
Renan tidak pernah menyangka jika Vania, pembantu di rumahnya ternyata berwajah cantik. Kulitnya yang putih bersih, serta pakaiannya yang tertutup oleh gamis panjang yang ia lihat tadi semakin menambah kecantikannya.
Renan langsung terpaku mengagumi ciptakan Tuhan yang nyaris sempurna itu. Bahkan mungkin mengira, Vani adalah bidadari yang sengaja Tuhan kirimkan untuknya.
Tapi, detik selanjutnya Renan tersentak sendiri, ketika baru sadar jika ada yang berbeda dengan dirinya. Renan merasa mulai tertarik lagi akan wanita.
Ya Tuhan ... maaf, mungkin aku salah.
Tak seharusnya secepat ini aku merasakannya.
Kania, maafkan aku.
Renan berbisik pelan, menyebut Sang Maha Pemilik segalanya, sekaligus teringat akan mendiang istrinya yang telah lama berpulang ke pangkuannya. Ya, ia salah karena malah mengagumi wanita bersuami. Sedangkan di luar sana banyak wanita-wanita, bahkan gadis-gadis cantik yang sengaja menawarkan hatinya untuk di jadikan pendamping hidup. Tapi, semua ia tolak dengan berbagai alasan.
"Maaf, aku belum punya pikiran untuk mencari pengganti istriku!" Itulah salah satu yang Renan gunakan untuk membungkam siapa saja yang mendekatinya.
Tapi, saat melihat Vani, rasanya ia tidak bisa menolak pesona wanita itu.
Hari ini pertama kalinya Renan melihat Vani setelah dua bulan lamanya bekerja di rumah. Renan pikir pekerja yang di ceritakan Bik Minah waktu itu seumuran dengannya. Ternyata salah, dia masih muda. Bahkan yang ia lihat Vani tak hanya berparas ayu, tapi kepandaiannya memasak juga membuatnya terkagum.
Renan menatap bingung pada menu sarapan paginya. Karena ini pertama kalinya ia di layani oleh Vani. Jika biasanya Bik Minah akan menyiapkan menu yang ringan seperti segelas susu dan sepotong roti, kali ini Renan melihat sepiring nasi goreng lengkap sudah siap di atas meja makan.
Awalnya Renan sedikit ragu saat ingin menyantapnya. Tapi, karena ingin menghargai jerih payah Vani yang rela datang pagi-pagi demi menggantikan tugas Bik Minah, ia paksakan untuk mencicipinya.
Renan mulai mengambil sendok dan menyuapkan kearah mulut dengan ragu.
"Enak." Satu kata yang reflek keluar dari bibirnya. Renan melirik sekilas kearah Vani, ternyata dia tersenyum puas di depan sana. Tanpa sadar tangan laki-laki itu terus menyendok nasi goreng buatan Vani hingga tandas tak tersisa.
Pagi ini Renan mulai mengawali harinya, hari yang tak biasa dengan menu sarapan sepiring nasi goreng buatan Vani. Sungguh mampu mengubah kebiasaannya selama ini.
Renan berangkat ke rumah sakit tepat saat jam di pergelangan tangan menunjuk angka delapan. Seperti biasa mobil sudah terparkir di depan sana, pak satpam yang menyiapkan. Sedangkan Renan ... akhhh ... pandangannya malah menyapu sekeliling, mencari keberadaan wanita itu.
__ADS_1
"Vani, di mana dia?" Karena tadi Renan melihatnya keluar rumah sembari membawa sapu setelah menemaninya menghabiskan sarapan pagi.
"Mobilnya sudah siap, Pak!" Renan tersadar dari lamunannya saat suara satpam terdengar. Ia buru-buru masuk dan duduk di belakang kemudi. Renan berharap saat pulang nanti masih bisa melihatnya, melihat senyum indah wanita itu walau sebentar saja.
"Aku harus pulang cepat," bisik Renan dalam hati. Laki-laki melajukan mobilnya dengan perasaan gembira.
Sampai waktu pulang tiba, Renan sudah tidak sabar lagi untuk memacu kendaraannya pulang ke rumah.
"Perasaan apa ini!" Renan memaki dirinya sendiri. Sepanjang perjalanan pulang Renan terus mengembangkan senyumnya.
Dan benar, saat tiba di depan gerbang rumah, Vani masih berdiri di sana. Ternyata wanita itu tengah menunggu angkutan umum dengan wajah sedikit cemas. Renan paham karena jam-jam seperti ini memang sudah jarang sekali yang lewat, bahkan mungkin tidak ada.
"Kesempatan," bisik Renan dalam hati.
"Maaf, jika aku sedikit jahat karena memanfaatkan kesempatan ini." Renan putuskan untuk turun, dan ternyata Vani tengah melamun.
"Bagaimana kalau saya antar pulang?" tawarnya pada Vani. Cukup lama Vani terdiam, Renan pun berusaha menunggunya. Mungkin saja Vani masih menimang tawarannya tadi.
"Tentu saja tidak!" Renan menjawab cepat, tapi hanya berani menjawab dalam hati. Renan tidak mungkin mengatakannya secara terang-terangan.
"Tidak!" Renan tersenyum membalasnya.
"Gimana, Van? Mau saya antar?" Renan kembali bersuara saat melihat keraguan di wajah Vani. Wanita itu mengangguk. Sedangkan Renan senang sekali. Merasa hari ini adalah keberuntungan tengah berpihak padanya.
Tuhan ... terimakasih untuk hari indah ini yang mungkin tak akan aku lupakan, Renan berbisik kecil sembari membukakan pintu mobil untuk Vani.
Jujur saja sebenarnya Renan merasa gerogi bukan main. Apalagi saat menangkap sikap Vani yang terlihat canggung.
"Apa tawaranku ini salah?" tanya Renan pada diri sendiri.
Mereka hanya diam. Vani terus menunduk. Sementara, Renan masih berusaha mencuri pandang wajah cantik Vani lewat ekor matanya. Memilih mengaguminya dalam diam, itu lebih baik. Karena apa? Renan sadar sekali siapa Vani. Dia wanita bersuami yang tak pantas ia sukai, apalagi berharap untuk memilikinya.
__ADS_1
Sampai akhirnya mobil yang Renan kendarai berhenti di alamat yang di beritahukan Vani. Kompleks perumahan yang cukup mewah. Namun, mendadak Renan di buat bingung, kenapa Vani tinggal di sini, di perumahan mewah, tapi mau bekerja menjadi seorang pembantu?
"Makasih, Pak." Renan baru tersadar saat Vani bersuara. Ternyata wanita itu sudah tidak ada di sampingnya. Turun dan menutup pintu saat Renan tengah melamun tadi.
"Hati-hati."
Selanjutnya Vani memutar tubuh dan melangkah memasuki gerbang komplek. Sedangkan Renan sendiri masih setia menatapnya dari kejauhan, menatap punggung wanita itu yang perlahan menghilang di ujung sana.
Renan memacu mobilnya cepat meninggalkan kompleks perumahan milik Vani. Dalam perjalanan ia terus berharap agar dapat terus merasakan moment seperti ini lagi. Rasanya bahagia saja meski hanya bisa mengantarnya.
"Ah, perasaan apa ini? Sungguh gila memang."
Setelah membersihkan diri, seperti biasa Renan mengambil benda pipih itu guna mengecek kondisi rumah sakit.
"Aman!" Karena tidak ada panggilan ataupun notif yang memintanya datang secara mendadak.
Laki-laki itu merebahkan tubuhnya keatas ranjang dan mulai memejamkan mata. Tapi, sekelebat bayangan wajah Vani tiba-tiba datang. Wanita itu seolah tersenyum kearahnya. Padahal yang sebenarnya, entahlah, mungkin saat ini Vani tengah menghabiskan waktu bersama suaminya.
Pikiran nakalnya mulai melayang, membayangkan Vani yang tengah bersama suaminya di sana.
"Kenapa rasanya sesak begini?!"
Renan mengusap wajahnya beberapa kali. Hingga jam dinding kamar menunjuk angka tiga pagi, ia belum sama sekali bisa memejamkan mata barang sedetik saja.
"Sialan!" Ia mengumpat sendiri. Merutuki kebodohannya yang terus saja memikirkan Vani.
"Apa aku benar-benar menyukainya?"
Renan bangkit dan membawa langkahnya ke kamar mandi. Mengguyur seluruh tubuhnya dengan air yang memancar dari shower. Semoga bayangan Vani akan ikut pergi dan menghilang dari pikirannya. Nyatanya, saat ia keluar dari kamar mandi dan berusaha memejamkan mata lagi, bayangan wajah wanita itu masih menari-nari jelas di pelupuk mata.
Renan hanya berharap malam cepat berganti dengan pagi. Agar ia secepatnya bisa melihat wajahnya. Wajah Vani yang terus saja membayanginya malam ini. Hingga tersiksa tanpa daya.
__ADS_1
Setelah semalaman tersiksa sendiri dengan bayangan wajah Vani, ia pun merasa lelah. Matanya kian berat. Saat pagi menyapa, barulah Renan bisa memejamkan mata. Detik selanjutnya tidak tahu lagi, karena ia sudah terlelap di buai mimpi.