
"Kamu nggak apa-apa kan, Van?" Renan menatap Vani yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Seolah ada gurat kesedihan yang terpancar dari wajah wanita itu. Meski selama ini keduanya belum terlalu dekat, tapi Renan tahu jika ada sesuatu yang saat ini tengah Vani sembunyikan.
"Saya nggak apa-apa, Pak." Meski begitu air mata yang tiba-tiba luruh tidak bisa menyembunyikan kebenaran yang coba Vani sembunyikan dari laki-laki di sebelahnya.
"Kamu nangis, Van? Kamu nangisin suami yang nggak berguna itu?!"
Rasanya Renan emosi sekali setiap kali melihat Vani seperti ini. Beberapa hari yang lalu ia juga pernah melihat Vani menangis sendirian saat tak sengaja melintas di depan kamar yang Vani tempati. Tapi saat itu Renan masih bisa berusaha menahan diri untuk tidak terlalu ikut campur dalam masalah Vani.
"Maaf, Pak, tadi saya hanya ....?" Suara Vani tercekat. Meski tadi Vani berjanji tidak akan lemah lagi, tapi sebagai wanita ia sangat terluka sekali mengetahui penghianatan suaminya.
"Lepasin dia, Van. Kamu berhak bahagia!"
Toh, ia akan senang hati menerima Vani jika nanti wanita itu benar-benar bercerai dengan suaminya.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan mempertahankan suami seperti dia. Lepaskan dia, Van. Lalu menikahlah denganku!" ungkap Renan tiba-tiba, hingga membuat wanita yang berada di sebelah sana langsung mengalihkan tatapannya pada Renan.
"Pak ..."
"Untuk apa kamu bertahan dengan lelaki seperti itu, Van? Bahkan aku bisa memberi apa yang tidak bisa laki-laki itu berikan padamu!" ungkap Renan lagi.
"Pak Ren bilang apa tadi, aku, kamu? Sejak kapan panggilan itu berubah?" Vani hanya bisa membatin sendiri.
Renan sengaja menghentikan mobilnya beberapa meter sebelum sampai di depan gerbang rumah miliknya.
"Maksud Pak Ren apa? Jika ini mengenai uang, saya rasa tidak perlu. Saya sudah terbiasa hidup seperti ini." Vani hanya bisa menunduk, meremas jemarinya sendiri.
Entah serius atau hanya tidak, Vani tidak ingin terlalu berharap pada lelaki di sebelahnya. Meski benih cinta itu sudah lama tumbuh dalam hati Vani.
"Jangan naif, Van. Kamu wanita normal, kan? Aku tahu kamu juga membutuhkannya." Ucapan Renan seketika membuat Vani mendongak, Vani menatap pada wajah laki-laki di sebelahnya dengan wajah merah padam.
"Pak Ren ..."
"Suami kamu imp0ten, kan, Van? Dia juga nggak bisa kasih kamu apa-apa?!" Renan semakin memperjelas ucapannya. Ia tidak peduli jika nanti Vani akan membencinya karena di anggap membuka aib suaminya di depan matanya sendiri.
__ADS_1
"Ba–bagaimana bisa Pak Ren tahu? Apa Bapak sengaja memata-matai saya?!" Ingin rasanya Vani tenggelam ke dasar bumi. Malu, tentu saja iya saat ada orang lain yang mengetahui aib rumah tangganya.
"Van ...!"
"Saya turun di sini aja, Pak. Makasih udah di jemput." Vani buru-buru membuka pintu mobil, dan bergerak cepat sebelum rasa malu itu semakin menguasainya.
Sementara Renan masih terpaku menatap kepergian Vani yang melangkah masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu menyesal karena tidak bisa menahan diri. Seandainya tadi ia bisa menahan sedikit saja, mungkin Vani tidak akan marah dan meninggalkannya begitu saja.
.
.
.
Nyatanya Vani bukan hanya marah, tapi mendiamkannya sampai berhari-hari. Wanita itu masih tetap bekerja seperti biasa, tapi jika Renan sampai di rumah dan berusaha menemui Vani, wanita itu sudah pulang hingga semakin membuat Renan merasa bersalah.
"Neng Vani udah pulang dari satu jam yang lalu, Pak," ungkap Bik Minah yang kala itu Renan temui di dapur.
"Maaf, Pak. Saya buru-buru." Vani berusaha menerobos tubuh Renan yang sengaja berdiri menghalanginya.
"Kita perlu bicara, Van," ucap Renan pada wanita itu. Tapi Vani hanya menunduk dan enggan menatapnya sama sekali.
"Tolong Pak Ren minggir, saya mau pulang," tolak Vani sehalus mungkin. Ia hanya malu saja jika mengingat ucapan Renan saat di mobil waktu itu.
"Aku nggak akan pergi sebelum kamu kasih kesempatan aku untuk berbicara."
"Apa-apaan sih Pak Ren, kenapa malah sengaja halangin jalan aku?!" bisik Vani pelan. Ia cemas sendiri melihat Renan yang masih belum bergeser dari posisinya tadi.
"Aku bingung, Van, kenapa sikapmu tiba-tiba berubah seperti ini? Apa kamu masih marah karena masalah kemarin?"
Vani hanya menggeleng pelan.
"Maaf, Van, jika sikapku kemarin keterlaluan. Tapi, apa yang aku ucapkan kemarin benar-benar serius. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu."
__ADS_1
Vani langsung membisu mendengarnya. Ia mengingat kembali pertemuannya dengan Renan. Kalau tidak salah saat Bik Minah meminta Vani menggantikan tugasnya pagi itu.
"Saya ..." Vani bingung sendiri mau menjawabnya. Jujur saja saat itu juga Vani sempat berdebar saat bertemu Renan untuk pertama kalinya.
Tapi, apa Vani juga harus berterus terang? Tidak! Terlalu banyak perbedaan antara ia dan Renan.
Kamu, adalah ketidakmungkinan bagiku.
Vani terus bungkam hingga Renan terpaksa melangkah mendekatinya.
"Pak Ren ... mau apa?!"
"Van, apa perasaanku ini salah?"
"Stop, Pak! Jangan mendekat!"
Grep!
Renan tiba-tiba mencekal pergelangan tangan Vani dan menariknya, hingga tubuh wanita itu jatuh ke dalam pelukan Renan.
"Aku menyukaimu, Van. Tolong jangan pernah menghindar lagi."
Vani dapat mendengar deru napas laki-laki itu yang masih naik turun. Bahkan bisikan Renan terdengar amat syahdu di telinganya. Tubuh Vani membeku menerima perlakuan Renan. Meski dalam hati Vani terus memaki dirinya sendiri, mengatakan betapa naifnya ia selama ini.
Ingin rasanya Vani menolak, tapi jantungnya malah berdebar semakin kencang, seolah menerima semua yang Renan lakukan padanya. Sudah lama sekali Vani menginginkan ini, perlakuan lembut yang jarang sekali Vani dapatkan dari suaminya.
"Pak ..."
"Kumohon ... biarkan seperti ini sebentar saja, Van."
"Saya wanita bersuami, Pak. Apa pantas kita seperti ini?" tanya Vani pada laki-laki itu.
"Aku nggak peduli, Van. Bahkan kalau perlu aku akan merebutmu dari laki-laki itu!"
__ADS_1