
Wanita itu sempat terjatuh. Namun tak lama bangkit dengan senyum yang mengembang sempurna.
"May ... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Faisal tak mengerti. Faisal menatap bingung Maya yang kini sudah berdiri tepat di depannya.
"Aku mau kamu lakukan sekarang, Mas," jawab Maya dengan seringai lebar. Wanita itu pun mendekat dan secara spontan melucuti pakaian bagian atasnya sendiri.
"Stop! Apa yang kamu lakukan? Jangan gila, May!" Faisal sudah gusar sendiri. Tapi Maya tetap tak peduli, wanita itu kini sudah menabrakkan tubuhnya pada Faisal.
"Ayolah, Mas. Apa yang kamu tunggu? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" tatap Maya penuh damba.
"Ta–pi nggak seperti ini, May. Aku nggak ingin menyentuhmu sebelum ada tali pernikahan di antara kita."
"Itu terlalu lama, Mas. Kenapa nggak sekarang aja kamu lakukan itu sama aku? Bukankah sama saja?!" desak wanita itu lagi. Maya pikir setelah ia melucuti pakaiannya sendiri Faisal akan langsung tergoda, tapi ternyata tidak. Laki-laki itu terlihat menghindar, bahkan tidak mau menatap kearahnya.
"Bukan seperti ini cara wanita terhormat, May. Kumohon mengertilah. Kamu hanya akan merendahkan harga dirimu sendiri."
Maya terlihat mengepalkan kedua tangannya. Penolakan Faisal bukan hanya menyakiti hatinya tapi juga secara langsung telah melukai harga dirinya sebagai wanita.
"Memang kenapa kalau aku merendahkan harga diriku sendiri, Mas? Toh sebentar lagi kamu juga akan jadi suamiku."
Perdebatan sengit terjadi cukup lama. Faisal tetap menolak godaan apapun yang Maya berikan. Sedangkan wanita itu sampai kehabisan akal untuk merayunya.
"Kamu bisa lakukan apapun sama aku, Mas. Tapi kenapa malah menolaknya?!"
"Aku tetap nggak bisa, May. Aku nggak bisa!"
Maya tidak ingin kehilangan kesempatan. Meskipun Faisal menolak ia tetap tidak akan melepasnya begitu saja.
"Maaf, Mas. Aku terpaksa lakukan ini. Jangan salahkan aku kalau sekarang aku yang akan paksa kamu."
Maya masih nekad memeluk tubuh telanjang Faisal dengan keadaan setengah tubuhnya yang juga polos. Wanita itu terus merapat meski berulangkali Faisal berusaha melepaskannya.
Tak sadar pintu depan sudah terbuka. Beberapa tetangga tengah memeriksa seluruh ruangan bawah. Tadi ada yang melapor kalau di rumah ini tengah ada yang berbuat mesum. Pelakunya tak lain adalah pemilik rumah sendiri dan kekasihnya.
Warga tak tinggal diam, mereka langsung mendatanginya dan ternyata rumah dalam keadaan tidak terkunci.
"Coba periksa lantai atas, Pak," usul salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Apa kita nggak apa-apa masuk rumah orang tanpa permisi dulu?" Ada yang sedikit tidak enak pasalnya mereka datang beramai-ramai.
"Alahhh udah, kita cuma mau mastiin aja kabar itu benar apa tidak."
Semua melangkah pelan menuju tangga. Satu persatu mulai meniti setiap anak tangga menuju lantai dua.
Dari sekian ruangan di lantai itu, hanya terlihat satu kamar yang pintunya terbuka. Salah satu warga melangkah hati-hati dan mengintip kearah dalam sana.
"Pak, lihat!" Semua serentak menuju kearah kamar itu. Pintu yang terbuka lebar menampilkan sebuah adegan yang sontak membuat semua mata terbelalak sempurna.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Teriakan salah satu warga membuat sepasang manusia di dalam sana gelagapan bukan main. Sang wanita tampak buru-buru mencari kain apapun guna menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka.
Sedangkan Faisal, laki-laki itu nampak bungkam dengan ekspresi wajah yang sangat frustasi.
"Beraninya kalian berbuat mesum di sini!" hardik salah satu warga.
"Benar-benar tidak punya malu!"
"Pak, saya bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kalian lihat." Saat tersadar Faisal langsung berusaha membela diri.
"May ...! Keterlaluan kamu!" hardik Faisal. Wajah laki-laki memerah menahan amarah.
"Sebaiknya kita apakan ini, Pak?" teriak salah satu warga.
"Arak aja ke kelurahan."
"Laporkan saja ke polisi."
Mendengar kata polisi Maya langsung menyambarnya cepat,
"Jangan, Pak. Saya nggak apa-apa. Kita selesaikan secara kekeluargaan aja," ucapnya memberi saran.
Semua diam dan saling pandang. Rasanya ada yang aneh dengan wanita ini. Tadi saja bilang di perkosa, tapi kenapa sekarang malah menolak saat para warga ingin membawa kasus tersebut ke kantor polisi?
"Tapi saya tidak melakukan apapun. Sungguh!" Faisal hampir putus asa. Semua orang menatap kearahnya dengan rasa jijik dan benci.
__ADS_1
"Kita bawa ke kantor kelurahan."
Akhirnya di putuskan, Faisal dan kekasihnya akan di bawa ke kantor kelurahan guna mencari solusi terbaik dalam masalah ini.
Maka di sinilah mereka. Duduk berdampingan dengan wajah saling menunduk. Di belakang mereka para warga yang tadi ikut serta dalam penggrebekan di rumah Faisal.
Faisal dan Maya saling meremas tangan masing-masing. Menunggu keputusan apa yang hendak di berikan para warga.
"Saya ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya." Faisal bersuara lagi. Kini tatapannya berubah benci pada wanita yang duduk di sebelahnya.
Sial, ternyata kamu licik May.
"Apalagi yang akan kamu jelaskan, hahh?!"
"Sa–ya juga ingin memberikan kesaksian." Suara Maya pun terdengar. Wanita itu takut-takut menatap wajah lelaki di sampingnya.
"Silahkan."
Dengan gampangnya ketua RT memberikan kesempatan lagi untuk Maya berbicara.
"Awalnya sa–ya hanya berkunjung. Tapi ...." Wanita itu melirik kearah Faisal lagi.
"Lalu apa, Mba? Katakan saja tak usah takut."
Semua menunggu jawaban Maya dengan tidak sabar.
"Lalu Mas Faisal menyeret saya dan hendak ... memperkosaku," ungkapnya dengan sangat lirih.
Semua tatapan benci kembali menghujami Faisal. Laki-laki itu tidak bisa berkutik apalagi membela diri lagi.
"Tapi, Pak saya ...."
"Cukup! Sekarang sudah jelas semuanya. Dan kita tidak bisa mentolerir perbuatan tidak senonoh itu!" ucap ketua RT dengan lantang.
Maya tersenyum penuh kemenangan. Walaupun ia harus sedikit merendahkan harga dirinya, tak masalah yang penting sebentar lagi tujuannya akan tercapai.
"Lalu mau kita apakan mereka, Pak?"
__ADS_1
Semua diam menunggu keputusan dari ketua RT.
"Mas Faisal harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahi wanita ini!"