
Karma tak semanis kurma, mungkin itu ungkapan yang cocok untuk menggambarkan kehidupan Maya saat ini. Bagaimana wanita itu harus bertahan dengan keterbatasan, serta kebencian yang semakin menjadi untuk keluarga Faisal.
Maya seolah tengah menuai apa yang telah ia tanam dulu. Ketika seluruh keluarganya menyerahkan tanggung jawab penuh pada Faisal, justru hidup Maya semakin menderita.
Pagi ini tubuh Maya mendadak lemas. Kepalanya pun terasa pusing hingga ia terpaksa tidak berbelanja di tukang sayur seperti biasa. Hal itu seolah menjadi kabar baik bagi lingkungan tempat tinggalnya, apalagi kedua mertua yang sudah lama menantikan kehadiran seorang cucu.
Bu Widia dan Luna langsung pergi menyambangi kediaman Faisal kala mendengar kabar itu. Mereka ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan Maya yang sebenarnya. Dan benar saja Maya terlihat pucat dan bahkan seperti tak punya tenaga sama sekali.
Luna dan Bu Widia akhirnya memaksa Maya untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit.
"Aku cuma masuk angin biasa, Bu. Aku nggak mungkin hamil," ucap Maya seraya memijit pelipisnya yang masih terasa berdenyut. Mana mungkin hamil sedangkan hubungannya dengan Faisal belum sampai tahap itu.
"Jangan bilang nggak mungkin, Mba, lebih baik kita periksa biar tahu lebih jelasnya gimana."
"Bener, May. Lebih baik kita cepat-cepat ke rumah sakit. Ibu nggak mau kalau sampai calon cucu ibu kenapa-kenapa." Bu Widia membenarkan ucapan Luna baru saja.
Maya memutar bola matanya malas. Ocehan dua wanita berbeda usia itu malah semakin membuatnya kesal. Apalagi tiba-tiba saja Luna menghubungi Faisal yang baru beberapa menit yang lalu pamit berangkat ke kantor.
"Gimana jawaban kakak kamu, Lun? "
Gadis itu mengedikkan bahu pelan. Luna sendiri juga heran dengan jawaban yang di berikan kakaknya. Faisal mengatakan jika Maya tak mungkin hamil. Padahal kemungkinan bisa saja, kan? Mengingat usia pernikahan mereka sudah menginjak bulan ketiga.
"Lebih baik kita langsung ke rumah sakit aja, Bu. Nggak usah nunggu Mas Faisal pulang."
Karena terus di paksa akhirnya Maya menurut saja. Biarkan saja mereka kecewa, toh ia sudah mengatakan berulang-ulang bahwa dirinya tak hamil.
Luna membawa sang ibu dan kakak iparnya ke sebuah rumah sakit yang cukup besar. Namun tanpa di sangka baru saja masuk lobby mereka di pertemukan dengan sosok wanita yang dulu pernah menjadi bagian dalam keluarganya.
Ya, Vani. Wanita yang beberapa tahun lalu pernah menikah dengan Faisal itu juga ada di sana. Entah apa yang di lakukan oleh Vani, tapi yang pasti Luna dan Maya terlihat memandang remeh kearahnya. Tak terkecuali dengan mantan ibu mertuanya yang tak tanggung-tanggung langsung menghadiahi Vani dengan ucapan yang buruk,
__ADS_1
"Duh kasihan yah, abis pisah dari Faisal langsung sakit-sakitan. Mungkin itu azab."
Ungkapan bernada sindiran itu memang di tujukan untuk Vani. Mungkin mereka menyangka jika Vani tengah menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut. Padahal kenyataannya bukan seperti itu.
"Ibu, Luna, apa kabar?" Meski sudah mendapatkan kata-kata tak enak dari mantan mertua dan adik iparnya, Vani tetap memasang senyum. Vani hanya masih menghargai mereka yang pernah menjadi bagian dari keluarganya.
"Lihat sendiri kami baik-baik saja. Dan, kamu perlu tahu kalau sebentar lagi Maya akan punya anak dari Faisal."
Bu Widia dengan percaya dirinya mengabarkan itu pada Vani. Padahal kenyataannya mereka baru mau memeriksakan keadaan Maya yang sesungguhnya.
Lain halnya dengan Maya yang langsung berwajah merah. Apalagi tatapan menyelidik Vani yang langsung mengarah padanya, seolah mempertanyakan kebenaran mengenai hal itu.
"Selamat ya, Bu. Akhirnya apa yang kalian inginkan terkabul." Kini malah Renan yang menyahut. Laki-laki yang sejak tadi hanya mengamati interaksi mereka dengan sang istri terpaksa membuka suara. Meski Renan sendiri masih ragu mendengarnya.
"Maya sama kamu itu beda, Van. Dari keluarga serta pendidikan aja udah beda jauh kok. Dan, Maya juga nggak mandul kayak kamu."
Tiba-tiba ungkapan menyakitkan keluar dari mulut Bu Widia. Sebagai suami dari Vani tentunya Renan merasa tersinggung mendengar istrinya di perlakukan seperti itu.
"Oh, ternyata kalian udah nikah ya? Nggak nyangka peselingkuh menikah dengan penghianat."
Renan semakin mengepalkan kedua tangannya, beruntung Vani segera bisa menenangkan emosi suaminya lewat usapan lembut pada punggung lelaki itu.
"Kalau Ibu menuduh istri saya mandul itu fitnah, Bu. Lihat, kami baru saja mendengar kabar baik dari dokter yang memeriksa Vani." Memperlihatkan hasil pemeriksaan yang sejak tadi sengaja di sembunyikan oleh Vani.
"Mas ..."
Vani menggeleng pelan, tapi tatapan Renan seolah memintanya agar diam dan memperhatikan saja apa yang akan dirinya perbuat pada mantan mertua Vani itu.
Bu Widia langsung meraih lembaran kertas berwarna putih tadi, dan matanya langsung membelalak sempurna kala melihat hasil pemeriksaaan tersebut. Bukan hanya itu, di sana juga tertulis jika usia kandungan Vani saat ini baru menginjak usia tiga minggu. Itu artinya ...
__ADS_1
"Vani nggak mandul, Bu." Renan menyadarkan perempuan itu dadi keterkejutannya.
"Nggak, ini pasti salah. Mungkin ini tertukar dengan milik pasien lain." Padahal jelas di situ tertulis atas nama Vania Aurora, tapi Bu Widia tetap saja ingin menyangkal.
Tak hanya Bu Widia, Luna pun ikut terkejut mendengarnya. Berbagai macam pertanyaan timbul dalam benak ibu dan anak itu. Jika memang Vani tidak mandul, kenapa pernikahannya dengan Faisal tidak memiliki anak? Padahal usia pernikahan mereka dulu hampir menginjak tiga tahun.
Sedangkan Maya tak merasa terkejut sama sekali. Sebab Maya memang sudah tahu keadaan Faisal yang sebenarnya.
"Ah, udah, lebih baik kita cepetan bawa Mba Maya periksa aja, Bu. Aku udah nggak sabar pengen lihat hasilnya."
Merasa suasana tak lagi kondusif, Luna segera mengajak sang ibu dan kakak iparnya untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Tinggallah Vani dan Renan menatap kepergian mereka dengan senyum penuh kemenangan.
Maya bilang juga apa, kalau dirinya tidak mungkin hamil. Terbukti setelah dokter menjelaskan jika wanita itu hanya masuk angin biasa wajah Bu Widia serta Luna langsung di tekuk masam
Mereka keluar dari ruang pemeriksaan dengan langkah gontai. Padahal Bu Widia sudah sempat memamerkan pada teman-temannya bahwa menantunya yang sekarang tengah hamil muda. Bagaimana ini?
"Kenapa kamu nggak hamil sih, May? Bikin ibu malu aja," celetuk perempuan yang berstatus ibu mertuanya itu.
Maya yang sudah merasa lebih baik langsung menghentikan langkah, tak menyangka akan mendengar ungkapan itu dari sang ibu,
"Kenapa Ibu jadi salahin aku?" Tentu saja Maya tak terima. Dia bukan Vani yang rela di jadikan kambing hitam demi menutupi aib Faisal dulu.
"Lalu ibu harus salahin siapa, Luna?" sungut Bu Widia. Perempuan itu melangkah paling depan meninggalkan Maya dan Luna.
Sementara Maya tetap bersikap santai. Entahlah dengan gadis di sebelahnya yang sejak tadi memilih bungkam.
"Ibu jangan bisanya salahin orang terus dong. Tapi, tanya aja ke anak kesayangan Ibu kenapa sampai sekarang aku nggak hamil juga."
__ADS_1
Bu Widia langsung menghentikan langkah, begitupun Maya dan Luna yang terpaksa ikut berhenti di belakangnya. Bukannya bertanya langsung pada Faisal seperti saran menantunya tadi, Bu Widia justru menyerang Maya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan,
"May, apa jangan-jangan kamu mandul?"