Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Pernikahan ReVan(Renan-Vani)


__ADS_3

Seminggu setelah pertemuan Renan dan Vani, keluarga Pak Heri kembali ke kota guna mengurus semua keperluan pernikahan. Mereka tidak lagi menggunakan acara lamaran lebih dahulu, tapi langsung saja pada acara pernikahan.


Itu semua Renan yang kekeuh memintanya. Laki-laki itu sudah tidak mau mengulur waktu lagi untuk menikahi wanita pujaannya.


"Sabar, Ren. Berkas-berkas juga lagi di urus. Persiapan pesta pun begitu. Emangnya kamu ndak kasihan sama pihak calon istrimu yang juga tengah mempersiapkan semua secara mendadak?"


Lagi-lagi Bu Aida harus menghadapi ketidaksabaran anaknya yang terus menagih kapan persiapan itu akan selesai.


"Renan akan mengirimkan orang ke kampung Vani buat bantu-bantu di sana." Laki-laki bahkan berani membayar orang agar pernikahan itu segera siap.


"Ibu tahu kamu punya uang. Mungkin kalau masalah makeup, catering, dan semua peralatan pesta bisa di percepat. Tapi ini masalah surat-surat yang harus di urus lebih dulu. Itu butuh waktu, Ren. Nggak bisa kayak iklan ngomong langsung jadi."


Bu Aida mendengus kesal melihat jiwa lelaki itu yang berkobar kembali. Senang sih, artinya Renan sudah benar-benar move on dari Kania. Tapi tidak harus begini juga kali?


"Terus kapan dong, Bu? Ini udah seminggu sejak kita ke kampung Vani. Masa belum jadi juga berkas-berkas itu?"


Renan terlihat frustasi. Takut apa yang sudah ada di depan mata kembali lenyap dan ia akan menyesal lagi.


"Percaya sama ibu, Ren. Apa yang udah Tuhan takdirkan buat kamu, akan tetap menjadi milikmu walaupun sebesar apapun rintangannya."


Renan pun akhirnya diam. Mencoba bersabar meski hatinya terus berontak berkali-kali. Bagaimana kalau mantan suami Vani meminta rujuk lagi? Bagaimana kalau di kampung ternyata ada yang menyukai Vani? Bagaimana ... akhhh ...!


Rasanya kesal saja membayangkan itu semua. Renan hanya berharap semua akan baik-baik saja sampai tiba waktunya ia akan menikahi wanita itu.


.


.


.


Menunggu memang menyebalkan, itu juga yang di rasakan Vani. Baru seminggu Renan meninggalkan kampung halamannya, rasa rindu itu sudah kembali melanda. Padahal setiap hari mereka bertukar kabar. Menanyakan keadaan masing-masing meski hanya basa basi belaka, karena tujuan mereka cuma satu ... yaitu rindu.


[Pokoknya kamu nggak usah kerja lagi, Van. Aku nggak mau kamu capek. Aku juga nggak mau nanti ada yang naksir kamu lagi,] ucap Renan dari seberang telepon. Vani hanya terkekeh pelan mendengar larangan Renan setiap kali menghubunginya.


[Iya. Aku udah nggak kerja lagi, kok. Sejak kamu minta aku keluar dari pekerjaan, ya ... aku langsung pamitan sama pelanggan-pelangganku.]


Renan bernapas lega. Tapi tetap saja masih belum tenang sebelum Vani benar-benar sah menjadi istrinya.


[Nisa temenin kamu, kan? Bilang sama dia suruh nginep tiap hari aja. Aku nggak mau kamu sendirian di rumah.]


[Iya, Sayang. Kamu khawatir banget sih?] Vani sengaja melembutkan suara. Tak lupa panggilan sayang juga ia sematkan untuk Renan. Di seberang sana Renan kelimpungan sendiri mendengar pertama kalinya Vani memanggilnya sayang.


[Jangan menggodaku, Van. Nanti kalau aku lupa diri gimana?] Dih, padahal Vani emang sengaja.

__ADS_1


Vani justru tergelak mendengarnya. Puas rasanya bisa mengerjai laki-laki itu.


[Awas kamu yah. Tunggu sampai aku benar-benar memilikimu. Huhhh!] ancamnya pada Vani.


[Pak Ren ngancam aku?!]


Vani justru semakin senang saat tahu Renan kesal.


[Aku nggak akan ngancem. Aku mau langsung kasih bukti aja ke kamu. Tunggu aja.]


Apa sih maksudnya?


[Coba aja kalau berani.]


Padahal Vani hanya berbisik lirih, tapi Renan tetap saja mendengarnya.


[Beneran kamu nantang aku, Van?!] Nadanya mulai serius.


[Eh, apa??] Vani membekap mulutnya sendiri.


[Tunggu saja sampai malam pertama kita. Aku pasti akan balas kamu!]


Wajah Vani langsung memerah. Tubuhnya juga mendadak meremang mendengar ancaman Renan.


Renan sampai memanggil Vani berulangkali saat suara wanita itu tiba-tiba menghilang.


[I–iya. Masih.]


[Kamu lagi nggak bayangin malam pertama kita, kan??] tanya Renan lagi.


[Astagaaa ...!!]


.


.


.


Akhirnya hari yang di tunggu pun tiba. Hari pernikahan Renan dan Vani yang sudah di persiapkan entah dari kapan hari.


Keluarga Renan sudah tiba di kampung Vani sejak petang tadi dan langsung menempati rumah Nisa. Karena rumah calon istrinya kini telah di sulap bak kerajaan mimpi yang akan melengkapi acara pernikahan mereka.


Jika kemarin Renan sempat tak sabar dan terus menunggu hari ini, kini laki-laki itu malah terlihat gugup sekali. Padahal ini bukan pertama kalinya pernikahan bagi Renan.

__ADS_1


Renan mondar-mandir tidak jelas. Membuat kedua orangtuanya sampai pusing melihat aksinya.


"Duduk, Ren. Kamu kenapa gerogi gitu. Bukannya kamu udah ndak sabar pengen cepat-cepat nikah?" tanya Pak Heri pada anak lelakinya.


"Duh. Kenapa Renan mendadak gugup gini ya, Pak? Renan cuma takut salah ucap di depan penghulu," jawab Renan jujur.


"Salah ucap gimana? Yang kamu cintai Vani, kan? Ndak ada wanita lain?" Tatapan Pak Heri berubah menyelidik. Awas aja kalau buat kekacauan. Apalagi sampai buat malu.


"Ya ndak lah, Pak. Cuma Vani yang aku cintai. Yang lain ndak ada."


Huhhh Pak Heri menghembuskan napas lega.


"Ya udah ndak usah gugup. Rileks aja, Ren. Bayangin pas nanti malam pertamanya aja." Pak Heri sengaja mencairkan suasana dengan menggoda Renan. Dan berhasil 'kan wajah laki-laki itu langsung memerah.


"Bapak apa-apaan sih malah bahas malam pertama?" sang istri mencubit pinggangnya kecil. Merenggut, bukan menenangkan malah semakin membuat Renan tambah gerogi.


"Maksud bapak kamu jangan gerogi. Nanti juga bakalan sampai malam pertamanya. Jadi, kamu bayangkan aja dulu."


Lah, malam pertama lagi yang di bahas, kan?


Renan mengiyakan saja. Sepanjang waktu menunggu ia hanya bisa merapalkan doa, semoga semua berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala apapun.


Sedangkan di sebelah sana, di rumah mempelai wanita. Vani juga sangat gugup. Tukang makeup yang tengah memperbaiki penampilannya harus berkali-kali mengusap keringat yang terus menetes dari kening wanita itu.


Vani tidak pernah membayangkan jika akhirnya pernikahannya dengan Faisal harus kandas, namun hari ini Tuhan menggantikan dengan sosok Renan yang hadir di kehidupannya.


Vani terus meyakinkan pada dirinya, jika semua yang terjadi adalah takdir. Seperti apa masa lalu pernikahannya dulu, akan Vani jadikan pelajaran yang berharga agar ia tidak sampai salah melangkah.


Satu jam kemudian.


Mempelai wanita sudah siap dengan gaun pengantin berwarna putih senada dengan mahkota yang menghiasi hijabnya.


Pak penghulu juga sudah datang, menunggu kedua calon mempelai keluar dari ruangannya masing-masing. Para tamu serta saksi pun sudah siap dan menunggu sejak tadi.


Kedua calon pengantin di sandingkan di depan penghulu. Mereka malah terlihat saling lirik dan melempar senyum. Bahkan tak menyadari saat bisikan para orang yang menghadiri pernikahan mulai terdengar.


"Gimana Mas Renan, sudah siap acaranya di mulai?" tanya Pak Penghulu untuk ke tiga kalinya. Pria berusia lebih dari setengah abad itu sampai mengehela napas berat saat tidak ada respon dari mempelai laki-laki.


"Ren, udah siap belum?" Pak Heri terpaksa menepuk bahu anak lelakinya sedikit keras. Membuyarkan lamunan Renan yang saat ini sudah entah sampai di mana.


"Eh, i–iya, Pak." Renan terlihat gugup. Apalagi melihat tatapan semua tamu yang mengarah padanya.


"Bagaimana, apa sudah siap akad nikahnya di mulai?" ulang penghulu tadi dengan sedikit kesal.

__ADS_1


__ADS_2