
"Wasiat apa, Buk? Ayah nggak pernah ngomong apa-apa ke Bagas?" tanya lelaki itu.
Bu Ratna menghela napas panjang. Wanita itu terdiam cukup lama mengingat kembali ucapan suaminya dua tahun lalu sebelum meninggal.
"Sebenarnya, kamu udah di jodohin sama anak temen ayah sejak masih bayi."
"Hahh ...!" Bagas sontak terkejut. Ucapan ibunya sempat membuat Bagas berpikir, apa ibu sengaja ngomong gitu karena masih nggak yakin aku bakal jauhin Mba Vani?
"Ibuk nggak bohong, Gas. Ini juga nggak ada kaitannya dengan Mba Vani. Jadi, kamu jangan punya pikiran kalau ini hanya akal-akalan ibuk aja."
"Nggak, Buk. Bagas tahu kalau Ibuk nggak bakal sampai bohong sejauh itu hanya karena Mba Vani," balas Bagas meyakinkan ibunya.
"Jadi, kamu mau 'kan turutin permintaan terakhir ayah kamu?"
Pertanyaan kali ini sungguh membuat Bagas di lema. Jika pun nanti ia menikah, Bagas ingin sekali menentukan pilihannya sendiri. Bukan karena di jodohkan oleh kedua orangtuanya.
"Tapi kalau kamu nggak mau ibuk nggak akan maksa. Yang penting ibuk udah berusaha kasih tahu amanat terakhir dari ayah kamu. Ibuk juga nggak akan melarang kamu dekat dengan siapa pun asalkan dia bukan wanita bersuami. Kamu ngerti kan maksud ibuk?" Bu Ratna membebaskan keputusan di tangan Bagas karena bagaimanapun lelaki itu yang akan menjalani pernikahannya sendiri.
"Apa Ibuk yakin Bagas boleh nolak permintaan ayah?" tanya Bagas dengan suara lirih.
"Keputusan tetap di tangan kamu. Ibuk nggak akan maksa kalau kamu nggak setuju." Wajah ibu terlihat sendu. Bagas jadi semakin bingung.
"Kalau kamu setuju, dua hari lagi kita berangkat ke tempat teman ayah tinggal. Kebetulan ibuk udah ada alamat lengkapnya."
Setelah mengatakan semuanya, Bu Ratna pamit untuk kembali ke kamarnya. Tinggallah Bagas seorang diri merenungi semua perkataan ibunya tadi.
.
.
.
"Kamu udah ndak waras, Ren, sampai bisa suka sama istri orang?" Pak Heri memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Di sebelahnya sang istri langsung panik, menatap wajah anaknya yang masih diam dalam posisinya.
"Udah, Pak, cukup. Ingat pesan dokter, Bapak ndak boleh marah-marah terus."
"Anakmu udah keterlaluan, Buk. Dia ... akhhh ..." Nyeri itu semakin terasa. Renan ikut cemas dan mendekat kearah sang bapak, tapi pria itu langsung mendorongnya dengan kasar.
__ADS_1
"Jangan membuat malu dengan bertingkah bodoh seperti itu, Ren. Masih banyak wanita cantik di luar sana, kenapa malah wanita bersuami yang kamu suka?!"
"Benar kata bapakmu, Ren. Apa kamu ndak takut dosa dengan merusak pernikahan mereka."
Ucapan kedua orangtuanya terus berputar di kedua telinganya. Tapi Renan terlanjur jatuh hati pada Vani. Lagipula saat ini wanita itu tengah menunggu proses perceraian dengan suaminya. Apa salah ia menunggunya?
"Pokoknya bapak ndak setuju kamu menikah dengan wanita itu!" ucap Pak Heri mengakhiri perdebatan tersebut.
.
.
.
Sudah sebulan lebih Vani tinggal di desa dan menjalani profesi barunya sebagai tukang cuci gosok mengikuti jejak sang ibu dulu.
Setiap pagi Vani memulai aktivitasnya dari pintu ke pintu menjemput pakaian kotor lantas mengantarnya lagi sore hari ketika sudah bersih. Meski begitu Vani sangat bersyukur karena dengan hidup sendiri malah ia merasa tenang dan bahagia.
"Van, ada kurir yang nyariin kamu." Nisa tetangga sekaligus sahabat dekatnya datang mengantarkan kurir yang tadi sempat kebingungan mencari alamat Vani.
"Benar, ini dengan Mba Vani?" Suara pria yang menyebut namanya tadi nampak menyodorkan sesuatu, "Ada paket, Mba. Silahkan di tanda tangani dulu tanda penerimanya."
Kurir tadi pergi setelah paket berpindah tangan pada pemiliknya.
Kini tinggal Vani dan Nisa saling pandang. Dua wanita itu tampak mengamati paket yang baru saja Vani terima.
"Kira-kira apa isinya ya, Nis?" tanya Vani pada gadis di sebelahnya.
"Coba buka aja, Van. Siapa tahu barang itu emang buat kamu."
Vani nampak mengangguk. Perlahan wanita itu membukanya dan kedua matanya langsung membelalak sempurna.
Tubuh Vani nyaris ambruk membaca huruf demi huruf yang tertera dalam sebuah lembaran berwarna putih.
Ya, lembaran berwarna putih tadi adalah surat dari pengadilan agama yang menyatakan status barunya saat ini.
"Nis ...."
__ADS_1
Kristal bening lolos begitu saja dari kedua sudut mata Vani. Hatinya hancur berkeping-keping bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh terduduk di atas lantai rumahnya.
"Kamu yang sabar, Van. Mungkin jodoh kamu sama Mas Faisal emang sampai sini aja." Nisa memeluk tubuh ringkih Vani dan berusaha menenangkan.
Vani tidak menyangka Faisal akan benar-benar menceraikannya. Dalam waktu sebulan ini Vani berharap laki-laki itu datang dan mengubah keputusannya. Vani masih berharap Faisal memintanya untuk kembali dan memperbaiki rumah tangganya lagi.Tapi, ternyata Vani salah, yang datang malah surat cerai dari Faisal untuk dirinya.
"Apa ini artinya aku udah di buang sama Mas Faisal, Nis? Dia udah nggak cinta sama aku lagi?"
Nisa tidak bisa berkata apa-apa selain menjadi pendengar wanita itu. Vani masih menangis dan menghabiskan waktu seharian ini dengan mengurung diri di kamarnya.
Hingga para pelanggan yang biasanya memakai jasanya pun ada yang mendatangi rumah.
"Mba Vani sakit yah? Kok hari ini nggak ambil cucian di rumah?" tanya wanita bertubuh gemuk dengan make up yang agak mencolok. Wanita itu adalah salah satu pelanggan setia Vani sejak ia buka jasa cuci gosok.
"Iya, Bu. Maaf yah Mba Vani hari ini libur dulu, tadi mendadak sakit." Nisa yang menemuinya. Sedangkan Vani sama sekali tidak mau keluar kamar.
"Oh ya udah, besok kalau udah sembuh tolong bilangin suruh ambil cucian kotor seperti biasa ya, Mba?" ucap ibu tadi seraya pamit dari rumah Vani.
Nisa hanya bisa menghembuskan napas berkali-kali. Sehari ini sudah lebih ada tiga orang yang datang dan menanyakan ketidakhadiran Vani di rumahnya.
"Sebenarnya kamu ambil berapa pintu sih, Van?" Salut saja dengan perjuangan Vani persis seperti mendiang ibunya.
Nisa memeriksa lagi keadaan Vani yang masih bersedih di dalam kamar. Setelah memastikan wanita itu baik-baik saja, gadis itupun pamit untuk menengok rumahnya sebentar.
"Nanti aku ke sini lagi, Van, kalau udah mandi," ucap Nisa. Gadis itu melangkah kearah keluar dan menyusuri jalanan setapak menuju rumahnya.
"Maaf, Mba, mau tanya? Rumah Mba Vani yang sebelah mana yah?"
"Hahhh ...?"
Lagi, sudah ke empat kali Nisa menghitungnya.
Wanita paruh baya berpenampilan rapi yang baru saja turun dari mobil itu nampak kebingungan. Sepertinya wanita itu bukanlah penduduk asli sini terlihat dari plat mobil yang terparkir di belakang sana.
"Maaf, Ibu dari mana ya?"
Setahu Nisa Vani tidak memiliki saudara jauh. Lalu siapa wanita ini? Apa majikan Vani dulu saat di kota?
__ADS_1