sama yang ndak pasti."
Pak Heri mendatangi rumah sakit yang di kelola oleh Renan. Menurut laporan yang ia terima keadaan tempat itu sedikit kacau. Renan seringkali tidak hadir dan beberapa keluhan dari keluarga pasien pun kerap kali di abaikan.
"Mau jadi apa kalau kamu kayak gini terus?"
"Renan hanya mau dia, Pak. Bukan yang lain."
Pak Heri menghela napas berat. Setelah di tinggal pergi mendiang istrinya beberapa tahun yang lalu, Renan sempat menutup diri. Laki-laki itu juga membatasi pergaulannya dengan semua wanita, bahkan Mika saja yang sudah Renan kenal sejak kecil masih belum mampu meluluhkan hati laki-laki itu. Tapi, entah kenapa saat wanita itu hadir Renan seolah menemukan semangat hidupnya kembali.
"Apa kamu ndak kasihan sama kami? Mau jadi apa Keluarga kita jika tahu kamu menyukai wanita bersuami?" tanya Pak Heri dengan putus asa.
"Renan yakin kalau dia udah pisah sama suaminya, Pak."
"Lantas kalau wanita itu memang udah pisah, apa dia mau sama kamu? Di mana dia sekarang? Bapak pengen ketemu langsung."
Kali ini Renan tak mampu berkata-kata selain bungkam dan menunduk. Sudah lebih dari tiga bulan lamanya Renan mencari keberadaan Vani yang tak kunjung ketemu. Segala macam cara ia lakukan tapi belum menemukan hasil.
"Kenapa kamu diam? Kamu ndak bisa bawa dia ketemu bapak, kan?"
"Renan masih berusaha mencarinya, Pak," jawab laki-laki itu.
"Mencari? Kamu pikir bapak percaya gitu aja?" Pak Heri terbakar emosi lagi. Bu Aida yang sejak tadi bungkam dan menyimak sudah khawatir kalau sampai penyakit sang suami kambuh lagi.
"Pak udah, ndak usah di terusin. Sebaiknya kita pulang aja." Bu Aida mengajak suaminya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Bapak kasih kamu waktu dua minggu. Kalau wanita itu belum juga bisa kamu bawa, bapak harap kamu mau terima tawaran dari kami."
Dua orang tua itu melangkah meninggalkan ruangan Renan. Laki-laki itu hanya bisa terpaku menatap kepergian mereka dengan rasa sedih.
Kemana ia harus mencarinya lagi? Ataukah takdirnya dengan Vani memang sudah sampai di sini saja?
__ADS_1
.
.
.
"Jadi kapan kamu mau nikahin aku, Mas?" Pagi-pagi Maya sudah mendatangi Faisal. Laki-laki yang baru tiga langkah memasuki ruangan itu nampak jengah dengan pertanyaan Maya yang sudah kesekian kalinya.
Maya juga tak segan mendatangi rumah Faisal, dan mendesak ibunya agar membujuk Faisal untuk segera meresmikan hubungan mereka.
"Sabar, May. Ada sesuatu yang masih harus aku urus," jawab laki-laki itu memberi alasan.
"Apa? Mengenai perceraian kamu sama Vani? Bukannya semua udah beres?" Maya berdecak sebal. Wanita itu kini malah duduk di meja kerja Faisal, tak peduli pada laki-laki itu yang hendak memulai pekerjaannya.
"Bukan. Ada sesuatu yang nggak bisa aku kasih tahu sekarang sama kamu," ucapnya lagi.
Maya tampak memicing. Selama ini apa sih yang tidak ia tahu tentang Faisal? Bahkan ia juga sudah sering menginap di rumah laki-laki itu.
Awas aja kalau sampai aku tahu kamu ada main di belakang, aku nggak akan tinggal diam! bisik Maya dalam hati.
"Bukan, May. Pokonya ini masalah kecil, kamu nggak perlu tahu."
Tapi tetap saja Maya penasaran.
"Aku nggak peduli, Mas. Yang aku mau kamu cepetan nikahin aku?!"
"Iya, kamu sabar dulu, May. Aku pasti akan nikahin kamu."
Ck, janji lagi.
Maya tak tinggal diam hanya mendengar janji-janji Faisal yang tak kunjung di tepati. Sore ini Maya kembali menyambangi rumah Faisal tanpa meminta ijin lebih dulu pada lelaki itu. Rumah yang cukup mewah yang dulunya Faisal tempati dengan Vani itulah tujuan Maya. Maya berjalan anggun melewati para ibu-ibu kompleks yang tengah berkumpul dan berlalu begitu saja tanpa menyapanya.
__ADS_1
"Lihat tuh pacarnya Faisal, sombong bener," ucap ibu berumur sekitar empat puluhan tahun. Di antara mereka memang dia lah yang paling cerewet, apalagi soal mengomentari hidup orang, kelebihannya itu jangan di ragukan lagi.
"Bener, sombongnya minta ampun. Kapan sih mereka mau nikah? Masa hubungannya gitu-gitu terus, nanti lama-lama bosen," ucap ibu di sebelahnya lagi.
"Dulu dia juga 'kan yang bikin rumah tangga Faisal sama Vani sampai hancur?"
"Eh, bukan. Kabarnya Vani yang ketahuan selingkuh sama bosnya," sahut yang lainnya lagi.
"Alahhh paling cuma alesan merek doang. Vani dijadikan kambing hitam." Orang yang menyukai Vani membelanya.
"Iya juga yah? Tapi kalau emang Vani yang selingkuh ya wajarlah, siapa sih yang nggak tergoda setiap hari di suguhi pemandangan indah gitu. Udah di rumah suaminya nggak bisa cukupin, ya pasti nyari yang lain lah."
"Udah, udah. Nanti kedengaran Bu Widia. Bisa ngamuk lho dia." Satu lagi menasehati.
"Biarin aja, lagian jadi mertua cerewetnya nggak ketulungan. Aku mah cuma kasihan sama Vani aja. Tiap hari harus kerja padahal suaminya punya gaji gede."
Maya yang mendengar tak peduli. Terserah orang mau ngomong apa yang penting tujuannya mendapatkan Faisal berhasil.
"Awas kubalas nanti kalau aku udah di tinggal di sini," ucap wanita itu dalam hati
Langkah Maya berhenti di pekarangan rumah Faisal. Wanita itu tersenyum menatap pada benda kecil yang baru saja ia ambil dari dalam tas. Benda kecil pemberian Bu Widia itu akan Maya gunakan untuk mendesak Faisal agar segera menikahinya.
"Mungkin cara ini perlu aku coba." Maya melangkah kearah pintu, mendorongnya perlahan lantas masuk ke dalam sana.
Faisal baru saja keluar dari kamar mandi ketika melihat pintu kamarnya terbuka. Padahal seingatnya tadi ia sudah menutup, bahkan menguncinya dari dalam. Laki-laki itu melangkah mendekatinya dan mendorong pintu itu lagi sembari membenahi ujung handuk yang tengah melilit tubuh bagian bawahnya.
Namun tanpa di sangka jika di dalam kamarnya sudah ada penghuni lain. Faisal sangat terkejut saat tiba-tiba dua buah tangan melingkar di pinggangnya.
Detak jantungnya pun kian tak beraturan ketika tangan itu mulai merayap pada tubuhnya.
Faisal tersadar dan langsung mendorong secara sengaja orang yang tengah mendekapnya dari belakang. Saat Faisal berbalik, ia melihat wanita itu ....
__ADS_1